Langsung ke konten utama

Doa Dalam Diam (3) Bintang Jatuh

Setelah selesai makan dan membereskan meja serta mencuci piring, sepertinya duduk santai didepan rumah menjadi hal cukup menarik untuk Rumi sebelum harus bergulat dengan buku-buku tebal yang setelah ini akan terjamah oleh tangannya, setidaknya dia merefresh otaknya dulu sebelum mengerjakan tugas yang menumpuk.

"Dek, pinjem hp dong."
Dengan gesit tangan Nada sudah berhasil menyambar hp yang ada ditangan Rumi, dan mengambil posisi duduk dikursi sebelah Rumi.

"Pinjem apa ngerampok?."
Bukan pertanyaan, lebih tepatnya sebuah pernyataan.
Selalu memang, kakaknya itu tidak ada bosannya untuk mengganggu adik satu-satunya itu, sifatnya tidak sepadan dengan umurnya yang hampir 21 tahun. Tapi jika dibilang kekanak-kanakan juga tidak bisa dikatakan seperti itu, karena ketika mood adiknya jelek, Nada bisa menjadi kakak yang lebih dewasa dari umurnya, bisa sangat mengemong Rumi.

Mendengar kata Rumi yang sinis, Nada hanya terkekeh dan kembali meluruskan pandangannya ke ponsel yang berada ditangannya.

"Udah deh aah,"
Saut Nada yang membuat Rumi cemberut.
"Eeh, lagi download apa ini?. Video? Video apa? Jangan bilang..."
Ucapan Nada yang menggantung membuat kalimatnya menjadi ambigu.

"Apasih kak? Liat nama filenya deh. Keburu nething aja." oceh Rumi.

"Murrottal..." ucap Nada ketika nama file yang ada diberkas download dibacanya.
"Ilham?." Tambahnya lagi ketika membaca kalimat seterusnya. Alis matanya mengernyit.

"Ilham?... Kayak pernah denger deh."
Kini Nada memutar bola matanya kearah kiri atas, terlihat sekali seperti sedang mengais masa lalu, mencoba mencari nama yang sangat familiar ditelinganya. Namun sangat sulit untuk diingatnya, bahkan hingga waktu beberapa lama.

Rumi yang bosan menunggu kakaknya sedang berfikir dan mencari sebuah titik temu dari pertanyaannya sendiri, segera mengambil ponselnya ditangan kakaknya.

Sebaiknya, Nada tidak perlu mengingat hal yang menurutnya tidak penting untuknya. Percuma juga dia dengan susah payah mengingat nama itu, lalu menyesal mencoba mengingatnya, karena dimasa lalunya nama itu hanya beribarat sebuah iklan di youtube, tidak penting dan perlu di skip.

"Lama! Udah gak perlu dipikirin deh kak, kayak kenal Ilham aja. Rumi aja gak pernah kenal," ucap Rumi enteng namun kemudian rat wajahnya berubah.

Saat Rumi mendongakkan kepalanya keatas, melihat langit gelap yang berpandaran sinar cahaya bulan, ada sebuah kilatan menyala yang sedang jatuh kearah timur lalu menghilang.

"Kak, bintang jatuh." ucap Rumi berusaha memberi tahu kakaknya yang kini ikut mendongakkan kepalanya, tapi terlambat. Kilatan cahaya dari bintang jatuh itu sudah hilang tak berbekas.

"Lalu?." wajahnya tidak berekspresi, namun tatapan Nada masih tetap ke langit.

"Ada permintaan?." ucap Rumi yang membuat Nada menoleh kearahnya.

"Kamu tahu apa arti bintang jatuh?."

Jangan karena Kak Nada anggota dari organisasi IAU (International Astronomical Union) , organisasi yang mempelajari tentang divisi khusus untuk riset astrobiologi dan arkeoastronomi, serta divisi lainnya. Dia seenaknya mencoba menguji ku.

"Jangan berfikir aneh-aneh deh, Bintang jatuh sebenarnya adalah meteor. jadi begini, dilangit terdapat ribuan bahkan jutaan benda yang melayang, mulai dari planet, bintang, meteor, bintang-bintang dan bahkan satelit. dan meteorlah sang bintang jatuh tersebut, dimana meteor terkadang bergerak mendekati bumi, dan pada akhirnya akan tertarik oleh gravitasi bumi, namun sebelum menyentuh bumi, meteor akan bergesekan dengan atmosfir yang dimana akibat gesekan yang begitu dahsyatnya sehingga menimbulkan percikan api yang biasa disebut bintang jatuh." terang Nada dengan cukup jelas,

"Sedangkan dalam islam sendiri, bintang jatuh merupakan panah api yang memburu setan-setan yang telah mencuri rahasia Allah SWT. Seperti dalam surat Al-Mulk ayat 5 yang artinya 'Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.'"

"Lalu, hukum meminta permintaan saat bintang jatuh hukumnya apa Kak?." tanya Rumi setelah mendengar penjelasan dari segi astronomi dan segi ilmu islam.

"Haram dong, memohon sesuatu kepada bintang jatuh sama saja dengan syirik. Yang menyembah, memuja atau meminta sesuatu kepada setan saat segar bugar seperti ketempat praktek perdukunan saja diharamkan oleh Allah dan berdosa sangat besar, apalagi memohon sesuatu pada setan di saat dia tidak berdaya dan terbirit-birit saat dilempari dan dikejar panah Api tentu lebih haram adek cantiik, haduh, gak ngerti aja deh."

"Hihihi iya juga sih, sama aja dengan syirik kan. Aku sendiri bingung dimasa modern kayak gini masih aja lihat orang-orang yang sibuk memohon permintaan saat bintang jatuh, padahal Dzat Pemberi Pertolongan adalah Allah SWT."

"Orang-orang apa kamu sendiri?." ucap Nada yang membuat Rumi mendelik.

"Orang-orang lah Kak, lagian baru kali ini lihat bintang jatuh," jelas Rumi yang memang tidak berbohong. Baru kali ini dia melihat bintang jatuh, selebihnya dia hanya mendengar cerita dari teman-temannya.

"Yaudah Rumi kekamar dulu, tugas menunggu..." tambah Rumi yang kini sudah pergi kekamar meninggalkan Nada yang masih duduk didepan rumah.

***

Mengingat wajah kakaknya tadi yang sedang mencoba menerka sosok dari nama yang ia baca, membuat Rumi yang sekarang berada dikamar ikut menilik masa lalu yang entah kapan terjadi, dia rasa cukup lama, dan begitu singkat. Sehingga untuk mengingatnya saja, Kak Nada harus mengotak-atik otaknya cukup lama.


"Aku tidak mau melihat wajahmu lagi! Pergi!."

Tiba-tiba kalimat itu menerobos ingatannya, membuat Rumi menggelengkan kepala dengan menutup telinganya, rasanya sangat memekikan, seperti sebuah tamparan keras dikedua pipinya, menyadarkan bahwa semuanya sudah berakhir. Berakhir tanpa pernah dimulai.

"Kenapa?."
Gadis remaja yang hampir masuk ke SMA itu mencoba menahan airmatanya. Niatnya hanya menjadi teman yang baik, tapi sepertinya penolakan yang hanya ia dapat. Terbukti ketika pertanyaan gadis itu terlontar, laki-laki itu melengos dan pergi meninggalkannya sendiri dengan masih memandang punggung laki-laki itu menjauh, kemudian menghilang di dinding besar. Dinding yang menjulang tinggi, yang selamanya akan berdiri diantara mereka. Tak akan pernah roboh sebelum laki-laki itu kembali dan mulai menyapanya ramah.

Tapi rasanya tak mungkin itu terjadi... Ya, tak mungkin.

Cairan bening hangat tanpa sadar mengalir dipipi Rumi. Gadis dalam ingatannya itu adalah dirinya, dan laki-laki itu... Entahlah.
Rasanya itu hal menyakitkan jika terus ia ingat.

Rumi menghapus airmatanya, kalimat saja tidak bisa mengartikan kesedihannya, hanya hatinya yang merasakan dan itu rasanya sangat sakit. Seperti pisau yang mencoba membelah besi, setajam apapun pisau itu, sudah diasah hingga berapa kalipun. Rasanya akan tetap sulit untuk dilakukan.

Yaa, seperti itulah hatinya. Rumi sendiri tidak tahu apa yang membuat dadanya terasa sesak ketika mengingat itu. Sejak dulu dia mencoba menerka hatinya sendiri, mencari alasan apa yang membuatnya bersedih ketika mengingat kalimat itu, dan kejadiannya. Namun nihil, alasan itu tak pernah berada ditangannya, hanya kekosongan yang ia dapat.

***

BERSAMBUNG

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...