Langsung ke konten utama

Si Dingin yang Mencinta

Wajahmu yang dingin mampu membekukan lututku ketika berdiri, mata tajammu juga mampu membiusku dalam ketegunan. Apa kau merasakan itu? Apa kau tahu bahwa aku sedang dalam posisi takut bercampur grogi karena ada didekatmu sekarang?
Sekarang aku mulai melihat bibirmu mulai berucap kata-kata indah yang mampu membuatku melayang...
Apa kau bilang? Mulai sekarang aku akan menjadi bagian hidupmu yang terindah? Apa kau tak salah mengatakan itu?. Gadis aneh yang selalu bertingkah konyol didepanmu, sekarang menjadi bagian terpenting dalam hatimu? Aah mungkin kau hanya ingin mengerjaiku yang selalu bersikap aneh didepanmu, kau ingin lihat aku yang salah tingkah bukan?.
Kini mata itu semakin dingin, membuat setiap organ tubuhku ikut membeku. Matanya sekarang sedang menakutiku, yaa menakutiku, aku takut. Wajahnya menandakan keseriusan, tidak ada rasa bercanda atau mengerjai. Lalu bagaimana ini? Aku tidak tahu dengan hatimu yang sebenarnya, apa kau tidak merasa ilfeel melihat tingkahku selama ini ketika bertemu denganmu?
Bibirnya kembali mengucap, berucap sesuatu yang membuat kebekuan itu melebur dan menjadi ketenangan yang damai. Kau menyakinkan itu, meyakinkan akan rasamu yang tak pernah selucu itu, kau mengatakan akan hatimu yang sulit kau terka sendiri. Kau begitu yakin, bahwa itu hal lain yang sedang menyelimuti hatimu, yang mencoba mengobrak-abrik pertahananmu ketika bertemu denganku, meski itu sekilas.
Dan kau tahu sekarang apa yang aku rasa? Aku terlalu melebur sekarang, aku terlalu meleleh. Sudah cukup katakan hal itu, cukup, aku takut aku tak bisa lagi menopang organ tubuhku sendiri.

Manusia dingin yang membuatku terasa hangat~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...