baca sebelumnya : Dari laki-laki yang menyembunyikanmu
Aku menyecap minuman yang sudah kamu pesankan sebelum aku datang, tanpa bertanya kamu sudah hapal. Aku menatapmu lekat, ternyata kita sudah saling mengenal sejauh ini, dan aku semakin sadar bahwa aku ingin memilikimu lebih dari ini. Tapi apa yang aku harapkan tidak bisa begitu saja aku lakukan, ada seseorang yang masih menungguku pulang, dan dia tidak bisa aku lepaskan begitu saja.
Aku terlihat bodoh dan egois sekarang, selalu memintamu datang ketika nanti aku sendirilah yang pulang. Aku selalu mengekangmu dalam persembunyian ini, yang tak pernah kamu keluhkan. Bagaimana kah perempuanku ini? Mengapa kamu tak memprotes sedikitpun tentang kita yang sekarang, mengapa kamu hanya mengikuti alur yang akan semakin menyakitimu. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku belum bisa mengeluarkanmu dari persembunyian ini.
Kamu kembali bertanya bagaimana hubunganku dengannya, apakah baik-baik saja atau ada pertengkaran lagi. Kenapa disela waktu kita, kamu selalu menanyakan itu. Padahal aku mati-matian menjaga perasaanmu meski kutau dengan kita yang sekarang itu sudah sangat menyakitimu dari akar hati, tapi aku berusaha tidak menambahnya lagi dengan menceritakan dia dihadapanmu, aku tidak ingin pertemuan kita menjadi asa yang tak bahagia. Aku ingat sekali sewaktu aku bercerita tentangnya dihadapanmu, mata yang selalu kulihat indah, tiba-tiba menyimpan gumpalan air yang coba kamu tahan dengan sekuat tenaga, kamu hanya menjawabnya dengan senyuman. Dan saat itu aku berjanji, aku tidak akan bercerita apapun tentangnya, aku tidak ingin airmata itu keluar dengan percuma, karena pada saat itu juga aku sakit melihatmu bersedih, aku luruh melihatmu lemah. Cukup, jangan menangis lagi.
Seperti biasanya, pertanyaanmu aku jawab dengan gelengan dan berujar "biasa". Padahal sewaktu di pekerjaan, yang menurutku sebenarnya hari ini tidak terlalu berat dan menyusahkan, dia membuat kekacauan, menghubungiku berpuluh kali lewat pesan whatsapp, dan juga telpon. Apakah aku tidak risih? Apakah dia tidak mengerti waktuku? Sedangkan dia sudah lebih lama denganku daripada kamu, tapi seakan kamu lebih mengerti tentangku daripada dia. Mengapa aku semakin membenci hubungan ini. Mengapa aku sudah muak dengannya yang selalu bersikap egois.
Aku mencintaimu, aku menyukai kekonyolanmu, aku menyukai suaramu, aku menyukai kecerewetanmu, dan aku menyukai sikap lembutmu saat aku sedang lelah. Seperti tadi, kamu merangkulku ketika aku bercerita tentang pekerjaanku, kamu berusaha meraihku dengan lenganmu yang kecil, betapa menggemaskan. Harapku semakin besar untuk bisa bersamamu, menunjukkan pada dunia bahwa aku bahagia memilikimu, tapi dengan orang terdekatpun aku tidak berani menceritakan tentangmu. Aku terlalu takut mereka mengataimu yang buruk-buruk, aku takut hubungan tidak jelas kita disalahkan. Aku tidak mau itu terjadi. Aku hanya ingin membuatmu nyaman tanpa ada yang mengusik kita.
Maafkan aku, Sayang. Harapku sama denganmu. Menjadi satu adalah impian kita, namun ada dia yang tidak bisa kulepas begitu saja.
Dari laki-laki yang selalu mencintaimu dalam persembunyian
Aku menyecap minuman yang sudah kamu pesankan sebelum aku datang, tanpa bertanya kamu sudah hapal. Aku menatapmu lekat, ternyata kita sudah saling mengenal sejauh ini, dan aku semakin sadar bahwa aku ingin memilikimu lebih dari ini. Tapi apa yang aku harapkan tidak bisa begitu saja aku lakukan, ada seseorang yang masih menungguku pulang, dan dia tidak bisa aku lepaskan begitu saja.
Aku terlihat bodoh dan egois sekarang, selalu memintamu datang ketika nanti aku sendirilah yang pulang. Aku selalu mengekangmu dalam persembunyian ini, yang tak pernah kamu keluhkan. Bagaimana kah perempuanku ini? Mengapa kamu tak memprotes sedikitpun tentang kita yang sekarang, mengapa kamu hanya mengikuti alur yang akan semakin menyakitimu. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku belum bisa mengeluarkanmu dari persembunyian ini.
Kamu kembali bertanya bagaimana hubunganku dengannya, apakah baik-baik saja atau ada pertengkaran lagi. Kenapa disela waktu kita, kamu selalu menanyakan itu. Padahal aku mati-matian menjaga perasaanmu meski kutau dengan kita yang sekarang itu sudah sangat menyakitimu dari akar hati, tapi aku berusaha tidak menambahnya lagi dengan menceritakan dia dihadapanmu, aku tidak ingin pertemuan kita menjadi asa yang tak bahagia. Aku ingat sekali sewaktu aku bercerita tentangnya dihadapanmu, mata yang selalu kulihat indah, tiba-tiba menyimpan gumpalan air yang coba kamu tahan dengan sekuat tenaga, kamu hanya menjawabnya dengan senyuman. Dan saat itu aku berjanji, aku tidak akan bercerita apapun tentangnya, aku tidak ingin airmata itu keluar dengan percuma, karena pada saat itu juga aku sakit melihatmu bersedih, aku luruh melihatmu lemah. Cukup, jangan menangis lagi.
Seperti biasanya, pertanyaanmu aku jawab dengan gelengan dan berujar "biasa". Padahal sewaktu di pekerjaan, yang menurutku sebenarnya hari ini tidak terlalu berat dan menyusahkan, dia membuat kekacauan, menghubungiku berpuluh kali lewat pesan whatsapp, dan juga telpon. Apakah aku tidak risih? Apakah dia tidak mengerti waktuku? Sedangkan dia sudah lebih lama denganku daripada kamu, tapi seakan kamu lebih mengerti tentangku daripada dia. Mengapa aku semakin membenci hubungan ini. Mengapa aku sudah muak dengannya yang selalu bersikap egois.
Aku mencintaimu, aku menyukai kekonyolanmu, aku menyukai suaramu, aku menyukai kecerewetanmu, dan aku menyukai sikap lembutmu saat aku sedang lelah. Seperti tadi, kamu merangkulku ketika aku bercerita tentang pekerjaanku, kamu berusaha meraihku dengan lenganmu yang kecil, betapa menggemaskan. Harapku semakin besar untuk bisa bersamamu, menunjukkan pada dunia bahwa aku bahagia memilikimu, tapi dengan orang terdekatpun aku tidak berani menceritakan tentangmu. Aku terlalu takut mereka mengataimu yang buruk-buruk, aku takut hubungan tidak jelas kita disalahkan. Aku tidak mau itu terjadi. Aku hanya ingin membuatmu nyaman tanpa ada yang mengusik kita.
Maafkan aku, Sayang. Harapku sama denganmu. Menjadi satu adalah impian kita, namun ada dia yang tidak bisa kulepas begitu saja.
Dari laki-laki yang selalu mencintaimu dalam persembunyian
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu