Dulu pernah ada kata 'menjadi teman'. Tapi kata itu seperti lelucon yang sangat menggelikan setelah kita berjalan sendiri-sendiri seperti ini, apalagi kau sudah sangat jauh jaraknya, tak terkecuali komunikasi yang kau putus sendiri, entah aku harus berapa kali melapangkan hati melihat kenyataan itu, satu keputusan sepihak yang tak perlu persetujuanku, haha sepertinya memang aku tak pernah menjadi bagian yang terpenting ya, apalagi satu-satunya sosmed yang jadi tempat kita berteman sekarang lebih kau pilih untuk kau hapus kontakku.
Oh ya apa kabar kau sekarang? Dikota orang, jaga baik-baik perilaku ya. Haha, mana bisa kau dengar, yang kau tahu aku tidak perduli lagi denganmu, kau anggap aku sudah berhasil melupakanmu, membuang jauh-jauh rasa yang dulu, mengubur dalam-dalam kenangan indah waktu dulu. Tapi asal kau tahu, itu semua salah! Kau kira itu semua sangat sangat mudah untuk aku lakukan? Haha mana mungkin, nyatanya itu sangat sangat sulit untukku. Kau harus tau itu!.
Berjalan sendiri-sendiri seperti ini rasanya sangat menyulitkan untukku, jujur. Aku ternyata terlalu merindu untuk melupakanmu, tapi aku terlalu malu untuk memulai kalimat itu. Aah tapi biarkan, kau sudah cukup bahagia mungkin dengan cara berjalan sendiri-sendiri seperti ini, mungkin seperti ini akan memudahkanmu untuk melupakanku. Yaa semoga kamu, jangan sangka aku akan semudah itu pula melupakan.
Mungkin dengan menghapus semua tentangku, akan memudahkanmu membuka lembaran baru yang lebih menyenangkan.
Silahkan Tuan Egois bermudah-ria melupa.
Jangan marah aku panggil tuan egois, bukan kau saja yang egois, aku juga. Yaa, kita sama-sama egois, gengsi, dan mementingkan diri sendiri. Sampai akhirnya keegoisan itu menjauhkan kita sekarang, memberi tembok jarak yang terbentang antara kita. Ini bukan salah kau, ini salahku yang tidak pernah mau mereda keegoisanku sedikit.
Daah, Tuan Egois.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu