Langsung ke konten utama

Doa Dalam Diam (6) Dinding Perisai

"Sudah pulang?."
Suara bariton menggema dipenjuru ruangan, rumah besar itu berhasil membuat suara itu bisa didengar disudut ruangan manapun. Suara itu berasal dari balik sofa besar berwarna merah darah, terdapat pria paruh baya sedang duduk sembari membaca koran.

"Sudah Pa, Assalamualaikum."
Jawab ilham sembari mencium punggung tangan ayahnya.
Rumah besar itu hanya berisi dia dan ayahnya yang jarang pulang karena pekerjaan kantornya yang menumpuk.

"Waalaikum salam warrahmatullah, bagaimana sekolahmu tadi Nak?." tanya Ibrahim, ayah Ilham.

"Biasa aja pa, kayak sekolah Ilham yang dulu." jawab Ilham berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada dilantai dua.

"Bukan begitu... gimana? Sudah ketemu..."

"Ilham mandi dan sholat dulu Pa, nanti langsung berangkat ngaji ke Ustadz Habsyi." ucap Ilham memotong pembicaraan ayahnya yang masih menggantung.

Ibrahim hanya berdecak kecil, dia sudah menebak putranya itu akan mengalihkan pembicaraan tentang hal yang menurut Ilham sangatlah menyebalkan.
Tapi apa akan terus seperti itu? Padahal niatnya memindahkan Ilham ke sekolah yang baru bertujuan untuk hal menyebalkan itu.

***

"Assalamualaikum."
Ucap salam Rumi dari ruang tamu yang berdekatan dengan ruang keluarga berukuran kecil yang hanya berisi sofa kecil dan tv.
Maila dan Nada menjawab salamnya dengan bersamaan.
"Waalaikum salam warrahmatullah."

Setelah tubuhnya sudah mencapai ruang keluarga, dilihatnya Bundanya sudah bersiap-siap menyunggingkan senyum untuk putri bungsunya, sedangkan di sampingnya ada kakaknya, Nada yang masih sibuk dengan laptop dan ponsel ditangannya.

Rumi mendekat ketempat Bundanya duduk, dicium punggung tangannya, kemudian beralih melihat wajahnya.

Wanita dengan usia yang sudah tidak muda lagi tapi tetap terlihat cantik, meski kerutan di dahi dan bawah matanya sudah terlihat jelas. Apa dunia ini sudah terlalu banyak menyakitimu Bun? Apa kedua anakmu sangat menyusahkan dan membebanimu? Matamu tak setajam dulu, kini terlihat sendu dan berair.
Bagaimana cara menyembunyikan lelahmu selama ini Bun? Kenapa tidak pernah mengeluh? Apa karena takut membebani anak-anakmu, tapi bukankah selayaknya sebagai anak yang berbakti harus rela dengan suka cita menjadi pundak untuk Bunda. Meski hanya bisa menjadi pundak tidak lebih dari rangka yang mampu menyokong kehidupanmu. Tapi yakinlah, sebagai anak akan selalu ingin yang terbaik untuk Bundanya.

"Kok pulang jam segini Rum?."
Tanya Maila dengan wajah yang sumringah. Yang membubarkan lamunan tentang bidadari masa depannya.

"Emmm... Tadi nunggu Rara ngurusin sesuatu Bun,"
Ucap Rumi memberi jeda untuk Bundanya ber-oh.
"Yasudah Bun, Rumi mandi dulu terus sholat ya." tambah Rumi sembari beranjak kekamarnya.

"Eh jangan lupa nanti."
Ucap Nada yang membuat Rumi tiba-tiba berhenti, wajahnya langsung berubah masam.

"Mau ngapain Nad?."
Tanya Maila yang melihat wajah Rumi berubah setelah mendnegar kalimat dari kakaknya.

"Gini Bun, Rumi tadi kan minta aku buat nganterin sekolah dan setelah itu janji buat mijitin aku, yaa Nada cuman mau ngingetin aja sih mungkin Rumi lupa." jawab Nada dengan sesekali melirik kearah Rumi yang semakin mendengus kesal.

"Iya iya Kak, gak perlu diperjelas deh."
Jawab Rumi kemudian berlalu begitu saja.

Sedangkan Nada dan Maila cekikikan melihat tingkah Rumi yang sedang kesal, mereka suka sekali menggoda putri bungsu sekaligus adik itu.

***

"Kak aku pernah denger kalok bumi itu punya dinding perisai pelindung ya?."
Tanya Rumi setelah beberapa waktu tadi sudah memijat pundak kakaknya.

"Iya emang,"
Jawab kakaknya singkat.
"Kira-kira awal bulan desember tahun kemarin para peneliti dan ilmuwan dari Universitas of Colorado Boulder telah menemukan sebuah perisai yang tak terlihat mengitari bumi dengan panjang 7.200 mil,"

"para ilmuwan itu mengungkapkan bahwa dua perisai cincin dengan bentuk seperti donat di atas bumi ini, sebagai penghalang dari gerakan partikel atau sabuk radiasi Van Allen dengan elektron berenergi tinggi dan proton."
Jawab Nada dengan runtut dan berfakta. Yang berhasil membuat Rumi melongo.

"Professor Daniel Baker, Direktur Laboratorium CU-Boulder pun mengatakan bahwa perisai tak terlihat ini seperti halnya dalam film Star Trek sebagai senjata yang digunakan untuk mengusir alien, sebuah senjata yang tak terlihat untuk menghalangi masuknya elektron tersebut. Bagi dia itu fenomena yang mencengangkan juga membingungkan."
Tambah Nada.

"Tapi bagaimana awalnya sampai para ilmuwan itu melakukan penelitian itu Kak?." tanya Rumi yang masih bingung, dengan asal-usul para ilmuwan memiliki keinginan untuk meneliti fenomena itu.

"Penemuan ini sendiri sih berawal dari penelitian yang dilakukan para ilmuwan yang mengira bahwa elektron yang masuk dengan kecepatan 100.000 mil per detik, perlahan-lahan akan dihapus oleh molekul udara. Namun, hasil penelitian melihat ada dinding penghalang yang tidak tembus dan terlihat sampai Van Allen sedang mengalami kala pembekakan dan terhenti karena perisai tak terlihat tersebut."
Jawab Nada yang membuat Rumi kembali melongo tercengang layaknya Professor Daniel Baker.

"Wauww Kak, subhanallah."
Ucap Rumi tidak bisa berkata-kata lagi.

"Sebenarnya Al Quran sudah menjelaskan ini jauh sejak abad ke-7 M Rumi, tapi para peneliti itu baru mengetahuinya sekarang. Sebagaimana diterangkan dalam al Qur’an :'Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda kekuasaan Allah itu seperti matahari, bulan, angin, awan, dan lain-lain.'"

"Yang dimaksud menjadikan atap yang terpelihara itu sendiri bisa dimaksudkan dinding perisai yang melindungi bumi. Allah pencipta jagad ini Rumi, tidak ada yang tidak mungkin. Dan semua itu kembali kepada kita sebagai Hamba-Nya, mau percaya atau tidak setelah banyak sekali bukti kekuasaannya."
Ucap Nada setelah puas menjelaskan bahwa sebelum para ilmuwan itu menemukan dinding perisai, Allah sudah menuangkan ayat dalam Al Quran tentang dinding perisai itu sendiri.

"Mmm, aku pengen jadi kayak Kak Nada deh kalok gini. Pengen tau tentang isi jagad ini dalam Al Quran juga penelitian langsung. Aku ingin membuktikan kalok semua apa yang ada di bumi itu ada dalam Al Quran, apa yang diketahui atau tidak diketahui oleh manusia itu semua sudah dijelaskan dalam Al Quran."
Ucap Rumi yang membuat Nada tersenyum simpul di balik tubuhnya. Rumi yang dibelakangnya dengan masih memijat pundaknya berangan-angan menjadi seperti kakaknya.

"Kamu pasti bisa Rum, Kalok kamu rajin belajar."
Ucap Nada.

***

"Pa, Ilham berangkat ngaji dulu ya."
Pamit Ilham setelah memakai kopyah-nya yang sangat begitu pas dikepalanya. Terlihat semakin tampan dan ditambah dengan air wudhu yang menghiasi wajahnya menjadi bersinar.

Dia mendekat kearah ayahnya yang baru keluar kamar, dicium punggung tangannya lagi.

"Iya Nak, Papa gak salah nitipin kamu ke Ustadz Habsy. Meski Papa tidak selalu ada untuk kamu, tapi kamu masih menghormati Papa." Ucap Ibrahim dengan mata yang berbinar-binar.

Baru kali ini dia melihat anaknya pulang sekolah dan berangkat ngaji, setiap hari waktunya dihabiskan di kantor, tidak ada waktu sama sekali untuk anaknya. Namun kali ini dia sempatkan membawa pekerjaan kantornya kerumah, hanya untuk memantau putranya yang baru pulang menimba ilmu pengetahuan dan kembali berangkat menimba ilmu agama. Dia ingin tahu perubahan apa yang terjadi terhadap putranya ketika pindah sekolah.

"Pa, tidak ada alasan anak untuk tidak menghormati orang tuanya. Sejahat apapun orangtua terhadap anaknya, tidak selayaknya seorang anak membalas. Ridho Allah terletak pada ridho orang tua, dan murka Allah terletak pada kemurkaan orang tua. Ilham ingin mendapat ridho Allah Pa, Ilham takut dengan murka-Nya."
Ucap Ilham yang kemudian menyunggingkan senyum. Ayahnya ikut tersenyum, melihat akhlak putranya.

"Lagian Papa sibuk dan jarang ketemu sama Ilham karena masa depan Ilham kan? Karena ingin yang terbaik untuk Ilham."
Tambahnya yang semakin membuat Ayahnya terharu.

"Papa bangga punya kamu Ham."
Ucap Ibrahim dengan mengelus dan menepuk pelan ujung kepala putranya.

"Yasudah, Ilham berangkat dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikum salam warrahmatullah."

***

BERSAMBUNG

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...