Langsung ke konten utama

Dari perempuan dalam persembunyianmu, yang ingin dikenal khalayak

baca sebelumnya : Dari perempuan dalam persembunyianmu

Mataku mengedar, menyaksikan betapa ramainya tempat ini. Sudah menjadi rutinitasku, tentunya denganmu di cafe ini, sekedar saling bertukar pikiran dan melepas rindu yang setiap hari semakin meracuni dan tidak tau diri. Senyumku mengembang tiap kali langkahmu hadir untuk menguarkan rindu yang sedari tadi membuatku gelisah.

Tempat ini seperti saksi bagaimana aku yang masih malu dan pendiam, sedangkan kamu yang berusaha mengungkapkan perasaan. Tempat ini pula yang memberiku kenyataan bahwa kamu telah dimiliki oleh orang lain, dan bodohnya aku mengapa tidak berhenti sejak saat itu. Aku memilih menguarkan rindu daripada menyuruhmu pulang karena dia telah menunggu. Di tempat ini juga kamu mengerti bagaimana sesungguhnya aku, yang akan takut kehilangan ketika sudah nyaman. Dan seperti kamu sengaja, kamu melakukan itu padaku. Kamu membuatku menjatuhkan hati tanpa tau tempat. Sulit dibayangkan bagaimana aku bisa seperti ini, mengabaikan perasaan perempuan lain hanya untuk mencintaimu, dan memintamu menetap.

Senyummu mengembang, kamu terlihat letih hari ini. Kutau pekerjaan telah menguras energimu, ingin kupeluk agar rasa lelahmu itu terbagi denganku, yang nyatanya aku pun juga lelah karena pekerjaanku sendiri. Matamu mengedar kearah pelayan, kamu hendak memesan, tapi kucegah dengan meraih tanganmu, aku menggeleng tanda bahwa aku sudah memesan. Tanpa bertanya lagi, aku sudah hapal apa yang kamu suka, dan apa yang tidak kamu suka. Apakah kekasihmu juga begitu? Ah, harusnya aku tidak bertanya seperti itu. Aku baru hadir dihidupmu, sedangkan dia jauh lama hadirnya dariku. Sudah bisa dipastikan dia lebih tau tentangmu, bahkan dia juga bisa mengatur hidupmu.

Sebagai perempuan yang kamu sembunyikan, selalu ada batas untukku mengenai hidupmu. Ada ruang tersendiri, dan aku disana. Tanpa dikenal khalayak, aku berdiam diri menunggumu datang, dan tidak bisa memprotes jika kamu pulang. Aku hanya tempatmu bersinggah, tak pantas untuk menyanggah. Apakah ini akan berkelanjutan? Apakah selamanya aku tidak mempunyai hak sepenuhnya untuk bersamamu? Apakah aku terus berada diruang sempit ini?

Sekarang kamu mulai bercerita aktivitasmu yang melelahkan, bagaimana pekerjaan yang berat dan tidak sesuai porsinya. Pekerjaan yang tidak sebanding dengan hasilnya. Aku tidak bisa menahan diri, kurangkul meski tanganku tak bisa melingkar sempurna ke lenganmu, menghantarkan rasa hangat untuk menenangkanmu. Alasanku sebenarnya bukan hanya itu, aku juga ingin menguar rindu yang menyesakkan dada ketika menerima kenyataan bahwa nanti kamu akan kembali pulang.

Kamu mengecup keningku dengan lembut, mengucapkan terima kasih bahwa aku sangat mengerti tentangmu dan selalu ada untukmu. Aku pun bingung mengapa aku memberikan waktuku untukmu sebanyak ini, yang mungkin akan berakhir sia-sia. Namun lagi-lagi aku terbuai saat kamu menyatakan perasaanmu, bagaimana semakin kesini, kamu semakin merasakan jatuh cinta lebih dalam.

Bagaimana mungkin kamu bisa mencintai dua orang sekaligus, Sayang?
Mendengarmu menyatakan perasaan, tak ayal semakin membuatku sulit melepaskanmu, takut kehilangan semakin membabi buta, dan membuatku tak urung semakin keterlaluan. Aku ingin menunjukkan pada dunia bahwa kamu mencintaiku, dan harusnya aku layak memilikimu. Tapi untuk mengatakannya pada orang terdekat saja, aku tak berani, nyaliku menciut dan akhirnya aku memilih kembali ke persembunyian yang kita buat.

Kita mulai menyecap minuman masing-masing, dan nanti jika minuman ini sudah tinggal ampas, cerita hari ini pun akan berakhir. Kamu akan pulang, dan kembali ke kekasihmu.

Dari perempuan dalam persembunyianmu, yang ingin dikenal khalayak.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...