Langsung ke konten utama

Doa Dalam Diam (4) Hati yang Tulus

Gadis berkerudung putih yang menjuntai hingga menutupi lengan dan dadanya itu turun dari motor setelah melepas helm yang menempel dikepalanya.

"Terimakasih, Kak Nada yang cantik."

Akhirnya kakaknya itu mau juga mengantarkan adiknya berangkat sekolah, setelah melalui tahap demi tahap merayu. Dan alhasil Nada mau mengantarkannya, setelah Rumi berjanji untuk memijit kakinya nanti setelah pulang dari seminar organisasinya disebuah kampus.

"Jangan lupa nanti..."

"Yaelah, iya Kak. Kenapa sih gak ikhlas banget nganterin adeknya sendiri."
Gerutu Rumi yang membuat Nada terkekeh.

"Hahaha udah deh, pokoknya entar kudu mijet nih kaki. Oke,"
Ucap Nada sembari memakai helm-nya kembali, Rumi hanya diam, percuma menanggapi kakaknya. Toh, memang dia sudah berjanji, terus mau diapain lagi.

"Yaudah, Kakak pulang dulu. Assalamualaikum..."

"Waalaikum salam."

Rumi membalikkan badannya,

Seketika pandangannya lurus tertuju pada sebuah punggung yang begitu familiar diingatannya, namun siapa itu, entaah. Otaknya tidak bisa bekerja sepagi ini.

Punggung itu terus berjalan lebih dalam memasuki sekolahan. Siapa dia? Sepertinya, dia bukan warga sekolah ini. Dan terlihat pula, mata para anak perempuan tidak hentinya memperhatikan sosok itu, Rumi yakin ada yang aneh dengan sosok itu, apa itu? Entah, dirinya tidak tau.

"Mi..." teriak seseorang dari belakang Rumi, dengan spontan gadis itu menoleh kearah suara.

"Rara..." ucap Rumi setelah melihat pemilik suara yang asli memang lembut. Dia tersenyum sekilas sebelum ingat sosok yang sedang ia intai, Rumi kembali mengalihkan matanya kearah sosok yang sedang berjalan memasuki lingkungan sekolah, namun ternyata sosok itu sudah menghilang, menghilang diantara tembok-tembok kelas.

"Tumbenan udah berangkat jam segini?."
Ucap Rara yang kembali mengagetkan Rumi, kini Rara sudah berada disamping sahabatnya itu.

"Kak Nada lagi baik."
Jawab Rumi singkat, didalam hatinya dia memprotes. Karena Rara sudah memanggilnya tadi, rasa penasarannya tidak terjawab, seandainya Rara tidak memanggilnya, dia masih bisa memperhatikan sosok itu hingga berbelok ke lorong-lorong kelas sehingga terlihat wajahnya.

"Iish pagi-pagi udah jutek amat buk." goda Rara yang mendnegar jawaban Rumi.

"Siapa yang jutek?," tanya Rumi yang berpura-pura. "Kelas yuuk..."

Tidak ingin mendnegar ocehan sahabatnya itu, Rumi menyegerakan untuk mengajaknya kekelas. Tanpa basa-basi dia sudah menarik tangan Rara.

***

"Rumi... Bisa anterin aku ke toilet gak?." ajak Andin, teman sekelas Rumi.

"Habis ini mau bel masuk ndin, apa gak sebaiknya nanti aja sekalian ijin ke guru?."
Saran Rumi.

"Tapi aku sudah kebelet Rum, plis ya," ucap Andin memohon, Rumi pun mengangguk tak tega melihat temannya memohon.

Mereka pun segera ke toilet.

Beberapa saat kemudian mereka sudah kembali, namun saat mereka berjalan di lorong-lorong kelas, banyak penghuninya yang berbisik-bisik sembari melihat ke arah mereka, lebih tepatnya Andin.
Tidak heran jika mereka sering membicarakan gadis itu, selain cantik dia juga cerdas dan sering masuk peringkat 3 besar paralel.

"Rum, aku tau... Pasti mereka lagi ngomongin aku." ucap Andin yang ternyata juga merasakan apa yang sedang dirasakan Rumi.

"Ndin, gak boleh suudzon gitu."
Ucap Rumi menenangkan, karena memang mereka hanya melihat tapi tidak mendnegarkan apa yang sedang dibicarakan oleh murid-murid yang notabenenya adalah perempuan.

"Aku sering kayak gini Rum, makanya aku minta kamu nemenin aku ke toilet,"
Jawab Andin dengan wajah memastikan bahwa ucapannya memang benar dan sudah terbukti.
"Aku sakit hati Rum, mereka selalu ngomongin aku. Didepan aku aja mereka masih sempet-sempetnya ngomongin, apa lagi dibelakang aku." tambah Andin.

"Andin, aku pernah baca Hadist Riwayat Muhamili dalam Amalinya, Apabila ada seseorang yang mencacimu atau menjelek-jelekkanmu dengan aib yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah kamu balas memburukkannya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya. Maka pahalanya untuk dirimu dan dosanya untuk dia. Kamu tidak perlu perduli dengan mereka yang senang menggunjingmu Ndin, InsyaAllah kalok kamu mau memaafkan mereka, pahala dari Allah untukmu."
Ucap Rumi, yang berharap ilmunya yang hanya sebatas itu bisa sedikit membuka hati Andin untuk lebih suka memaafkan.

"Aku sudah memaafkan, tapi kalok keinget aku sakit hati lagi." jawab Andin.

"Hati yang memaafkan dengan tulus, tidak akan ada lagi tersimpan rasa sakit, Jika kita sudah mampu memaafkan dengan ikhlas, mampu melupakan kejadian yang telah menyakiti. Jika tidak mampu melupakan, berarti hati kita belum ikhlas memaafkan. Dan percayalah, setiap kejadian pasti ada hikmah yang ingin Allah tunjukkan kepada kita. Apa yang perlu kita perbuat adalah sabar, ikhlas memaafkan dan yakin bahwa Allah akan menghapus rasa dendam kita. Membalas keburukan dengan keburukan memang dapat membahagiakan hawa nafsu, tetapi membalas keburukan dengan kebaikan adalah kemenangan manusia di hadapan manusia lain dan di hadapan Allah SWT,"
Terang Rumi

"Mereka juga yang menggunjingmu akan mendapatkan balasan dari Allah, seperti apa yang telah ada dalam surat Al Humazah ayat 1 yang berbunyi : Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Tapi kamu juga jangan terlalu buruk sangka dengan mereka Ndin, belum tentu mereka membicarakan kejelekanmu bukan?."
Tambah Rumi.

"Iya juga sih, tapi aku ngerasa gitu Rum." ucap Andin.

"Tuh, kamu gitu sih. Orang yang buruk sangka juga akan dapat dosa Ndin. Sudah sekarang, kamu positif thinking aja deh, kalok emang mereka ngomongin kejelekanmu, maafkan. Oke." ucap Rumi yang membuat Andin tersenyum.

Tidak terasa mereka sudah duduk dibangku, dan beberapa saat kemudian bel masuk berbunyi.


***

Setelah 2 pelajaran dalam 4 jam selesai, Bel istirahat pun berbunyi, sudah kebiasaan anak sekolah jika waktu itu sangat ditunggu-tunggu, apalagi oleh ke empat sahabat, Rumi, Rara, Ani dan Ami. Sedari tadi, mereka saling bertukar pikiran tentang perutnya yang sudah lapar, dan tidak jarang berbunyi di sela-sela guru sedang menerangkan. Mendengar bel berbunyi saja, mereka berebut keluar kelas.

Berasa ngantri sembako, ambil sepatu di rak saja perlu berebut untuk mencapai tempat itu.

Setelah rak itu sudah sepi, dan teman-temannya sudah berlarian ke kantin atau koperasi yang juga menjual makanan, akhirnya ke empat sahabat itu bisa mengambil sepatu dengan aman tanpa terdesak oleh teman-temannya.


"Waduh, kantin penuh kayaknya."
Ucap Rara yang sedari jauh sudah memperhatikan tempat itu.

"Tenang... Kita mah gampang kalok masalah nyerobot antrian."
Jawab Ani dengan percaya diri, ketiga sahabatnya itu pun terkekeh. Toh, memang benar yang dikatakan, meskipun datang belakangan, mereka tetap bisa mencuri start dari yang lain.

***

BERSAMBUNG

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...