Langsung ke konten utama

Seperti jejakmu yang sudah hangus

Karena yang pergi, tidak benar-benar hilang.
Seperti kamu, yang masih kupaksa hadir meski jarang.
Mungkinkah ketakutanmu masih berlebih?
Kutau kamu menerima kembaliku,
Tapi kamu memberi jarak yang bisa kurasakan.
Jujur, naluriku terluka. Tapi tak bisa kusalahkan.
Kamu hanya tidak mau perasaan itu muncul dihatimu lagi bukan?
Tapi sesungguhnya, ketakutan terbesarmu bukan lah hal itu, melainkan perasaanku yang akan kembali tumbuh karena kebersamaan kita.

Kau tau? Jejak langkahmu sudah hancur sejak dulu, berpuih sejalur dengan tanah kering yang tandus dan retak.
Kutangisi, kepergianmu yang tanpa berbalik.
Kuhanya ingin melihat wajahmu kala itu, meyakinkanku bahwa semua itu benar.
Tapi nyatanya salah.
Yang benar, kamu masih mencintaiku.
Untuk berbalik adalah tantangan terbesar yang berakibat menyakiti hatimu lagi jika tak kuat.
Aku tau. Aku salah.
Aku memintamu tetap menetap, padahal kamu sudah berusaha berlari.

Kedatanganmu untuk hari ini, masih menjadi pertanyaan.
Apakah kamu masih mencintaiku? Sama seperti dulu.
Atau, seperti jejakmu yang hangus, apakah begitu pula dengan rasamu?

Ku endikkan bahu. Menerka hanya membuatku sakit.
Sedang, saat berbincang denganmu ada kehangatan yang masih sama. Tapi ketika melihatmu, mata itu sangat dingin hingga menusuk dinding pertahananku.
Bisakah ku meluruh?
Ku tak pernah mengenalmu seperti ini.

Akan selalu kuingat.
Hanya ada satu permintaan yang terlontar darimu kala itu. Dan aku tidak berhasil mengabulkannya.
Aku gagal. Meski saat itu kamu masih mau menerimaku. Merangkulku penuh hangat tanpa rasa kebencian.
Sungguh kurindu itu, kurindu kamu yang selalu mencintaiku tanpa sebab, menerimaku tanpa menimang.

Monster Senja.
Hari ini aku menangis mengingatmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...