Langsung ke konten utama

Salah Tamu, Bukan Tuan Rumah

Hanya orang jahat yang datang dikehidupan orang lain, mengacaukan semua kebahagian itu, kebahagian yang susah payah dijaga oleh dua hati. Namun tamu yang tak mempunyai rasa, datang begitu saja tanpa menghiraukan ada satu hati yang tersakiti nantinya.
Tamu tidak akan hadir jika tidak dipersilahkan oleh tuan rumahnya. Ya, tuan rumah yang salah. Tapi apakah tamu tidak salah? Hanya dua alasan tamu salah atau tidak, yaitu untuk kebaikan atau keburukan. Jika untuk kebaikan, dia tidak akan menghancurkan kehidupan sang tuan rumah, tapi jika memang dari awal berniat buruk, dengan segala cara dia akan melakukannya agar hancur kehidupan orang itu. Jadi, jangan salahkan tuan rumah jika tamu hadir dari awal untuk mengacaukan kebahagian tuan rumah dengan pasangannya. Tuan rumah hanya perlu selektif dan berfikir panjang. Niat baik atau burukkah sang tamu.
Entah, perumpamaan tadi tepat atau tidak. Tapi seseorang yang jahat dan tidak punya hati, tidak menghiraukan kebahagian orang lain yang dijaga sejak dulu. Dia hanya ingin mendapatkan apa yang dia inginkan.

Merelakan kebahagian yang dulu, hanya untuk merebut kebahagian orang lain. Dia tidak pernah sadar, dulu dia sudah sangat sangat bahagia, oh mungkin tidak. Karena yang dia fikirkan hanya untuk kebahagiaannya sendiri, yaitu dengan cara merebut kebahagiaan orang lain.
Tapi apakah dia tidak pernah mencoba menilik masa lalunya, bahwa ada yang sebenarnya membuat bahagia tapi malah lebih memilih hal yang tidak membuatnya bahagia. Ya seperti itulah.

Manusia tidak ada yang sempurna, semua jauh dari kata itu. Tapi setidaknya manusia bisa memperbaiki diri. Mensyukuri apa yang sudah diberikan, karena apa yang sudah diberikan oleh Allah adalah sebaik-baiknya. Bukan mencari yang lebih, tapi hanya membuatnya menjadi orang yang jahat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...