Langsung ke konten utama

Sahabat dan Teman

Mereka begitu pandai memakai topeng sampai aku tak mengenali mereka. Hhh. Begitu pandainya mereka bermain drama sampai aku menganggap semua hal bersama mereka itu sangat menyenangkan. Hhh. Ataukah aku yang begitu bodohnya, tak bisa melihat orang yang memakai topeng dan sedang menyusun skenario untuk berteman denganku.
Iya, kecewa. Entah apakah aku bisa berpura-pura tersenyum didepan mereka yang sangat lihai memakai topeng itu, apakah aku mampu menyembunyikan kemarahan, kekecewaanku didepan mereka.
Aku hanya orang biasa yang sangat sangat banyak salah, yang sedang mereka cari kesalahan itu dan mereka buat sebagai bahan perbincangan dn gunjingan. Hhh.
Aku sangat berterimakasih padamu wahai Allah yang selalu menunjukan kebenaran, engkau telah buktikan permintaan doaku. Engkau tunjukkan orang-orang yang bermuka dua, dan ternyata begitu banyak disekelilingku. Mereka begitu baik didepanku, memuja-muja hubunganku, seakan mereka ikut sangat bahagia. Tapi dibelakangku? Ya allah mereka sangat antusias membicarakanku, seakan-akan aku bahan pembicaraan yang menarik untuk mereka olok-olok.
Aku hanyaa anak ibu dan ayah yang sangat cengeng, yang setiap masalah selalu aku tangisi, yang dengan senang hati, dengan kekonyolanku ingin menghibur orang disekelilingku. Tapi Apa aku masih bisa berbaik hati dengan mereka? Apa aku harus seperti mereka pula. Yang bisa berbaik hati didepan tapi dibelakang dengan gemarnya menggunjing. Tidak, maaf didalam keluargaku tak pernah mengajarkan hal seperti itu. Sebisa mungkin aku memaafkan mereka, tapi kali ini aku benar-benar kecewa, aku dikelilingi orang-orang yang sedang bermain drama. Bahkan aku takut harus masuk ditengah-tengah mereka, aku takut berbicara dengan mereka, aku takut setiap omonganku direkam dalam otak mereka masing-masing.

Ya Allah, tapi dengan adanya mereka aku bisa mengetahui siapa yang dengan naturalnya berteman tanpa memakai topeng didepanku. Aku bersyukur memiliki sahabat yang tak pernah memuji-mujiku, memuji hubunganku didepanku. Bahkan saling olok mengolok. Tapi dibelakangku mereka tak pernah melakukan itu, mereka selalu mempunyai hal-hal baik yang diceritakan kepada orang lain. Aku begitu bersyukur memiliki mereka, sahabatku. Disaat banyak teman yang memakai topeng cantik tampan manis baiknya didepanku, tapi mereka dengan wajah naturalnya datang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...