Ini rasa kagum, kagum yang berkepanjangan dan tak mampu aku hentikan. Kagum yang hanya secara diam-diam. Iya, aku tak pernah berani untuk menghampirinya, aku begitu takut untuk sekedar berbicara dan menatap matanya.
Yang aku lakukan hanya melihat punggungnya. Hanya melihatnya dari balik wajah tampannya.
Biarkan aku bersama rasa yang selalu ingin melihatnya.
ini hanya sekedar rasa kagum, Bukan rasa ingin memiliki.
Aku hanya senang ketika melihatnya tertawa riang dari jauh, bukan tertawa bersama dengannya.
Aku hanya senang melihatnya tersenyum, bukan berbincang denganku.
Karena aku yakin, aku akan begitu gugup ketika melakukan itu semua.
Iya, aku hanya sekedar mengagumi. Tidak ingin memiliki.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu