Langsung ke konten utama

Cuap Cuap Doa Dalam Diam (CCDDD)

Taraaaa... Aku mau ngepost cerbung(cerita bersambung) lagi, boleh gak nih? Wkwk. Yasudahlaya suka-suka gue, lagian siapa juga sih yang mau liat nih blog menye-menye(sadar diri) kalau bukan orang yang kepo ama gue aja(percaya diri) wkwkwk. Lupakan.

Daripada blog ini gak keisi sama sekali, iya kan? Dan lagian ada inspirasi buat cerita.

Yaa... Seenggaknya bisa menyalurkan sedikit hobiku, hobi NULIS, BERHAYAL, dan BAPER wkwk. Sering sih buat cerita, terus baper-baper sendiri. Dan itu kadang bikin nyesek. Hfft sudahlah biar.

Oh ya, sebelum ngepost. Aku mau ngasih tau aja yaa, ini tentang apa itu menulis. Menulis itu bukan karena ikut-ikutan temen, cari perhatian biar dibilang kata-katanya wauuw ceritanya menarik. Terus gitu akhirnya nyombongin diri sendiri, misal nih misal , buat status "yee akhirnya kelar juga nulis diblog "(rekayasa gue aja sih) aduuuh CP banget kalok udah gitu >,<
Kelar nulis apa kelar copas? Waduuh ribet malah urusannya. Ribet? Tinggal copas, gampang. Naah gitu tuuh, kalok mau yang instan, gitu katanya hobi nulis? Hobi copas mungkin. ini negara hukum vrooh *plak kyk ngrti gituan.
Aah elah, aku juga pernah copas. Tapi gak semuanya yaa, copas itu intinya aja, pokoknya aja, gak semuanya. Maruk kalok semuanya wkwk.
Lagian dicerita nanti, ada beberapa hal yang copas juga kok. Seperti hal baru yang gak aku ngerti, nah bisa buat belajar juga kan.

Nah kalok cuap-cuap terus kapan ngepostnya-_-
Yaudah post nih. Bye. Terserah ada yang mau baca atau gak, gue ikhlas.

#insyaallahhijrah #DDD

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...