" inna alladziina yu'dzuuna allaaha warasuulahu la’anahumu allaahu fii alddunyaa waal-aakhirati wa-a’adda lahum ‘adzaaban muhiinaa."
Suara itu terdengar begitu indah melantunkan ayat-ayat Al Quran.
Ilham berhenti untuk mengambil nafas,
"waalladziina yu' dzuuna almu' miniina waalmu' minaati bighayri maa iktasabuu faqadi ihtamaluu buhtaanan wa-itsman mubiinaan."
" kholaash Ham, cukup."
Suara Ustadz Habsy mulai memecah keheningan, membuat siapapun yang mendengar suara merdu itu menjadi kecewa.
Ilham mengatur duduknya menghadap Ustadz Habsy sebagai gurunya.
"Sudah cukup ngajinya, Abi takut yang mengintip semakin banyak."
Ucap Ustadz Habsy sembari melirik ke pintu mushola yang tidak jauh dari tempat duduknya dan Ilham. Ternyata disitu sudah banyak santriwati yang bersembunyi dibalik pintu hanya untuk mendengar suara Ilham atau bahkan melihat wajahnya.
Merasa tersindir, para santriwati itu pun kusak-kusuk kemudian berlari meninggalkan mushola.
Ilham hanya menunduk sembari tersenyum.
"Sekarang kita kupas satu demi satu isi ayat yang kamu baca tadi ya."
Ucap begitu ramah Ustadz yang umurnya masih berkisar 40tahun itu.
Ilham mengangguk dengan mantap.
"Surat Al Ahzab ayat 57 ini mempunyai arti 'Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.',"
"Jadi Ham, sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoi Allah, Di dunia mereka dijauhkan dari rahmat Allah dan karunia Nya, sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan dan kemaksiatan dan di akhirat dijerumuskan ke dalam api neraka yang merupakan seburuk-buruknya tempat kembali, dan Allah menyediakan bagi mereka azab yang sangat ngeri dan menghinakan."
Terang Ustadz Habsy dengan jelas.
"Afwan Abi, tapi seperti apa orang yang termasuk menyakiti Allah dengan melakukan perbuatan keji?"
Tanya Ilham.
Abi adalah panggilannya untuk Ustadz Habsy, Ustadz Habsy sendirilah yang menyuruhnya untuk memanggil dengan panggilan yang lebih akrab untuk seorang anak untuk orang tuanya, Beliau berharap dirinya bukan hanya sebagai guru namun juga orangtua yang membimbingnya dalam jalan kebaikan dan kebenaran. Namun tidak mengesampingkan Ibrahim sebagai ayah kandung Ilham.
"Seperti seorang kafir, atau seperti orang Yahudi yang mengatakan, bahwa tangan Allah dibelenggu, atau seperti ucapan orang-orang Nasrani, bahwa Isa itu adalah putra Allah, atau seperti kaum musyrikin yang mengatakan bahwa malaikat itu putri-putri Allah, atau orang yang percaya dengan yang dikatakan oleh kafir, atau orang Yahudi atau ucapan orang-orang Nasrani atau kaum musyrikin atau mengadakan sekutu bagi Allah dan mereka yang menyakiti Rasul Nya, seperti menuduh beliau seorang penyair, atau seorang tukang sihir, atau seorang gila dan sebagainya maka mereka yang menyakiti Allah dan Rasul Nya itu dikutuk oleh Allah di dunia dan di akhirat."
Tambah Ustadz Habsy.
"Sudah mengerti?,"
Tanya Ustadz Habsy. Ilham menganggukkan kepalanya, tanda mengerti.
"Kita beralih ke ayat selanjutnya yaitu ayat 58. Ayat ini juga berkesinambungan dengan ayat sebelumnya Ham. Ayat sebelumnya menjelaskan bahwa menyakiti Rasulullah maka Allah akan melaknatinya di dunia dan akhirat, dan menyediakan siksa yang menghinakan. Dan oleh karena itu menyakiti Rasulullah itu berarti menyakiti pula para pengikutnya."
Terang kembali Ustadz yang disapa Abi oleh Ilham itu.
"Orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat. Maka mereka itu telah memikul dosa yang nyata."
DEG.
Mendengar penjelasan itu, terasa ada benda berat dan besar yang menghantam kesadarannya.
Kini ingatannya melayang ke tiga tahun yang lalu, dimana ada gadis kecil yang masih polos berada didepan laki-laki kecil dengan tatapan yang begitu membencinya, gadis itu mencoba mengajaknya berbicara, meski laki-laki itu tetap enggan mengeluarkan sepatah katapun.
"Aku tidak mau melihat wajahmu lagi! Pergi!."
Seketika mulut gadis itu terbungkam dan wajahnya memerah menahan air yang ingin keluar dari mata mungilnya itu.
Tapi dengan kekeh, gadis itu tetap mengajaknya berbicara. Seakan dirinya tidak merasa bersalah, ya memang dia tidak salah. Bukan salahnya, bukan salah laki-laki itu pula.
"Kenapa?."
Kembali gadis itu berbicara, tapi kali ini dia sungguh antusias. Bahkan dia tidak menghiraukan wajah laki-laki itu sangat menakutkan.
Laki-laki itu memilih meninggalkan gadis itu sebelum amarahnya benar-benar memuncak.
"Karena kamu, aku dan dia menjadi jauh. Aku menjadi orang asing untuk dia, bukan lagi seorang sahabat yang selalu untuknya. Ini karena kamu, Aisya. Kalau saja kamu tidak punya rasa apapun untukku, dia tidak akan membenci dan menjauhiku. Aku benci kamu."
Teriak laki-laki kecil yang beranjak SMA itu di sebuah gudang dirumahnya. Rasanya ia ingin menghabiskan suaranya sekarang juga.
"Ilham, kamu sudah mengerti?."
Tanya Ustadz Habsy yang membubarkan semua ingatan masa lalunya.
Ilham mengangguk.
Laki-laki dalam ingatannya adalah dirinya, dan gadis kecil bernama Aisya itu adalah Rumi. Aisya Rumi.
Dulu dirinya begitu suka memanggilnya dengan nama Aisya, hari-hari singkat perkenalannya juga sangat menyenangkan. Yaa, ingatan itu baru kali ini dia ingat.
Yang sibuk dia ingat hanya, Aisya atau Rumi adalah gadis yang sudah merusak persahabatannya.
Meski sekarang Ilham mempunyai banyak sahabat dan dia begitu mudah mendapatkan teman, namun ingatannya dulu masih tetap membuatnya membenci Rumi.
"Ilham, ada yang kamu fikirkan?."
Tanya Ustadz Habsy yang berhasil menohok hatinya, pertanyaannya sangat tepat.
Ilham menelan ludah berkali-kali, dan akhirnya dia mulai membuka suaranya.
"Abi... Ilham boleh minta saran Abi?."
Tanya Ilham dengan hati-hati.
Ustadz Habsy tersenyum dengan memamerkan gigi putihnya.
"Tentu, ada apa? Biasanya juga kamu langsung bicara Ham."
"Ini tentang... Sebenarnya Ilham tidak tahu apa dia sakit hati atau tidak, tapi... Ilham pernah membentaknya dan... Menyuruhnya melupakan Ilham."
Terang Ilham masih ragu-ragu, yang membuat Ustadz Habsy mengernyitkan dahinya.
"Yang jelas Ilham, Abi tidak bisa mencerna kalimat alaymu itu."
Goda Ustadz agar suasana lebih mencair dan Ilham tidak ragu-ragu untuk menceritakan.
Ilham mengusap-usap tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
"Begini Bi, Ilham dulu pernah membentak dan marah dengan... Seorang gadis, tapi Ilham begitu karena gadis itu yang sudah buat sahabat Ilham benci dan jauhin Ilham. Ini semua karena gadis itu Abi. Sahabat Ilham tau gadis itu suka dengan Ilham."
Ucap Ilham dengan mata yang masih memendam sesuatu rasa sakit.
"Lalu, Ilham suruh dia lupain Ilham, lupain semua yang pernah terjadi, lupain perkenalan singkat kita, lupain nama panggilan kesukaan kita... Lupain semuanya." suaranya mulai melemah, hal ini yang membuatnya sangat menyedihkan, sangat.
Ustadz Habsy tersenyum simpul.
"Menurut Abi apa gadis itu sakit hati?."
Tanyanya dengan hati yang mulai terasa tidak nyaman.
"Tentu. Abi tidak tahu gadis itu siapa, tapi setiap wanita itu sama Ilham, yang menggunakan untuk menilai adalah perasaannya. Dan kamu secara tidak langsung sudah menyakiti hatinya, membentak dan memarahinya saja sudah pasti dia merasa sakit hati. Apalagi kamu suruh untuk melupakan kamu Ilham. Melupakan semuanya yang bahkan membuatnya mempunyai rasa dengan kamu."
Jawab Ustadz Habsy dengan bijak. Dia tidak perduli yang dia salahkan ada didepannya, karena sebuah kesalahan tidak akan tersadari jika tidak ada yang menyadarkan.
"Lalu apa Ilham selama ini telah memikul dosa yang nyata?."
Wajahnya berubah. Dia takut dosa itu menghampirinya karena perbuatan yang ia lakukan dahulu.
"Menurut kamu? Tidak ada manusia yang ingin disalahkan, namun sejatinya manusia selalu akan melakukan kesalahan, entah itu yang ia sadari atau tidak. Tapi Allah memberi kita sebagai hambaNya, memori otak untuk menilik masa dahulu, mengkoreksi kesalahan apa yang kita lakukan dulu, dan memberi kesempatan untuk diperbaiki kedepannya."
Ucap Ustadz Habsy.
Ilham kini sadar dirinya salah. Tapi,
"Tapi Abi, gadis itu yang membuat sahabat Ilham menjauhi dan membenci Ilham. Ilham juga sakit hati."
Ucap Ilham kembali.
"Gadis itu mempunyai perasaan Ilham, kita tidak bisa menyalahkan perasaan seseorang. Siapapun punya hak untuk merasakan suka, cinta, sayang atau benci. Sakit hati kamu dan dia berbeda, sakit hatimu karena sahabat yang menjauhimu karena gadis lain menyukaimu, dan Abi ulangi lagi, gadis itu tidak layak disalahkan karena setiap insan mempunyai hak untuk merasa. dan sekarang, sakit hatinya? Kamu tau sakit hatinya? Sudah berapa kali kamu berbicara kasar dengannya?. Apa menurutmu kamu dia tidak sakit hati ketika kamu menyuruhnya melupakan kamu?."
Ilham terdiam tidak mampu berbicara.
"Sekarang Abi tanya, kalau kamu sakit hati karenanya, apa dia pernah melakukan hal yang sama yang pernah kamu lakukan ke dia?."
Tanya Ustadz Habsy tidak habis-habisnya.
Ilham menunduk kemudian menggeleng. 'Tidak', Rumi tidak pernah berkata kasar atau membentak. Bahkan ketika aku membentaknya, dia tidak mencoba membalas. Pikir Ilham.
"Ilham sadar Abi, Ilham salah... Seharusnya Ilham tidak berkata kasar dan menyuruhnya melupakan Ilham. Seharusnya Ilham menghargai perasaannya."
Ucap Ilham dengan mantap.
"Sekarang masih mau mikul dosa?."
Tanya Ustadz Habsy dengan nada kembali bersahabat.
Ilham menggelengkan kepalanya.
***
BRAAKK.
"Haduuuuh, aah nih kursi ngapain sih disini."
Gerutu Rumi didalam kamarnya, setelah satu jam dikamar kakaknya, akhirnya dia bisa tebebas dan bisa kembali kekamarnya sendiri. Tapi kursi yang berada di depan meja belajarnya sedikit menggeser kearah belakang, menjauh dari meja sehingga kaki mungilnya itu tidak sengaja menyenggolnya, dan suara hentakan kursi menyentuh meja pun terdengar keras seiring gerutuan gadis itu.
Kertas yang ada didalam tas yang kebetulan tasnya berada dikursi itu pun terjatuh.
Kembali ia pungut kertas itu, dan kembali pula membacanya.
"Langit telah meredup
Harap di hati telah pudar
Mimpi pun telah terbunuh
Tak pernah kulupa tatap matanya
Menghunjam ke jiwaku
Dan ia pun berlalu
Tak mudah memahami hatinya."
Dia sekarang ingat siapa pencipta puisi itu, dia adalah Kahlil Gibran, penyair ternama yang karya-karyanya mencerminkan perpaduan budaya timur dan barat, penuh analogi, disukai berbagai kalangan dan populer di berbagai belahan dunia. Kisah kehidupannya banyak diwarnai penderitaan dari segi ekonomi, ditinggal orang-orang tercinta hingga kisah cinta yang melankolis dengan kekasihnya May Ziadah.
Bait yang menyita perhatiannya sejak tadi adalah
Tak pernah kulupa tatap matanya
Menghunjam ke jiwaku
Dan ia pun berlalu
Tak mudah memahami hatinya.
Kejadian yang ia alami sama persis dengan isi bait itu. Tapi kemudian ia membaca bait atasnya yang sengaja ditulis dikertas itu.
Langit telah meredup
Harap di hati telah pudar
Mimpi pun telah terbunuh
Bait itu seperti kode dalam bait setelahnya, yang ia lakukan sebenarnya adalah mengubur habis semua mimpi untuk mengharapkan apa yang sejak dulu ia harapkan bisa kembali seperti semula.
Rasanya seperti langit yang meredup, tidak akan ada harapan. Yaa, tidak ada.
Siapa penulis dikertas ini? Apa maksudnya menulis bait puisi ini? Apa dia tahu yang ada dalam hati Rumi? Apa penulis ini ingin Rumi menghapus semua harapannya.
Ya, benar puisi diatas kertas itu.
Untuk apa? Mimpi dan harapan itu nyaris tak tertolong. Tetap menetap tanpa ada perkembangan. Menyakitkan dan bodoh!.
Harinya dihabiskan untuk menilik hati orang lain, sedangkan hatinya sendiri sakit karenanya.
"Aku harusnya berhenti sejak dulu."
Ucap Rumi pelan diiringi airmatanya yang menetes dikertas yang ada ditangannya.
***
-Kholaash : Sudah
-Afwan : Maaf
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu