Langsung ke konten utama

Jalan Sendiri-Sendiri

Dulu pernah ada kata 'menjadi teman'. Tapi kata itu seperti lelucon yang sangat menggelikan setelah kita berjalan sendiri-sendiri seperti ini, apalagi kau sudah sangat jauh jaraknya, tak terkecuali komunikasi yang kau putus sendiri, entah aku harus berapa kali melapangkan hati melihat kenyataan itu, satu keputusan sepihak yang tak perlu persetujuanku, haha sepertinya memang aku tak pernah menjadi bagian yang terpenting ya, apalagi satu-satunya sosmed yang jadi tempat kita berteman sekarang lebih kau pilih untuk kau hapus kontakku.
Oh ya apa kabar kau sekarang? Dikota orang, jaga baik-baik perilaku ya. Haha, mana bisa kau dengar, yang kau tahu aku tidak perduli lagi denganmu, kau anggap aku sudah berhasil melupakanmu, membuang jauh-jauh rasa yang dulu, mengubur dalam-dalam kenangan indah waktu dulu. Tapi asal kau tahu, itu semua salah! Kau kira itu semua sangat sangat mudah untuk aku lakukan? Haha mana mungkin, nyatanya itu sangat sangat sulit untukku. Kau harus tau itu!.

Berjalan sendiri-sendiri seperti ini rasanya sangat menyulitkan untukku, jujur. Aku ternyata terlalu merindu untuk melupakanmu, tapi aku terlalu malu untuk memulai kalimat itu. Aah tapi biarkan, kau sudah cukup bahagia mungkin dengan cara berjalan sendiri-sendiri seperti ini, mungkin seperti ini akan memudahkanmu untuk melupakanku. Yaa semoga kamu, jangan sangka aku akan semudah itu pula melupakan.
Mungkin dengan menghapus semua tentangku, akan memudahkanmu membuka lembaran baru yang lebih menyenangkan.

Silahkan Tuan Egois bermudah-ria melupa.
Jangan marah aku panggil tuan egois, bukan kau saja yang egois, aku juga. Yaa, kita sama-sama egois, gengsi, dan mementingkan diri sendiri. Sampai akhirnya keegoisan itu menjauhkan kita sekarang, memberi tembok jarak yang terbentang antara kita. Ini bukan salah kau, ini salahku yang tidak pernah mau mereda keegoisanku sedikit.

Daah, Tuan Egois.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...