Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Mons

Saat kamu menanyakan bagaimana hatiku sekarang, jawabannya adalah tak baik-baik saja. Sungguh, ada sesuatu yang membuat hati rasanya nyeri. Apa kekecewaanmu masih tak berujung? Ini terlalu lama, dan aku semakin takut. Entah apa mungkin itu benar adanya, karena aku pun tak jelas tau atas hal itu. Tapi kenapa selucu ini, apa iya aku yang membesar-besarkan kekesalanku ini atas hati yang sedikit nyeri, atau memang kamu yang mulai... Ah entahlah. Hanya saja aku tak pernah mau itu terjadi. Kenapa setiap orang memilih bersikap acuh saat apa yang mulai diraihnya sudah dekat, kenapa? Apa salah, aku berfikiran seperti ini? Apa kah peka, atau tidak peka itu tergantung yang memberi kode? Kode yang seperti apa? Sedangkan kamu sendiri mulai acuh. Entahlah, aku hanya berharap apa yang menjadi harapan kita dulu benar adanya, dan tak hanya menjadi bualan semata.

Maaf, Mons

Maaf, jika ini membuatmu bingung, Jika ini membuatmu muak, jika ini membuatmu kesal, jika ini membuatmu kecewa, Dan jika semua ini menyakitimu. Aku sadar, aku bukan permata yang indah, bukan pula bidadari cantik, yang dengan sesuka hati memaksakan kehendak tanpa ada yang mau membantah. Aku hanya perempuan yang tak tau malu, menginginkan hal berlebih tentang apa yang aku anggap baik untuk kita, dan memaksakannya pada kita, membuatmu harus bersedia menurutinya. Meski satu kata bentuk kekecewaan tidak pernah kamu utarakan, namun aku bisa merasakan hal itu, sampai kapan kamu akan menyembunyikannya dariku. Entah kenapa, aku tiba-tiba ingin meminta maaf padamu, selama ini aku banyak mau, menuntut hal yang sebenarnya memberatkanmu, menjadikan keputusanku sebagai keputusanmu juga, padahal belum tentu kamu menyetujuinya. Aku tau kamu melakukan itu semua karenaku, rasa itu sangat berlebih, aku pun begitu. Tapi kenapa aku seegois ini, semunafik ini, yang tidak tau bagaimana hatinya yang sebe...

Cahaya Awan (Part 7)

"Terimakasih atas waktunya Pak." "Iya, saya terimakasih juga.. Saya permisi balik duluan. tidak apa-apa kan? Saya masih ada perlu lagi." "Oh iya Pak, tidak apa-apa, kita bicarakan hal ini lain waktu." "Baiklah, saya tinggal ya." "Loh Pak," Sebelum perempuan itu melanjutkan ucapannya, Arbani sudah menariknya terlebih dahulu, meninggalkan dua laki-laki yang masih duduk santai sepeninggalnya dengan Arbani. "Bukannya meeting kita belum selesai Pak?" Tanya Najwa. Langkahnya pun masih mengikuti laki-laki itu, bagaimana tidak, jika tangannya saja ditarik oleh Arbani. Setelah sampai diparkiran, Arbani menghentikan langkahnya dan melepas tangan perempuan itu, kemudian memperhatikan Najwa yang sedang bingung dengan tingkah laki-laki itu. "Katamu, kamu harus cepat-cepat ke panti. Kita akan kesana sekarang." Ucap Arbani akhirnya. "Tapi saya kira kita akan menyelesaikan meeting itu sampai tuntas Pak." "...

Cahaya Awan (Part 6)

"Hai Najwa." Suara bariton tiba-tiba saja muncul disamping Najwa, perempuan itu sedikit terhenyak, namun dia begitu tau suara siapa. "Iya Pak." Perempuan itupun membalas dengan senyuman. Hari ini laki-laki itu tampak cerah, sangat cerah, sampai untuk memandangnya pun Najwa takut. "Itu tadi Aqil bukan?" "Iya Pak, memang Kak Aqil." "Tumben nggak mampir?" "Katanya sih ada urusan, dia janji kalo pulang nanti bakal jemput saya.." Najwa tiba-tiba menunduk, dia ingat kejadian kemarin malam, saat Aqil tidak menepati janjinya, dan menyuruh Arbani untuk menjemput Najwa. "Oh ya Pak, saya minta maaf atas kejadian kemarin. Karna Kak Aqil, Pak Arbani jadi repot untuk jemput saya, padahal itu tidak seharusnya terjadi, Pak Arbani adalah atasan saya." "Kenapa?" Tanya Arbani, pertanyaan ambigu dan Najwa tidak bisa menangkap maksudnya. "Kenapa maksudnya Pak?" "Iya kenapa? Bukannya kita sudah menjad...

Cahaya Awan (Part 5)

"Gue tau ini bukan hal mudah buat lo, termasuk gue." Najwa memperhatikan laki-laki disampingnya. Mereka sekarang berada didalam mobil untuk mengantar perempuan itu berangkat kerja. Setelah acara makan malam dan keputusan yang diambil sepihak oleh Sarah, Najwa pergi kekamarnya, bukan bermaksud marah atau kesal, namun gadis itu ingin menenangkan diri. Kenyataan bahwa Bundanya memiliki persepsi lain tentang dirinya dan Aqil, dia memandang bahwa mereka cocok untuk menikah. "Gue pun sadar hal itu," Aqil melirik sebentar kearah Najwa dan kembali fokus menyetir. "Bunda sudah gue anggap sebagai ibu sendiri, dengan kehilangan kasih sayang seorang ibu selama 15 tahun, membuat gue merasakan perhatian Bunda lo seperti bentuk kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Tapi gue gak nyangka, kalo yang difikirkan Bunda lo berbeda, gue tau maksudnya baik, semua orangtua pun pasti memiliki maksud baik untuk anaknya. Mungkin dia merasa dengan kita menikah, kita akan mudah sal...

Cahaya Awan (Part 4)

"Terimakasih Pak, sudah mengantarkanku." Gadis itu tersenyum dan kemudian membuka pintu mobil yang membawanya bersama Arbani sampai dirumah. "Ya." Jawaban yang sangat singkat. Namun Najwa tidak ambil pusing, toh sebagai bos dia berhak atas itu. "Terimakasih sudah berusaha jadi temanku." Tambahnya yang berhasil membuat Najwa berhenti ketika pintu mobil sudah terbuka hampir setengah. Najwa tersenyum dibalik tubuhnya, setidaknya ini titik awal dimana laki-laki itu bisa menerima kenyataan bahwa selalu ada teman sejati didalam hidupnya, yang tanpa memakai kedok untuk berbuat baik untuknya. Pertama, Aqil, dan Najwa harap untuk yang kedua, sahabat laki-laki itu adalah dirinya. "Assalamualaikum Pak." Ucap gadis itu saat sudah ada diluar mobil. Dan Arbani tersenyum kearahnya, jenis senyuman tulus yang dibawanya dari syurga, adem rasanya. "Waalaikumsalam." Dan laki-laki itupun menutup kaca mobil, kemudian dnegan cepat membawa mobil ters...

Cahaya Awan (Part 3)

"Wa, mau bareng sama aku?" Tanya seorang gadis yang seumuran dengan Najwa, dihari pertamanya bekerja ini dia sudah mendapatkan teman yang sangat baik, meski gadis yang bernama Nilam itu hanya salah satu staff admin disana, namun sikapnya mudah membaur dengan Najwa yang menjadi sekretaris. "Aku dijemput sama Kak Aqil, Nilam.. Kamu duluan aja ya." Jawab Najwa sembari masih menelusuri jalanan yang ada didepannya, namun sosok yang dicarinya tidaklah muncul. "Aku jadi penasaran sama Kak Aqil, gimana orangnya. Bukan saudara, bukan keluarga, bukan pacar, bukan sahabat, tapi baiknya minta ampun sama kamu." Ucap Nilam menggoda. Sedangkan Najwa tersenyum lugu, tidak mengerti apa yang dimaksud temannya itu. "Nilam, plis deh jangan mulai." Gerutu Najwa, dan Nilam hanya tertawa geli melihat keluguan temannya itu. "Yaudah, aku pulang duluan ya." Ucap Nilam akhirnya. "Iya, hati-hati ya Lam." Jawab Najwa seiring tangan Nilam melam...

Cahaya Awan (Part 2)

"Oh ya, gimana sama Najwa?" Kini Aqil baru membuka topik tentang gadis itu, yang sudah sejak tadi dia anggurin hanya untuk ngobrol tentang banyak hal bersama Arbani. "Pekerjaannya cukup bagus untuk karyawan baru sepertinya." Jawab Arbani seadanya, benar yang difikirkan Najwa, laki-laki itu tidak semenakutkan para bos seperti yang dia baca dikebanyakan novel romance. "Bukan, bukan yang itu," Sahut Aqil, Najwa yang sebelumnya mendengar jawaban Arbani sedikit tenang dan bersikap biasa saja, sekarang berubah menegang dan keringat dingin, dia tahu betul, Aqil tidak akan membiarkan Najwa begitu saja tersanjung. Ah laki-laki itu sudah seperti musuh dalam selimut. "Terus?" Kata itu akhirnya muncul dari mulut Arbani. Itu artinya membuka kesempatan lebar untuk Aqil menggoda Najwa. "Apa dia tidak grogi saat menghadapi lo?" Tanyanya. Benarkan? Dia benar-benar menurunkan reputasiku. Gerutu Najwa dihatinya, gadis itu sudah bersungut-sungut ...

Cahaya Awan (Part 1)

"Bunda, Najwa berangkat dulu, doakan semoga hari ini lancar ya." Pagi-pagi sekali gadis itu sudah rapi lengkap dengan map berisi CV juga beberapa berkas yang diperlukan untuk interview. Dengan hijab berwarna peach, wajah gadis itu terlihat bersinar dan ceria. "Iya sayang, Bunda selalu mendoakan apa yang terbaik buat kamu. Semoga nanti kamu mendapat ilmu yang lebih luas lagi." Ucap Sarah sembari mengambil sebuah kotak makan diatas meja. "Ini, kamu bawa, jangan sampai apa yang sedang kamu raih menghalangi kebutuhanmu." Tambah wanita itu. Najwa tersenyum, kemudian mengambil kotak makan tersebut dari tangan Bundanya. "Terimakasih Bunda, tapi hari ini Najwa hanya sedang interview, belum tentu Najwa diterima kan?" "Diterima atau tidak, kamu harus makan bekal ini.. Kalo bisa, Aqil juga diajak makan, Bunda sudah melebihi makanannya kok." Ucap wanita itu sembari melirik keambang pintu, disana sudah ada laki-laki yang berjalan memasuki r...

Cahaya Awan (Prolog)

Seorang pria menghampiri gadis yang sedang menangis, dengan sebingkai foto ditangannya. Pria itu hanya diam, sampai akhirnya gadis itu tersadar kalau pria yang sedang sangat ia rindukan, dan ia sesali kepergiannya kini berada didepannya dengan seulas senyum yang penuh ketulusan, jenis senyum yang dibawanya dari syurga. "Ayah." Gadis bernama Najwa Aliman itu terperangah, dan tak terkecuali airmata yang tanpa ia sadari sudah turun dengan sendirinya. Seperti sekuncup bunga yang merindukan matahari untuk membuatnya mekar dengan sempurna, begitu pula kehidupan gadis itu sehari-hari sepeninggal Ayahnya. Kali ini, Najwa seperti jiwanya kembali, kenyataan bahwa Ayahnya telah meninggal ternyata hanya omong kosong belaka, buktinya gadis itu jelas-jelas melihat Ayahnya sekarang ada didepan matanya, mengulas senyum seperti biasanya, dan mengedipkan mata pelan yang membawa bulu matanya saling menyatu, masih sama, pria itu masih sama meneduhkan seperti dulu. Apa iya dia meninggalkan sem...