Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

Kenyataan yang Menyedihkan

Begini, kau salah jika mengatakan aku sudah melupakanmu, itu persepsi yang salah bila diperuntukan untuk aku yang buktinya masih sangat sulit melupakanmu, gadis masalaluku. Kau mengatakan itu karena kau tidak pernah tau susahnya menjadi aku. Membiarkan semuanya mengalir katamu? Itu masih sulit aku mengerti, membiarkan mengalir seperti apa? Menggantung seperti itukah? Apa kau masih takut dengan masalalumu yang mengecewakanmu dulu? Aku minta maaf. Tapi ternyata sikapku sekarang menyakitimu, membuatmu semakin kecewa dan berpresepsi lebih tentangku yang kau anggap sudah melupakanmu. Tapi perlu kau tahu, aku tidak semudah itu melupakanmu! Layaknya yang kau bilang. Meski aku sedang dikota baru, berkumpul dengan teman-trman baru, lingkungan baru, dan hari baru, nyatanya ada masalalu yang belum tuntas yang masih sangat terbayang. Oh ya, kalimat awalmu yang 'menjadi teman'. Aku masih bingung tentang hal itu, apa rasa yang dulu berakhir sebatas kalimat itu? Hanya teman? Lalu bagaiman...

Jalan Sendiri-Sendiri

Dulu pernah ada kata 'menjadi teman'. Tapi kata itu seperti lelucon yang sangat menggelikan setelah kita berjalan sendiri-sendiri seperti ini, apalagi kau sudah sangat jauh jaraknya, tak terkecuali komunikasi yang kau putus sendiri, entah aku harus berapa kali melapangkan hati melihat kenyataan itu, satu keputusan sepihak yang tak perlu persetujuanku, haha sepertinya memang aku tak pernah menjadi bagian yang terpenting ya, apalagi satu-satunya sosmed yang jadi tempat kita berteman sekarang lebih kau pilih untuk kau hapus kontakku. Oh ya apa kabar kau sekarang? Dikota orang, jaga baik-baik perilaku ya. Haha, mana bisa kau dengar, yang kau tahu aku tidak perduli lagi denganmu, kau anggap aku sudah berhasil melupakanmu, membuang jauh-jauh rasa yang dulu, mengubur dalam-dalam kenangan indah waktu dulu. Tapi asal kau tahu, itu semua salah! Kau kira itu semua sangat sangat mudah untuk aku lakukan? Haha mana mungkin, nyatanya itu sangat sangat sulit untukku. Kau harus tau itu!. Berj...

Keindahan yang tak bisa dirasa

Kau didepan sana, dengan senyum yang terus mengembang tak henti-henti. Matamu tak lagi membeku, kini yang ada hanya mata hujan yang meneduhkan, yang membuat siapapun yang memandangnya akan ikut terhanyut dalam rintiknya. Kau disana bersama masa lalumu, masa lalu yang pernah membuat kehidupanmu membatu tak berasa, yang membuat mata itu bertahun-tahun tak menampakkan keindahannya, yang ada hanya kehampaan. Namun sekarang yang kulihat semua terasa kembali, seiring dengan kedatangan masalalu yang masih tetap kau rindukan. Apa kau tahu aku sekarang sedang berdiri memperhatikan kalian berdua? Memperhatikan kalian yang sedang bersenda gurau dengan tawa yang lepas. Selama ini yang kuharap adalah bisa mengajakmu tertawa bersama seperti itu, melihat setiap lengkungan senyum yang tak segan-segan untuk kau tunjukkan, namun nyatanya sampai sekarang aku tak pernah melihat dan merasakan itu, tentu hanya saat bersamaku. Yaa, jangan salahkan aku yang terus menyalahi keadaan. Karena memang aku bukan a...

Si Dingin yang Mencinta

Wajahmu yang dingin mampu membekukan lututku ketika berdiri, mata tajammu juga mampu membiusku dalam ketegunan. Apa kau merasakan itu? Apa kau tahu bahwa aku sedang dalam posisi takut bercampur grogi karena ada didekatmu sekarang? Sekarang aku mulai melihat bibirmu mulai berucap kata-kata indah yang mampu membuatku melayang... Apa kau bilang? Mulai sekarang aku akan menjadi bagian hidupmu yang terindah? Apa kau tak salah mengatakan itu?. Gadis aneh yang selalu bertingkah konyol didepanmu, sekarang menjadi bagian terpenting dalam hatimu? Aah mungkin kau hanya ingin mengerjaiku yang selalu bersikap aneh didepanmu, kau ingin lihat aku yang salah tingkah bukan?. Kini mata itu semakin dingin, membuat setiap organ tubuhku ikut membeku. Matanya sekarang sedang menakutiku, yaa menakutiku, aku takut. Wajahnya menandakan keseriusan, tidak ada rasa bercanda atau mengerjai. Lalu bagaimana ini? Aku tidak tahu dengan hatimu yang sebenarnya, apa kau tidak merasa ilfeel melihat tingkahku selama ini...

Salah Tamu, Bukan Tuan Rumah

Hanya orang jahat yang datang dikehidupan orang lain, mengacaukan semua kebahagian itu, kebahagian yang susah payah dijaga oleh dua hati. Namun tamu yang tak mempunyai rasa, datang begitu saja tanpa menghiraukan ada satu hati yang tersakiti nantinya. Tamu tidak akan hadir jika tidak dipersilahkan oleh tuan rumahnya. Ya, tuan rumah yang salah. Tapi apakah tamu tidak salah? Hanya dua alasan tamu salah atau tidak, yaitu untuk kebaikan atau keburukan. Jika untuk kebaikan, dia tidak akan menghancurkan kehidupan sang tuan rumah, tapi jika memang dari awal berniat buruk, dengan segala cara dia akan melakukannya agar hancur kehidupan orang itu. Jadi, jangan salahkan tuan rumah jika tamu hadir dari awal untuk mengacaukan kebahagian tuan rumah dengan pasangannya. Tuan rumah hanya perlu selektif dan berfikir panjang. Niat baik atau burukkah sang tamu. Entah, perumpamaan tadi tepat atau tidak. Tapi seseorang yang jahat dan tidak punya hati, tidak menghiraukan kebahagian orang lain yang dijaga se...

Jangan Salahkan Waktu

Read : http://w.tt/1NK3voC Setelah aku sadar bahwa hanya aku yang tersakiti selama ini, apa kau sedikitpun tak menyadarinya? Aku hanya secuil dari bagian hidupmu, yang tak pernah kau lirik bahkan kau pandang. Aku hanya alunan lagu melow yang tak pernah dan tak ingin kau dengar, ya karena kau tak suka dengan lagu kalem seperti itu. Tapi apa pernah kau mencoba mendengarkannya, cobalah, mungkin kau sedikit tertarik, cobalah dengar lagunya, aku tak berharap kau mencoba melihatku. Biarkan aku mengubur dalam-dalam rasa yang tak mungkin terbalas, rasa yang hanya menyakiti dan menyesakkan. Dan semoga kau tak pernah merasakannya, biarkan aku yang sakit, dan kau tidak. Aku hanya takut kau tak mampu. Dan sejak beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat kau menyuruhku melupakan semuanya, aku seharusnya menyutujuinya dan tak ambil resiko seperti halnya sekarang. Bertahan namun hanya memendam, sedangkan disana entah kau sudah berbahagia. Sekarang siapa yang harus aku salahkan? Kau? Kau tidak layak...

Teruntuk Ayah di Surga

Dia bukan laki-laki yang tampan, bukan juga orang yang memiliki banyak harta. Dia hanya laki-laki sederhana yang begitu setia mencintai istrinya, menyayangi anaknya. Iya, dia ayah. Ayahku. Ayah terhebatku.. Dia yang mengajariku arti sebuah kesabaran, memaafkan dan tak membalas perbuatan orang yang jahat. Dia ayahku. Aku bangga memiliki ayah seperti dia. Tidak ada laki-laki teromantis didunia kecuali dia. Dia yang rela berkorban hanya untuk keluarga dan anak-anaknya. Ayah yang tak pernah bosan bekerja membanting tulang untuk keluarganya. Ayah yang selalu bersyukur ketika pulang bekerja dan bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya ini. Dan aku rindu saat-saat seperti itu. Aku rindu sosokmu. Sosok yang tak pernah! Tak pernah mengeluh. Yang selalu menghiasi hari-harinya dengan senyuman kecilnya. Senyuman kecil penutup rasa lelahnya. Kecil, namun begitu berarti bagi yang menikmatinya. Dan yang paling aku suka darinya adalah kesabaran, ketulusan memberi, dan memaafkan. Dia orang yang...

Persimpangan Jalan

Ternyata aku dan kau sudah sangat jauh ya, sampai-sampai aku tidak lagi bisa berharap melihatmu. Jarakmu sekarang sudah sangat jauh, dan aku yakin kau sudah sibuk ditempat barumu itu. Aku tadi tidak sengaja lewat jalan kerumahmu, tiba-tiba ada rasa harap kau dan aku berjumpa meski sekilas. Kau tahu tidak? Tadi aku begitu antusias untuk melihat setiap sisi jalan, berharap mataku menemukan sosokmu. Tapi nyatanya disepanjang jalan aku tak menemukanmu, tidak ada sosok yang sedang aku cari. Dan kini aku baru sadar bahwa kau tidak ada lagi dikota ini. Ya, semoga kau baik-baik saja dikota barumu. Aku tahu sekali kau orang yang mudah bergaul, dan aku yakin disana kau juga sudah menemukan banyak teman, semoga temanmu baik-baik ya, yang bisa jaga dirimu dan mengajakmu dalam hal yang lebih baik. Semoga disana kau juga menjadi lebih baik dan mendapatkan yang lebih baik pula. Semoga disana juga kau bisa melupakan semua, semua yang pernah saling tersakiti. Semoga lupa dengan seseorang yang pernah...

Menjagamu dalam Diam

Menjagamu dalam Diam Baca lanjutannya di http://w.tt/1NK3voC “Abu Ayyub Al-Anshari r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, tidak dihalalkan bagi seorang muslim memusuhi saudaranya lebih dari tiga hari sehingga jika bertemu saling berpaling muka, dan sebaik-baik keduanya ialah yang mendahului memberi salam.” Kini Ilham dan Aldi sedang mendengarkan pengajian bertemakan "Larangan Memutus Tali Silaturahmi" yang sedang dikupas maknanya oleh Ustadz Habsy di pesantren Al-Hikmah miliknya. "Santriwan Santriwati, sesungguhnya sudah menjadi sunnatullah bahwa hubungan sesama manusia tidaklah selamanya baik, tidak ada problem dan pertentangan. Hidup adalah perjuangan, tantangan, pengorbanan, dan sekaligus perlombaan antar sesama manusia. Tidak heran kalau terjadi gesekan antar sesama dan tidak mungkin dapat dihindarkan.Namun demikian, gesekan atau permusuhan tersebut jangan sampai diperpanjang hingga melebihi tiga hari, yang ditandai dengan tidak saling menegur sapa dan sal...

Hatiku, Bukan Hatimu

Coba katakan satu hal. Satu hal saja, yang menyakitkan. Agar dengan sukarela aku mulai membiasakan diri membencimu, oh tidak tidak, melupakanmu maksudku. Yaa, melupakanmu. Selama ini aku terlalu sibuk menilik hatimu, dan menjaga perasaanmu. Padahal hatiku sendiri sakit karenamu, dan kau?! Apa pernah menjaga perasaanku?. Mungkin kau hanya menganggap semuanya biasa, tapi apa kau pernah mengerti bahwa satu sapamu saja akan meruntuhkan semua pertahananku? Pertahanan yang selama ini aku bangun dengan susah payah, berharap tak akan ada yang bisa meruntuhkan. Namun kali ini, perkiraanku jauh dari kenyataan. Nyatanya aku tidak bisa mempertahankan itu. Sekarang apa usahaku selama ini tidak berhasil? Apa aku kembali dalam rasa yang dulu, yang tidak terjamah oleh orang lain, Dan hanya kau yang bisa. Kenapa aku tidak bisa berhenti!. Jika melupakan terasa sesulit ini, aku ingin memilih untuk tak mengenalmu dari awal. Tak mau menjawab sapamu, tak mau memberi ruang untuk saling bertukar pikiran...