Coba katakan satu hal. Satu hal saja, yang menyakitkan. Agar dengan sukarela aku mulai membiasakan diri membencimu, oh tidak tidak, melupakanmu maksudku. Yaa, melupakanmu.
Selama ini aku terlalu sibuk menilik hatimu, dan menjaga perasaanmu. Padahal hatiku sendiri sakit karenamu, dan kau?! Apa pernah menjaga perasaanku?.
Mungkin kau hanya menganggap semuanya biasa, tapi apa kau pernah mengerti bahwa satu sapamu saja akan meruntuhkan semua pertahananku? Pertahanan yang selama ini aku bangun dengan susah payah, berharap tak akan ada yang bisa meruntuhkan. Namun kali ini, perkiraanku jauh dari kenyataan. Nyatanya aku tidak bisa mempertahankan itu.
Sekarang apa usahaku selama ini tidak berhasil? Apa aku kembali dalam rasa yang dulu, yang tidak terjamah oleh orang lain, Dan hanya kau yang bisa.
Kenapa aku tidak bisa berhenti!.
Jika melupakan terasa sesulit ini, aku ingin memilih untuk tak mengenalmu dari awal.
Tak mau menjawab sapamu, tak mau memberi ruang untuk saling bertukar pikiran, dan tak mau membiarkanmu perlahan mengisi kekosonganku.
Mungkin itu adalah pilihan terbaik dari yang baik.
Hanya saja, aku tidak bisa membujuk waktu untuk berputar dimasa itu.
Dan aku terlalu naif jika menganggap masa itu adalah hal biasa.
Namun kini, kebahagian secuil dari masa itu tidak ada apa-apanya dari usahaku mati-matian melupakanmu.
Moveup.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu