Karena yang pergi, tidak benar-benar hilang.
Seperti kamu, yang masih kupaksa hadir meski jarang.
Mungkinkah ketakutanmu masih berlebih?
Kutau kamu menerima kembaliku,
Tapi kamu memberi jarak yang bisa kurasakan.
Jujur, naluriku terluka. Tapi tak bisa kusalahkan.
Kamu hanya tidak mau perasaan itu muncul dihatimu lagi bukan?
Tapi sesungguhnya, ketakutan terbesarmu bukan lah hal itu, melainkan perasaanku yang akan kembali tumbuh karena kebersamaan kita.
Kau tau? Jejak langkahmu sudah hancur sejak dulu, berpuih sejalur dengan tanah kering yang tandus dan retak.
Kutangisi, kepergianmu yang tanpa berbalik.
Kuhanya ingin melihat wajahmu kala itu, meyakinkanku bahwa semua itu benar.
Tapi nyatanya salah.
Yang benar, kamu masih mencintaiku.
Untuk berbalik adalah tantangan terbesar yang berakibat menyakiti hatimu lagi jika tak kuat.
Aku tau. Aku salah.
Aku memintamu tetap menetap, padahal kamu sudah berusaha berlari.
Kedatanganmu untuk hari ini, masih menjadi pertanyaan.
Apakah kamu masih mencintaiku? Sama seperti dulu.
Atau, seperti jejakmu yang hangus, apakah begitu pula dengan rasamu?
Ku endikkan bahu. Menerka hanya membuatku sakit.
Sedang, saat berbincang denganmu ada kehangatan yang masih sama. Tapi ketika melihatmu, mata itu sangat dingin hingga menusuk dinding pertahananku.
Bisakah ku meluruh?
Ku tak pernah mengenalmu seperti ini.
Akan selalu kuingat.
Hanya ada satu permintaan yang terlontar darimu kala itu. Dan aku tidak berhasil mengabulkannya.
Aku gagal. Meski saat itu kamu masih mau menerimaku. Merangkulku penuh hangat tanpa rasa kebencian.
Sungguh kurindu itu, kurindu kamu yang selalu mencintaiku tanpa sebab, menerimaku tanpa menimang.
Monster Senja.
Hari ini aku menangis mengingatmu.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu