Langsung ke konten utama

Persimpangan Jalan

Ternyata aku dan kau sudah sangat jauh ya, sampai-sampai aku tidak lagi bisa berharap melihatmu. Jarakmu sekarang sudah sangat jauh, dan aku yakin kau sudah sibuk ditempat barumu itu.
Aku tadi tidak sengaja lewat jalan kerumahmu, tiba-tiba ada rasa harap kau dan aku berjumpa meski sekilas. Kau tahu tidak? Tadi aku begitu antusias untuk melihat setiap sisi jalan, berharap mataku menemukan sosokmu. Tapi nyatanya disepanjang jalan aku tak menemukanmu, tidak ada sosok yang sedang aku cari.
Dan kini aku baru sadar bahwa kau tidak ada lagi dikota ini. Ya, semoga kau baik-baik saja dikota barumu. Aku tahu sekali kau orang yang mudah bergaul, dan aku yakin disana kau juga sudah menemukan banyak teman, semoga temanmu baik-baik ya, yang bisa jaga dirimu dan mengajakmu dalam hal yang lebih baik. Semoga disana kau juga menjadi lebih baik dan mendapatkan yang lebih baik pula.
Semoga disana juga kau bisa melupakan semua, semua yang pernah saling tersakiti. Semoga lupa dengan seseorang yang pernah membuatmu kesal karena sifatnya, yang membuatmu marah dan benci karena tingkahnya, dan yang membuatmu masih bertahan karena mencintainya.
Semoga kau cepat lupa ya, ya hitung-hitung balasan atas rasa kesalmu karena aku pergi tanpa alasan, yaa aku. Aku yang membuatmu marah, kesal, dan benci, maaf aku tidak bermaksud. Maaf karena semuanya begitu kacau untuk saat ini, maaf karena kembali 'belum' sebuah pilihan.

Ya, aku sadar ternyata tidak mudah melupakan, tidak mudah merubah rasa yang dulu tidak biasa menjadi biasa. Tidak semudah mengubah nasi menjadi bubur. Seberusaha bagaimanapun, tetap saja sama hasilnya.
Biarkan kau mulai lupa dan aku tidak. Mungkin disana, hal baru akan mempermudah untuk kau belajar melupa.

Melupakan tidak semudah yang aku fikirkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...