Langsung ke konten utama

Kenyataan yang Menyedihkan

Begini, kau salah jika mengatakan aku sudah melupakanmu, itu persepsi yang salah bila diperuntukan untuk aku yang buktinya masih sangat sulit melupakanmu, gadis masalaluku.
Kau mengatakan itu karena kau tidak pernah tau susahnya menjadi aku. Membiarkan semuanya mengalir katamu? Itu masih sulit aku mengerti, membiarkan mengalir seperti apa? Menggantung seperti itukah? Apa kau masih takut dengan masalalumu yang mengecewakanmu dulu? Aku minta maaf.
Tapi ternyata sikapku sekarang menyakitimu, membuatmu semakin kecewa dan berpresepsi lebih tentangku yang kau anggap sudah melupakanmu. Tapi perlu kau tahu, aku tidak semudah itu melupakanmu! Layaknya yang kau bilang. Meski aku sedang dikota baru, berkumpul dengan teman-trman baru, lingkungan baru, dan hari baru, nyatanya ada masalalu yang belum tuntas yang masih sangat terbayang.
Oh ya, kalimat awalmu yang 'menjadi teman'. Aku masih bingung tentang hal itu, apa rasa yang dulu berakhir sebatas kalimat itu? Hanya teman? Lalu bagaimana dengan rasa kita yang masih sama seperti dulu? Apa kau mau kita sama-sama merubah rasa itu menjadi rasa seorang teman? Perlu kau tahu juga, rasa teman mudah berubah menjadi rasa cinta, tapi rasa cinta tidak akan bisa berubah menjadi rasa teman. Itu makanya aku bimbang ketika kau mengatakan hal itu.
Bukannya aku tidak mau berteman denganmu, tapi aku terlalu takut ada hati lain yang mengisi harimu dan kau menganggapku hanya seorang teman, dan celakanya aku menjadi teman curhatmu yang seakan akan aku sudaj sangat rela melepaskanmu untuk hati lain.
Tidak gadis masalaluku, tidak. Aku masih sangat susah membiarkan semuanya mengalir, apalagi merubah semuanya menjadi sebatas teman.

Dan kau benar, aku memang egois. Kau tidak perlu takut menyalahkanku, karena memang aku egois. Hatiku terlalu sempit sampai akhirnya berakhir dengan berjalan sendiri-sendiri katamu. Aku terlalu meninggikan gengsi, padahal ada sesuatu yang sangat takut aku tinggalkan. Dan sekarang kesalahanku, memutuskan segala komunikasi denganmu, sampai tidak ada lagi tempat kita saling bertitik temu dan saling menyapa. Aku terlalu gegabah melakukan hal itu. Lalu sekarang aku harus apa? Aku hanya bisa menilik tulisan-tulisan hatimu yang kecewa karenaku, dan aku hanya bisa membalas dengan tulisan amburadul, yaa seperti hatiku.

Maafkanlah, gadis masalaluku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...