Begini, kau salah jika mengatakan aku sudah melupakanmu, itu persepsi yang salah bila diperuntukan untuk aku yang buktinya masih sangat sulit melupakanmu, gadis masalaluku.
Kau mengatakan itu karena kau tidak pernah tau susahnya menjadi aku. Membiarkan semuanya mengalir katamu? Itu masih sulit aku mengerti, membiarkan mengalir seperti apa? Menggantung seperti itukah? Apa kau masih takut dengan masalalumu yang mengecewakanmu dulu? Aku minta maaf.
Tapi ternyata sikapku sekarang menyakitimu, membuatmu semakin kecewa dan berpresepsi lebih tentangku yang kau anggap sudah melupakanmu. Tapi perlu kau tahu, aku tidak semudah itu melupakanmu! Layaknya yang kau bilang. Meski aku sedang dikota baru, berkumpul dengan teman-trman baru, lingkungan baru, dan hari baru, nyatanya ada masalalu yang belum tuntas yang masih sangat terbayang.
Oh ya, kalimat awalmu yang 'menjadi teman'. Aku masih bingung tentang hal itu, apa rasa yang dulu berakhir sebatas kalimat itu? Hanya teman? Lalu bagaimana dengan rasa kita yang masih sama seperti dulu? Apa kau mau kita sama-sama merubah rasa itu menjadi rasa seorang teman? Perlu kau tahu juga, rasa teman mudah berubah menjadi rasa cinta, tapi rasa cinta tidak akan bisa berubah menjadi rasa teman. Itu makanya aku bimbang ketika kau mengatakan hal itu.
Bukannya aku tidak mau berteman denganmu, tapi aku terlalu takut ada hati lain yang mengisi harimu dan kau menganggapku hanya seorang teman, dan celakanya aku menjadi teman curhatmu yang seakan akan aku sudaj sangat rela melepaskanmu untuk hati lain.
Tidak gadis masalaluku, tidak. Aku masih sangat susah membiarkan semuanya mengalir, apalagi merubah semuanya menjadi sebatas teman.
Dan kau benar, aku memang egois. Kau tidak perlu takut menyalahkanku, karena memang aku egois. Hatiku terlalu sempit sampai akhirnya berakhir dengan berjalan sendiri-sendiri katamu. Aku terlalu meninggikan gengsi, padahal ada sesuatu yang sangat takut aku tinggalkan. Dan sekarang kesalahanku, memutuskan segala komunikasi denganmu, sampai tidak ada lagi tempat kita saling bertitik temu dan saling menyapa. Aku terlalu gegabah melakukan hal itu. Lalu sekarang aku harus apa? Aku hanya bisa menilik tulisan-tulisan hatimu yang kecewa karenaku, dan aku hanya bisa membalas dengan tulisan amburadul, yaa seperti hatiku.
Maafkanlah, gadis masalaluku.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu