Langsung ke konten utama

Jilbab itu Komitmen

Bukan menjadi orang yang sok atau keminter nih ya, tapi aku heran dengan orang yang menganggap jilbab sebagai hal yang mudah dan remeh. Berangkat pakai, pulang sudah tidak berbau itu jilbab.
Apalagi tempat-tempat sekarang membatasi adanya wanita berjilbab, bukan diluar negeri saja tapi juga di negeriku sendiri! Astaghfirullah, oke, aku mengistiqomahkan berjilbab masih baru dan terlalu awam. Tapi aku ngerasa terenyuh aja, orang yang mencoba istiqomah berjilbab disuruh buat ngelepas atas beberapa alasan.
Ini jilbab! Bukan mainan.
Ini komitmen! Bukan dagangan.
Apa sih yang menghalangi seseorang untuk berjilbab? Padahal manfaat jilbab sendiri sungguh sangat baik untuk kita sendiri sebagai seorang perempuan.
Apa begitu sukanya memamerkan diri di banyak orang? Berlenggak-lenggok layaknya model (padahal gak) didepan para laki-laki.
Memakai baju yang tidak layak pakai, yang hanya menutupi badan sepertiganya. Apa bagusnya? Toh dimata laki-laki itu kita diremehkan harga dirinya.
Coba jika kita memakai pakaian yang menutup aurat, minimal pakai jilbab yang menutup bagian lengan dan dada. Masih adakah yang meremehkan harga diri kita? Masih ada yang menggoda atau mensiul-siul?.
Apa kita bangga digoda? Di siulin? Diremehkan harga dirinya? Naudzubillah. Aku yakin, semua wanita tidak ada yang ingin seperti itu.
Tidak memakai pakaian yang menutup aurat saja kita sudah mendapat dosa, apalagi jika tubuh kita yang tidak tertutup auratnya dilihat oleh orang laki-laki yang bukan mahram, dosa sebesar apa yang kita dapat Ya allah, Astaghfirullah.

Coba kita baca surat yang menjelaskan tentang wajibnya berjilbab :

"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita (keluarga) orang-orang mukmin, agar mereka mengulurkan atas diri mereka (ke seluruh tubuh mereka) jilbab mereka. Hal itu menjadikan mereka lebih mudah dikenal (sebagai para wanita muslimah yang terhormat dan merdeka) sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah senantiasa Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. al-Ahzab ayat: 59"

Ada lagi hadist ancaman bagi wanita yang tidak mau atau enggan atau bimbang memakai jilbab :

“Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan wanita yang membuka auratnya dan berpakaiantipis merangsang berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk onta.Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya.Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.”[HR. Imam Muslim]."

Naudzubiillah Ya Allah. Ayok semua teman-teman Muslimah, kita belajar berjilbab yuk :') apa gak takut ancaman Allah.

Aku sendiri masih baru dalam hal berjilbab, tapi insyaallah, doakan untuk tetap istiqomah. Mencari ridho Allah.
Hal seperti apapun itu, semoga bukan menjadi penghalang.
Aku yakin, orang yang istiqomah dan tawakal akan mendapat yang terbaik. Terbaik untuk di dunia dan akhirat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...