Langsung ke konten utama

Teruntuk Ayah di Surga

Dia bukan laki-laki yang tampan, bukan juga orang yang memiliki banyak harta. Dia hanya laki-laki sederhana yang begitu setia mencintai istrinya, menyayangi anaknya. Iya, dia ayah. Ayahku. Ayah terhebatku..

Dia yang mengajariku arti sebuah kesabaran, memaafkan dan tak membalas perbuatan orang yang jahat.

Dia ayahku.
Aku bangga memiliki ayah seperti dia.
Tidak ada laki-laki teromantis didunia kecuali dia. Dia yang rela berkorban hanya untuk keluarga dan anak-anaknya.

Ayah yang tak pernah bosan bekerja membanting tulang untuk keluarganya. Ayah yang selalu bersyukur ketika pulang bekerja dan bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya ini.
Dan aku rindu saat-saat seperti itu.
Aku rindu sosokmu.
Sosok yang tak pernah! Tak pernah mengeluh. Yang selalu menghiasi hari-harinya dengan senyuman kecilnya. Senyuman kecil penutup rasa lelahnya. Kecil, namun begitu berarti bagi yang menikmatinya.
Dan yang paling aku suka darinya adalah kesabaran, ketulusan memberi, dan memaafkan. Dia orang yang paling lihai dalam semua itu, bahkan aku saja tak yakin bisa melakukannya. Sampai sekarang aku masih belajar menjadi sepertinya.

Ayah, anakmu ini begitu rindu suaramu. Begitu rindu pelukanmu. Begitu rindu manjaanmu.

Rindu waktu yang pernah kita lalui bersama-sama, rindu canda jenakamu, rindu kecup hangat dikeningku.

Ayah, tenang disurga Allah ya.

Aku yakin, Allah memberi tempat yang paling indah disurganya untukmu. Aku yakin Allah memberi nikmat surga untuk hambanya yang sesabar dan sebaik kau Ayah. Aku yakin.

Yah, i will always love you :)

Tulisan kecil dari anak manja untuk ayahnya yang sangat dicintai dan dirindukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...