Langsung ke konten utama

Seperti Hembusan Angin yang Menjarah Duka

Angin berhembus dengan kencang, awan hitam mulai menginterupsi langit yang tadinya cerah. Suara bising "Ayo pulang, keburu ujan" tiba-tiba memenuhi ruangan. Gorden yang tadinya diam, menjadi banyak tingkah.
Laki-laki itu menatap keluar ruangan, tepatnya dipersimpangan tempatnya dulu menyuarakan perasaan. Mencuri pandang pada gadis bak rembulan di punggung bukit.
Seperti hembusan angin yang menjarah duka kala itu, dia kembali teringat senyumnya, matanya, dan pelukannya.
Sudah beberapa kali mencoba untuk lupa, tapi rasa jadi penjara, baginya.
Memutuskan untuk pergi, tanpa menengok sedikitpun sebenarnya bukan pilihan. Tapi sesuatu telah membuatnya mundur. Menghancurkan mimpi besarnya yang masih setengah perjalanan diraih.

Kemudian matanya mengerjap ketika seseorang yang ada dalam ingatannya sedang berhenti disana, dipersimpangan.
Pandangannya tertuju pada ruangan dimana laki-laki itu berada, dan dia segera sembunyi. Meski rindunya terus berbisik untuk menyuruh datang menghampiri gadis itu, tapi tak lupa bagaimana duka yang ditorehkannya.
Masihkah mau menerima? Masihkah mau kembali?
Sedang semuanya sudah dia akhiri sendiri.

Hujan turun dengan derasnya, kekhawatiran tak dapat ditampik. Gadis itu tak suka dingin, dan dulu dia selalu memeluknya sekedar menghangatkan. Sekarang?

Kembali matanya mengerjap ketika gadis itu berlari kearah rumah yang ada didekatnya untuk berteduh, dan dia? Tanpa disadari kakinya sudah melangkah, meraup jaket miliknya yang tergeletak di meja. Seluruh orang di ruangan bertanya akan kemanakah dia hujan-hujan seperti ini? Tak ada jawaban darinya, sedang kakinya terus melangkah pasti, dan iramanya semakin cepat saat menyusuri jalan yang diguyur hujan dan hembusan angin kencang.

Dilihat sekelilingnya, bukan hanya daun yang gugur, namun pohon pun tumbang. Angin saat itu sangat ganas, hingga membuatnya lupa dengan janjinya, mengenyampingkan egonya, hanya untuk melindungi seseorang yang masih spesial hingga kini.
Dia tidak bisa memungkiri, seberusaha apapun coba merelakan, rindu terus menguncinya pada kegamangan, yang hingga sekarang membuatnya jadi pengingkar.

Seseorang didepannya sedang tertunduk, dan berusaha menghangatkan tubuhnya sendiri. Pelukan mungkin hanya bisa diberikannya dahulu, ketika saling mengungkapkan rasa adalah hal biasa. Ingin rasanya memberikan pelukan itu lagi, tapi untuk mengungkapkan rasa saja adalah hal mustahil yang tak mungkin dia lakukan lagi.

Akan terlihat bodoh, menjadi penjilat ludah sendiri. Memutuskan untuk pergi adalah pilihannya, meski belum bisa merelakan, setidaknya gadis itu lah yang harus rela.

"Kenapa?"

Tanyanya pada gadis itu, kenapa disini? Kenapa memilih berhenti di persimpangan? Sedangkan jika terus berjalan, mungkin akan sampai rumah dengan selamat tanpa kehujanan.
Jaket yang dibawanya ditaruh ke pundak gadis itu dengan pelan.

"Kamu?"

Pandangannya meneduhkan, sudah lama tak memandangnya dengan sedekat ini. Matanya masih sendu seperti dulu, namun yang kuharapkan hadir tak kunjung datang, yaitu senyumnya.

"Apa yang kamu lakukan tadi di persimpangan?"

Melontarkan pertanyaan itu akan semakin menyakiti hatinya. Dia berharap gadis itu juga mengingat masa-masa dimana hujan tak berarti jika bersama, bahkan ketika dipersimpangan, tanpa tempat berteduh, dan tertawa dibawah rintiknya hujan yang semakin lama semakin deras.

"Hanya mengingat kembali yang pernah terjadi dulu."

Rasanya ingin tersenyum bahagia, tapi memori otaknya berhasil menyadarkan apa yang telah dipilih waktu itu.

Jarak telah menjauhkan raga yang diharap bersama, ruang cepat menyempit seiring detik yang terus berderit.
Pilihannya sewaktu dulu adalah suatu hal yang benar, mencuri masa tak dapat dilakukannya, dan memilih mundur adalah yang paling benar.

Dan sekarang untuk hadir kembali, suatu kebodohan.

"Baiklah, cepat pulang. Hujan mulai reda."

Tanpa menunggu ucapannya, laki-laki itu pergi menembus hujan yang sebenarnya belum reda. Membiarkan tubuhnya kembali basah, dan membiarkan perasaannya kembali ke penjara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...