Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2015

Pergi Tanpa Alasan

Bukannya pergi tanpa alasan, bukan juga tidak lagi punya rasa. Tapi sepertinya pergi adalah pilihan yang baik, baik untukmu. Kenapa? Sudah tahu bukan, karena jarak sangat berperan andil dalam hidupmu, dan sekarang jarakmu semakin jauh, jauh tak terlihat. Coba bayangkan, kita nanti akan jadi apa. Rasanya jika akan dijalani lagi, semua yang dulu tetap akan sama. Sama tak berubah. Seperti keledai yang jatuh disebuah lubang, untuk kedua kalinya, jika keledai hanya memakai hati tanpa melogikakan, lubang siap menjatuhkannya lagi, tapi coba kalau keledai itu memakai logikanya, menilik hatinya dulu sepedih apa rasanya terjatuh, mungkin dia akan menghindar dari lubang, dan tidak terjatuh untuk kedua kalinya. Ya, hanya mencoba menilik hati yang dulu begitu rapuh. Semua terasa menyakitkan karena sebuah pengorbanan tak dihargai, juga merasa diriku bukan diriku. Bukan untuk menghakimimu atas masalalu, tapi rasanya sikap dewasa saja tidak akan merubah keegoisan diri. Yang terjadi dulu dengan o...

Doa Dalam Diam "Yang terkuak"

" inna alladziina yu'dzuuna allaaha warasuulahu la’anahumu allaahu fii alddunyaa waal-aakhirati wa-a’adda lahum ‘adzaaban muhiinaa." Suara itu terdengar begitu indah melantunkan ayat-ayat Al Quran. Ilham berhenti untuk mengambil nafas, "waalladziina yu' dzuuna almu' miniina waalmu' minaati bighayri maa iktasabuu faqadi ihtamaluu buhtaanan wa-itsman mubiinaan." " kholaash Ham, cukup." Suara Ustadz Habsy mulai memecah keheningan, membuat siapapun yang mendengar suara merdu itu menjadi kecewa. Ilham mengatur duduknya menghadap Ustadz Habsy sebagai gurunya. "Sudah cukup ngajinya, Abi takut yang mengintip semakin banyak." Ucap Ustadz Habsy sembari melirik ke pintu mushola yang tidak jauh dari tempat duduknya dan Ilham. Ternyata disitu sudah banyak santriwati yang bersembunyi dibalik pintu hanya untuk mendengar suara Ilham atau bahkan melihat wajahnya. Merasa tersindir, para santriwati itu pun kusak-kusuk kemudian berlari menin...

Doa Dalam Diam (6) Dinding Perisai

"Sudah pulang?." Suara bariton menggema dipenjuru ruangan, rumah besar itu berhasil membuat suara itu bisa didengar disudut ruangan manapun. Suara itu berasal dari balik sofa besar berwarna merah darah, terdapat pria paruh baya sedang duduk sembari membaca koran. "Sudah Pa, Assalamualaikum." Jawab ilham sembari mencium punggung tangan ayahnya. Rumah besar itu hanya berisi dia dan ayahnya yang jarang pulang karena pekerjaan kantornya yang menumpuk. "Waalaikum salam warrahmatullah, bagaimana sekolahmu tadi Nak?." tanya Ibrahim, ayah Ilham. "Biasa aja pa, kayak sekolah Ilham yang dulu." jawab Ilham berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada dilantai dua. "Bukan begitu... gimana? Sudah ketemu..." "Ilham mandi dan sholat dulu Pa, nanti langsung berangkat ngaji ke Ustadz Habsyi." ucap Ilham memotong pembicaraan ayahnya yang masih menggantung. Ibrahim hanya berdecak kecil, dia sudah menebak putranya itu akan menga...

Jilbab itu Komitmen

Bukan menjadi orang yang sok atau keminter nih ya, tapi aku heran dengan orang yang menganggap jilbab sebagai hal yang mudah dan remeh. Berangkat pakai, pulang sudah tidak berbau itu jilbab. Apalagi tempat-tempat sekarang membatasi adanya wanita berjilbab, bukan diluar negeri saja tapi juga di negeriku sendiri! Astaghfirullah, oke, aku mengistiqomahkan berjilbab masih baru dan terlalu awam. Tapi aku ngerasa terenyuh aja, orang yang mencoba istiqomah berjilbab disuruh buat ngelepas atas beberapa alasan. Ini jilbab! Bukan mainan. Ini komitmen! Bukan dagangan. Apa sih yang menghalangi seseorang untuk berjilbab? Padahal manfaat jilbab sendiri sungguh sangat baik untuk kita sendiri sebagai seorang perempuan. Apa begitu sukanya memamerkan diri di banyak orang? Berlenggak-lenggok layaknya model (padahal gak) didepan para laki-laki. Memakai baju yang tidak layak pakai, yang hanya menutupi badan sepertiganya. Apa bagusnya? Toh dimata laki-laki itu kita diremehkan harga dirinya. Coba jika...

Doa Dala Diam (5) Al-Mahabbah

"Raraaaa... Cepet dong." teriak Rumi tanpa menghiraukan suara cemprengnya yang menggelegar diseluruh penghujung lorong. Pantas saja Rumi berteriak kesal, sudah hampir setengah jam dia di lorong sebelah kelasnya hanya untuk menunggu Rara yang masih di kelas. Semua teman kelasnya sudah keluar kelas dan pulang. Kalau saja Rumi tidak terlanjur bilang nebeng Rara, sudah daritadi dia meninggalkannya meski dengan jalan kaki untuk pulang. Tiba-tiba perasaannya tidak enak sendiri, kenapa sahabatnya itu masih didalam kelas sedangkan semuanya sudah keluar bahkan mungkin Ani dan Ami sudah berada dirumahnya sendiri-sendiri. "Rara, Ra..." Kini Rumi melangkahkan kakinya menuju kelas, ngeri juga, Masih sore gini, kelas udah gelap. Kepalanya mencoba mengintip dari sela-sela pintu yang ia buka perlahan --gelap--banget. Dan sepertinya tidak ada bentuk-bentuk manusia didalamnya, lalu Rara kemana? Bukannya tadi dia ijin kedalam kelas lagi untuk mengambil sesuatu? Aah itu bocah lama...

Doa Dalam Diam (4) Hati yang Tulus

Gadis berkerudung putih yang menjuntai hingga menutupi lengan dan dadanya itu turun dari motor setelah melepas helm yang menempel dikepalanya. "Terimakasih, Kak Nada yang cantik." Akhirnya kakaknya itu mau juga mengantarkan adiknya berangkat sekolah, setelah melalui tahap demi tahap merayu. Dan alhasil Nada mau mengantarkannya, setelah Rumi berjanji untuk memijit kakinya nanti setelah pulang dari seminar organisasinya disebuah kampus. "Jangan lupa nanti..." "Yaelah, iya Kak. Kenapa sih gak ikhlas banget nganterin adeknya sendiri." Gerutu Rumi yang membuat Nada terkekeh. "Hahaha udah deh, pokoknya entar kudu mijet nih kaki. Oke," Ucap Nada sembari memakai helm-nya kembali, Rumi hanya diam, percuma menanggapi kakaknya. Toh, memang dia sudah berjanji, terus mau diapain lagi. "Yaudah, Kakak pulang dulu. Assalamualaikum..." "Waalaikum salam." Rumi membalikkan badannya, Seketika pandangannya lurus tertuju pada sebuah pung...

Pengharap

Sungguh, kita sangatlah jauh. Dari sebuah jarak merembet ke segala hal. Kenapa selalu egois sih? Kenapa harus hal itu yang menjadi dinding besar yang tak kasat mata diantara kita? Kenapa? Katamu kita bisa menjadi satu, namun nyatanya hanya omong belaka yang entah kapan akan tercapai. Atau memang sudah ditakdirkan seperti ini? Jika ditanya "apa kau masih menyayanginya?" kita saling menutupi apa yang sebenarnya, memilih untuk menggeleng atau diam. Padahal dihatinya, sampai kapanpun tetap sama. Oh ya? Atau aku yang terlalu jauh berharap akan kembali seperti dulu, seperti sebelumnya? Yang hanya sebuah jarak tidak menjadi masalah untuk kita. Namun, kini hal itu seperti bongkahan besar yang hidup dalam diri kita. Apa aku yang terlalu jauh berfikir, bahwa ini akan kembali sama seperti dulu. Bahwa tidak ada yang penting, selain saling mengabari. Tuhan, jika iya, boleh aku menjauh? Bukan untuk apa-apa, bukan karena siapa-siapa, tapi rasanya keegoisan diri kita tetap sama, tidak...

Doa Dalam Diam (3) Bintang Jatuh

Setelah selesai makan dan membereskan meja serta mencuci piring, sepertinya duduk santai didepan rumah menjadi hal cukup menarik untuk Rumi sebelum harus bergulat dengan buku-buku tebal yang setelah ini akan terjamah oleh tangannya, setidaknya dia merefresh otaknya dulu sebelum mengerjakan tugas yang menumpuk. "Dek, pinjem hp dong." Dengan gesit tangan Nada sudah berhasil menyambar hp yang ada ditangan Rumi, dan mengambil posisi duduk dikursi sebelah Rumi. "Pinjem apa ngerampok?." Bukan pertanyaan, lebih tepatnya sebuah pernyataan. Selalu memang, kakaknya itu tidak ada bosannya untuk mengganggu adik satu-satunya itu, sifatnya tidak sepadan dengan umurnya yang hampir 21 tahun. Tapi jika dibilang kekanak-kanakan juga tidak bisa dikatakan seperti itu, karena ketika mood adiknya jelek, Nada bisa menjadi kakak yang lebih dewasa dari umurnya, bisa sangat mengemong Rumi. Mendengar kata Rumi yang sinis, Nada hanya terkekeh dan kembali meluruskan pandangannya ke ponsel...

Doa Dalam Diam (2) Ar-Rahman

FIIHIMAA 'AINAANI TAJRIYAAN. FABIAYYI ALAA 'IRAABIKUMAA TUKADZDZIBAANN.. maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? "Subhanallah, suaranya..." Rumi tidak bosan-bosannya menekan play setiap suara itu mulai berhenti. Seperti makna surat tersebut "maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?" Mendengar murrotal itu seperti sebuah nikmat tersendiri bagi yang mendengarnya. Lantunannya seperti atmosfer yang membelah khatulistiwa, sepicik apapun hatinya, sesempit apapun pemikirannya, bagaimanapun keadaannya. Jika sudah mendengar suara murrotal yang merdu nan indah, siapapun akan luluh, seluluh-luluhnya. Entah, jika orang itu sudah berhati bak syetan yang benci dengan manusia. "Rumi, kamu lagi apa?." Suara lembut kini terdengar dari balik pintu, dan beberapa saat kemudian daun pintu terungkit. "Bun, sini deh." Ucap Rumi yang mengetahui Maila, bundanya. Memasuki kamar dengan wajah yang meneduhkan. Wajah khas bidadari dari syurga, bidad...

Doa Dalam Diam (1)

Menjadi bagian dari hidupmu seperti mimpi yang tak akan pernah menjadi nyata, sulit, sangat sulit. Padahal kita dulu pernah dekat, sedekat nadi dan darah. Namun nyatanya, kita tak pernah menyatu. Bersatu denganmu, seperti harapan yang tak pernah ada alurnya. Dan bodohnya, aku membiarkan harapan itu terus mengalir dikehidupan yang bahkan tidak ber-alur, tidak bertitik temu. Gadis cantik itu sedang berlari dengan jilbab yang menutupi dada dan lengannya sesekali terurai karena angin pagi. Rumi yakin, seragam yang sedari pagi tadi begitu rapi setelah ini akan hilang predikatnya. Padahal Rumi ingin dihari pertamanya menjadi murid kelas 12, bisa berubah menjadi murid yang lebih patuh dengan aturan sekolah. Mmm, dulu Rumi gak bandel sih.. Eh tapi emang iyasih, dikit (pembelaan diri, hiikss). Ini semua karena tadi pagi dia telat bangun, dan parahnya, kakaknya tidak mau mengantarkannya sekolah, berdalih banyak tugas kuliah dan harus dikumpulkan hari ini dan dengan teganya membiarkan adik sa...

Cuap Cuap Doa Dalam Diam (CCDDD)

Taraaaa ... Aku mau ngepost cerbung(cerita bersambung) lagi, boleh gak nih? Wkwk. Yasudahlaya suka-suka gue, lagian siapa juga sih yang mau liat nih blog menye-menye(sadar diri) kalau bukan orang yang kepo ama gue aja(percaya diri) wkwkwk. Lupakan. Daripada blog ini gak keisi sama sekali, iya kan? Dan lagian ada inspirasi buat cerita. Yaa... Seenggaknya bisa menyalurkan sedikit hobiku, hobi NULIS, BERHAYAL, dan BAPER wkwk. Sering sih buat cerita, terus baper-baper sendiri. Dan itu kadang bikin nyesek. Hfft sudahlah biar. Oh ya, sebelum ngepost. Aku mau ngasih tau aja yaa, ini tentang apa itu menulis. Menulis itu bukan karena ikut-ikutan temen, cari perhatian biar dibilang kata-katanya wauuw ceritanya menarik. Terus gitu akhirnya nyombongin diri sendiri, misal nih misal , buat status "yee akhirnya kelar juga nulis diblog "(rekayasa gue aja sih) aduuuh CP banget kalok udah gitu >,< Kelar nulis apa kelar copas? Waduuh ribet malah urusannya. Ribet? Tinggal copas, gampan...