Read : http://w.tt/1NK3voC
Setelah aku sadar bahwa hanya aku yang tersakiti selama ini, apa kau sedikitpun tak menyadarinya? Aku hanya secuil dari bagian hidupmu, yang tak pernah kau lirik bahkan kau pandang. Aku hanya alunan lagu melow yang tak pernah dan tak ingin kau dengar, ya karena kau tak suka dengan lagu kalem seperti itu. Tapi apa pernah kau mencoba mendengarkannya, cobalah, mungkin kau sedikit tertarik, cobalah dengar lagunya, aku tak berharap kau mencoba melihatku.
Biarkan aku mengubur dalam-dalam rasa yang tak mungkin terbalas, rasa yang hanya menyakiti dan menyesakkan. Dan semoga kau tak pernah merasakannya, biarkan aku yang sakit, dan kau tidak. Aku hanya takut kau tak mampu.
Dan sejak beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat kau menyuruhku melupakan semuanya, aku seharusnya menyutujuinya dan tak ambil resiko seperti halnya sekarang. Bertahan namun hanya memendam, sedangkan disana entah kau sudah berbahagia.
Sekarang siapa yang harus aku salahkan?
Kau? Kau tidak layak aku salahkan, karena kau sudah mengakhirinya sejak awal.
Aku? Apa aku bisa melupakan semuanya dengan midah, apa aku masih bisa disalahkan.
Lalu apa? Takdir? Takdir tidak pernah salah, Allah sudah mengaturnya dengan sangat sangat benar.
Lalu? Mungkin hanya waktu yang salah. Karena waktu yang mempertemukan kau dan aku tapi tak pernah bisa menyatukan.
Mungkin juga dengan berjalannya waktu, semua akan hilang, bahkan ingatanku tentang kau juga akan hilang tak berbekas.
Jadi apa waktu juga disalahkan? Sepertinya tidak.
Tapi sekarang, saat semuanya hampir sempurna hidupku, tanpa pernah mencoba memikirkan tentangmu yang menyakitkan. Namun beberapa hari yang lalu, sosokmu kembali dalam sekelumpit hidupku, memperlihatkan wajahnya yang teduh dan tak berbeku seperti saat dulu. Maumu apa? Mau aku jatuh dipesonamu yang memabukkan itu lagi? Diwajah bekumu saja aku lemah terpesona, lalu sekarang kau datang dengan wajah teduhmu. Jadi apa aku nanti?
Aku tak bisa berfikir dengan jernih saat ini, setelah tadi pertemuan yang tak terbilang sekilas terjadi. Aku bisa rasakan rasa hangat didekatmu, bukan sedekat berpelukan, tapi sedekat jarak yang bukan mahram. Angin berhembus pun terasa hangat.
Tuhan, jangan biarkan aku terhipnotis oleh orang yang sama.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu