Langsung ke konten utama

Ranting kering menanti hujan

Ketika hati menginginkannya. Namun apalah daya bila tak bisa memiliki raganya, namun hanya bisa memiliki bayangnya. Bayang yang tak bisa aku rangkul dan hanya diam melihatku. Apakah selama ini aku pun kau anggap seperti bayang? Yang samar-samar dimatamu, yang tak pernah kau tengok? Apa kau tak ingin berfikir kembali, ada hati disini yang menginginkan bayang itu berubah menjadi raga yang nyata, yang dapat kau lihat dan kau rangkul. Aku hanya ingin kau anggap ada didepanmu.

-
Rafidah hanya bisa memandang sosok yang selama ini sedang dia kagumi, sosok yang begitu tampan dan budi pekertinya yang baik. sosok itu yang selama ini mencuri perhatiannya, sosok itu bernama zaldi.
Tetapi rafidah tau keberadaannya tak pernah dianggap oleh zaldi, rafidah hanya dianggapnya sebagai teman biasa yang satu ekstra dengannya.
Tetapi semuanya berubah ketika zaldi mengetahui rafidah memiliki rasa dengannya, dia mulai menjauhi rafidah. Bukannya ingin menyakiti hati rafidah, namun zaldi hanya ingin rafidah melupakannya dan benci dengannya karena dia takut menyakiti hati rafidah ketika mengetahui bahwa zaldi sedang menyukai wanita lain.
Bukan zaldi saja yang menginginkan hal itu, rafidah pun juga ingin melakukannya. Namun rafidah tidak bisa pungkiri perasaannya, sangat sulit untuk melupakan sosok yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya walaupun hanya dengan melihatnya.

Suatu ketika rafidah melihat wanita yang selama ini disukai dan dekat dengan zaldi sedang berjalan mesra dengan laki-laki lain, rafidah berusaha meyakinkan zaldi bahwa yang dilihatnya itu benar-benar wanita yang selama ini dia suka tetapi apalah daya, buktipun tidak ada dan zaldipun tak percaya dengan omongannya sama sekali. Zaldi berfikiran bahwa rafidah hanya mengarang cerita dan akal-akalannya saja agar hubungan zaldi retak, dia tak percaya karena wanita yang selama ini dekat dengannya itu berbuat seperti itu, dia yakin apa yang dilihat rafidah hanya omong kosong saja. Rafidah mencoba menjelaskannya kembali, dia tak ingin ada wanita yang menyakiti hatinya, hati orang yang dikaguminya.

Rafidah begitu kecewa, dia menyesal harus mengagumi orang yang tak pernah percaya dengannya, orang yang menuduhnya berbohong. Dia begitu kecewa, kenapa harus dia yang melihatnya, kenapa bukan zaldi sendiri yang melihatnya Agar terbuka matanya bahwa ada wanita yang benar-benar serius menyayanginya dan tidak pernah ingin membuat hatinya sakit, bukan seperti wanita yang bersamanya sekarang. Rafidah takut ketika zaldi sudah mengetahui semuanya sendiri, namun rafidah sudah tak ada disampingnya, dan tak mau tahu tentangnya. Karena sebuah hati akan ada saatnya lelah menunggu.

Tetapi tiba-tiba zaldi datang menghampiri rafidah yang sedang termenung memikirkan sesuatu, yang tak lain adalah dirinya.
Zaldi mulai berbicara, dia meminta maaf atas semua hal buruk yang pernah dia lakukan kepada rafidah.
Ini begitu mengherankan, baru saja dia ingin mengakhiri rasanya tapi zaldi datang kembali dengan sejuta makna dimatanya, ada apa? Ada apa sebenarnya? Zaldi mulai menjelaskan semuanya, ternyata dia sudah mengetahui semuanya ketika wanita yang selama ini dia sayang jujur saat pertanyaan apa yang dilihat rafidah terlontar.
Zaldi sadar, wanita yang selama ini tak pernah dia anggap mempunyai rasa yang bahkan mengalahkan rasanya kepada wanita lain. Wanita yang rela mengagumi secara diam-diam meski dia mencoba jauhi, wanita yang selalu menjaga perasaannya.
Rafidah hanya tersenyum, yang rafidah inginkan bukan zaldi membalas perasaannya namun dia harap zaldi menghargai perasaanya. Karena apa yang dimiliki belum tentu akan berujung selamanya. Rafidah bahagia meski hanya berteman dengan zaldi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...