Langsung ke konten utama

Doa Dalam Diam (2) Ar-Rahman

FIIHIMAA 'AINAANI TAJRIYAAN. FABIAYYI ALAA 'IRAABIKUMAA TUKADZDZIBAANN..

maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

"Subhanallah, suaranya..."

Rumi tidak bosan-bosannya menekan play setiap suara itu mulai berhenti. Seperti makna surat tersebut "maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?"
Mendengar murrotal itu seperti sebuah nikmat tersendiri bagi yang mendengarnya. Lantunannya seperti atmosfer yang membelah khatulistiwa, sepicik apapun hatinya, sesempit apapun pemikirannya, bagaimanapun keadaannya. Jika sudah mendengar suara murrotal yang merdu nan indah, siapapun akan luluh, seluluh-luluhnya. Entah, jika orang itu sudah berhati bak syetan yang benci dengan manusia.

"Rumi, kamu lagi apa?."
Suara lembut kini terdengar dari balik pintu, dan beberapa saat kemudian daun pintu terungkit.

"Bun, sini deh."
Ucap Rumi yang mengetahui Maila, bundanya. Memasuki kamar dengan wajah yang meneduhkan. Wajah khas bidadari dari syurga, bidadari milik Rumi, Kakak, dan Ayahnya di syurga Allah nanti. Amin...
Rumi bersyukur mempunyai seorang ibu seperti bunda Maila, Ia wanita yang sangat istimewa dan spesial. Rumi merasa beruntung telah dilahirkan dari rahim seorang wanita kuat sepertinya. Dia sadari banyak sekali hal yang sudah bundanya korbankan. Semua demi keluarga dan kebahagiaan anak-anaknya. Sungguh mulia Bun.

Rasulullah SAW bahkan telah menegaskan bahwa kedudukan seorang Ibu lebih tinggi dibandingkan kedudukan seorang ayah. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra disebutkan : Seorang lelaki datang kepada Nabi SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku patuhi?", Kata Nabi, "Ibumu", lelaki itu bertanya lagi, "kemudian siapa lagi?", Nabi menjawab, "Ibumu", Lelaki itu bertanya lagi,"Lalu siapa lagi?", Nabi tetap menjawab, "Ibumu", Lelaki itu bertanya kembali, "Kemudian siapa lagi?", Nabi menjawab, "Ayahmu"....

'Memang sangat layak jika bidadari seperti Bunda mendapatkan kemuliaan 3x sebelum Ayah.'

Tapi siapa yang tahu perasaan bunda dibelakang putri-putrinya. Rumi yakin, bunda sekarang sedang rapuh, tanpa pegangan. Ayah Rumi meninggal 5 tahun silam, namun yang Rumi tahu bundanya menangis ketika melihat jenazah suaminya dimakamkan, dan setelahnya tidak ada lagi airmata yang turun membasahi pipinya. Ia tegar, sangat tegar, tapi hanya didepan Rumi dan Kak Nada(kakak Rumi), yaa... Tidak ada alasan, tidak bersedih, seorang istri yang sudah hampir berpuluh-puluh tahun hidup dengan suaminya, hingga dikarunia dua anak perempuan yang cantik, dan rela merawat suaminya yang sedang sakit dengan begitu setianya. Dan ketika suaminya diambil oleh Sang Maha Kuasa, Ia tidak merasa sedih? Salah. Maila sangat, sangat terpukul, tapi itu bukan kebiasaan yang harus diperlihatkan ke anak-anaknya.  Rumi dan Nada tahu itu, terlihat setiap selesai sholat, mata Bundanya sembab seperti habis menangis. Dan sebuah tugas untuk mereka agar bisa menghibur Bundanya.

'Ya Allah, tolong jaga Bunda. Berikan segala kasih sayang-Mu untuknya, seperti Ia yang selalu memberikan seluruh kasih sayangnya untuk kedua putrinya.'

"Ada apa Rum? Keluar gih, ditunggu Kakakmu buat makan malam."
Kini Maila duduk disamping Rumi  sembari mengusap-usap puncak kepala Rumi yang sedang tiduran dengan gaya tengkurap.

"Bentar, lagian Kak Nada masih dikamarnya ngerjain tugas. Iya kan?."
Ucap Rumi sembari me'noel' pelan pipi bundanya dengan ujung jari telunjuknya. Seperti aktris di film india, pipi Maila memerah, rasanya, putri bungsunya ini sudah tidak bisa dibohongi lagi.

"Hahaha, duh bunda ketauan boong... Ngomong-ngomong lagi dengerin apa? Tuh headset nempel terus, jangan dengerin yang gak ada manfaatnya."

Nah, mulai mau buruk sangka sama anaknya nih.

"Apaan sih bun, orang Rumi lagi dengerin murrotal."
Jawab Rumi yang sekarang membenarkan duduknya menghadap bunda tersayangnya.

"Ohya? Sini, bunda mau ikut denger cobak."
Dengan cepat Maila mengambil headset yang masih dengan indah nempel ditelinga Rumi.

"Bentar, bentar bun. Rumi cabut aja headsetnya, biar bisa denger bareng-bareng."

Beberapa saat kemudian,

"Gimana bun? Bagus kan suaranya?."

"Bagus, tapi kok cuman segitu?."

"Iya, ini di instagram bun. Durasinya cuman 15detik."

"Sekarang bunda tanya, apa yang membuatmu suka mendengarkan murrotal itu?," tanya Maila, Rumi diam, seperti menimang sesuatu.
"Suaranya." jawab Rumi ragu-ragu.

"Itu poin kedua. Poin pertama, makna,"

"Kamu tahu kandungan dari surat Ar-Rahman?." Rumi mengangguk ragu.

"Apa yang kamu tahu?." tanya Maila.

"Emmm... Sebagian besar dari surah ini menerangkan kepemurahan Allah. kepada hamba-hamba-Nya, kayak dengan memberikan nikmat-nikmat yang tidak terhingga baik di dunia maupun di akhirat nanti. Iya kan Bun?."

Maila tersenyum, ternyata putri bungsunya sudah bisa menjelaskan apa yang dia inginkan.

"Ciri khas surat ini adalah kalimat berulang 31 kali Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban. Yang artinya Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?. yang terletak di akhir setiap ayat yang menjelaskan nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Melalui surat ini Allah seolah memberi sinyal kepada kita akan sifat Manusia yang pelupa, kufur nikmat, dan tidak mau berfikir."
Tambah Maila, yang membuat Rumi manggut-manggut.

"Melalui surat ini, Allah seperti memancing kita untuk terbuka matanya atas nikmat yang telah diberikan-Nya ya Bun?... Ya Allah maafkan Rumi kalok pernah mengkufuri nikmat-Mu."

Maila kembali tersenyum, melihat anaknya yang begitu lugu.

"Rumi kamu tahu? Manusia dalam Al Qur'an di tulis dalam beberapa istilah, yakni al-insaan, an-naas, al-basyar, dan banii Aadam,"
Lanjut Maila yang membuat Rumi kembali melihatnya.

"Manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan. Sedangkan kata an-naas digunakan untuk menunjukan sekelompok manusia baik dalam arti jenis atau sekelompok tertentu. Al-basyar, karena manusia cenderung perasa dan emosional, dan banii Aadam karena Dia menunjukkan pada asal-usul yang bermula dari nabi Adam."

"Pelupa itu seperti manusia yang dengan mudah dan gampang melupakan Allah SWT. dan baru ingat kembali kepada-Nya, ketika manusia menghadapi kondisi sulit, susah dan membahayakan?."

"Ya sedikit seperti itu. Kalau kamu kadang-kadang menjadi manusia yang pelupa dan kufur nikmat. Cepat-cepat ingat Allah yaa..."
Ucap Maila dengan mencubit hidung mungilnya Rumi.

"Hahaha, siap Bun... Bun, kalok aku su..."

"Bunda, Rumi. Katanya mau makan, kok gak keluar-keluar. Nada nungguin nih, laper." suara nyaring terdengar dari ruang makan.

"Iya bentar," teriak Maila,
"Ayo terusin ngomongnya tadi."

Rumi diam, sepertinya tidak sekarang dia menceritakan sesuatu itu ke Bundanya. Iya, tidak sekarang.

"Emm, lain kali aja deh. Rumi udah laper juga."
Ucap Rumi yang sudah berdiri dan diikutu Maila dengan senyum manis untuk putrinya. Senyum yang sangat meneduhkan, pikir Rumi.

***

BERSAMBUNG

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...