Langsung ke konten utama

Keindahan yang tak bisa dirasa

Kau didepan sana, dengan senyum yang terus mengembang tak henti-henti. Matamu tak lagi membeku, kini yang ada hanya mata hujan yang meneduhkan, yang membuat siapapun yang memandangnya akan ikut terhanyut dalam rintiknya.
Kau disana bersama masa lalumu, masa lalu yang pernah membuat kehidupanmu membatu tak berasa, yang membuat mata itu bertahun-tahun tak menampakkan keindahannya, yang ada hanya kehampaan. Namun sekarang yang kulihat semua terasa kembali, seiring dengan kedatangan masalalu yang masih tetap kau rindukan.
Apa kau tahu aku sekarang sedang berdiri memperhatikan kalian berdua? Memperhatikan kalian yang sedang bersenda gurau dengan tawa yang lepas. Selama ini yang kuharap adalah bisa mengajakmu tertawa bersama seperti itu, melihat setiap lengkungan senyum yang tak segan-segan untuk kau tunjukkan, namun nyatanya sampai sekarang aku tak pernah melihat dan merasakan itu, tentu hanya saat bersamaku. Yaa, jangan salahkan aku yang terus menyalahi keadaan. Karena memang aku bukan alasan disetiap tawamu, karena yang menjadi alasan hanya sosok masalalumu yang begitu spesial, yang sekarang sudah ada disampingmu.
Bahkan status kita sekarang tidak ada apa-apanya dengan statusmu dulu dengan dia. Aku dan kau sama sekali tak ada yang istimewa, yang ada hanya hambar.
Lalu untuk apa ini terjadi? Untuk apa kata-kata itu terucap? Untuk apa?
Untuk menghancurkanku? Karena sudah berhasil kau bodohi, dengan kau kembali pada masalalumu itu?.
Bagaimana dengan gadis itu yang tiba-tiba muncul dan mengambil posisiku? Apa dia yang bersekongkol denganmu? Atau malah akan menghancurkan kita berdua yang sama-sama bodoh. Kau, bodoh karena masih mengharapkan masalalu yang menyakitimu, yang meninggalkanmu begitu saja. Dan aku, yang bodoh karena berharap dengan seseorang yang masih mengharapkan masalalunya.
Atau malah gadis itu yang bodoh, yang mencoba menyelip dikehidupan barumu.

Aku tidak sakit, aku hanya kecewa. Karena memang nyatanya masalalumu masih terus menghantui kehidupanmu dengan janji keindahan. Dan aku hanya segelintir hidupmu yang bisa saja kau sentil setelah datang masalalu yang sangat kau rindukan.

#ceritaberpart #ceritanyesek #fiksi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...