Langsung ke konten utama

Cahaya Awan (Part 2)

"Oh ya, gimana sama Najwa?"
Kini Aqil baru membuka topik tentang gadis itu, yang sudah sejak tadi dia anggurin hanya untuk ngobrol tentang banyak hal bersama Arbani.

"Pekerjaannya cukup bagus untuk karyawan baru sepertinya."
Jawab Arbani seadanya, benar yang difikirkan Najwa, laki-laki itu tidak semenakutkan para bos seperti yang dia baca dikebanyakan novel romance.

"Bukan, bukan yang itu,"
Sahut Aqil, Najwa yang sebelumnya mendengar jawaban Arbani sedikit tenang dan bersikap biasa saja, sekarang berubah menegang dan keringat dingin, dia tahu betul, Aqil tidak akan membiarkan Najwa begitu saja tersanjung.
Ah laki-laki itu sudah seperti musuh dalam selimut.

"Terus?"
Kata itu akhirnya muncul dari mulut Arbani. Itu artinya membuka kesempatan lebar untuk Aqil menggoda Najwa.

"Apa dia tidak grogi saat menghadapi lo?"
Tanyanya. Benarkan? Dia benar-benar menurunkan reputasiku. Gerutu Najwa dihatinya, gadis itu sudah bersungut-sungut kearah Aqil yang ada didepannya, dan dengan santainya laki-laki itu mengedikkan alis.

"Gue kurang tau."
Jawab Arbani. Uh rasain tuh Aqil, respon temannya tidak sama sekali mendukungnya.

Najwa mengambil nafas lega.

"Tapi lo tenang, kalo emang Najwa grogi ngadepin lo, itu artinya dia akan bekerja lebih cepat dari biasanya."
Tambah Aqil. Dan Najwa selalu hafal, setelah menggodanya, laki-laki itu pasti akan memujinya. Seperti cara permintaan maafnya. Namun Najwa tidak pernah bosan akan hal itu, karena hanya Aqil lah yang bisa melakukan itu, dan dia percaya, laki-laki itu bisa menjaga nama baiknya didepan semua orang.

"Oh ya?"
Arbani mencoba memastikan.

"Yaah, kalo lo nggak percaya coba aja."
Jawab Aqil.
"Tapi lebih baik nyobanya nanti, gue harus pergi dulu, lo tenang aja Wa, nanti kalo lo pulang gue jemput kok.."
Tambahnya sambil melihat Najwa, gadis itu mengangguk.

"Oke Kak.. Makasih banget ya, gue jadi ngerepotin lo terus."
Ucap Najwa.

"Cara lo ngerepotin nggak terlalu bikin gue repot kok. Slow aja, apa yang nggak buat lo."
Ucapnya yang membuat Najwa mendelik.
"Oke gue pamit, Assalamualaikum."
Laki-laki itu berdiri dan pergi bersama jawaban salam dari Arbani dan Najwa.

Kini tinggal kedua orang itu diatas meja, Najwa sendiri masih merapikan tempat makan yang isinya sudah habis oleh Aqil. Sedangkan Arbani?

"Sebenarnya hubungan kalian apa sih?"
Tanya Arbani tiba-tiba, Najwa heran ketika laki-laki membuka suaranya duluan.

"Teman,"
Najwa berfikir, kalau sekedar teman, Aqil tidak akan sepeduli itu dengannya.
"Sahabat,"
Kalau sekedar sahabat, Aqil tidak semenyebalkan itu dengannya.
"Saudara,"
Kalau saudara? Mereka tidak punya ikatan darah setetespun.
"Mm, lebih dari itu mungkin."
Najwa menyerah, dia tidak bisa menganggap Aqil salah satu diantaranya, karena semua itu pantas dijulukkan ke laki-laki itu.

"Musuh?"
Najwa terhenyak mendengar pilihan yang dikatakan Arbani. Musuh? Najwa tidak pernah mempunyai fikiran bahwa Aqil adalah musuhnya atas semua kebaikan yang sudah diberikan olehnya selama ini.

"Tidak mungkin dia musuh saya Pak, dia selalu baik untuk saya, jadi julukkan itu tidak pantas saya berikan untuknya."
Najwa menjawabnya dengan diakhiri senyuman.

"Kamu tau orang munafik? Bukankah itu perwujudan seorang musuh yang berbuat baik?"
Ucapannya membuat Najwa ketar-ketir. Dia mengernyitkan alisnya, tidak mengerti yang dimaksud bosnya, kenapa seakan-akan dia tidak menyukai Aqil, padahal dia sendiri adalah temannya.

"Tapi kadang seorang musuh akan benar-benar berubah baik jika sudah jatuh cinta dengan musuhnya."
Najwa semakin tidak mengerti. Apa maksud dari bahasan Arbani benar-benar membuatnya bingung.

"Mmm, maaf Pak, saya balik kekantor dulu, lima menit lagi jam istirahatnya habis.. Dan yang pasti, Kak Aqil adalah orang sudah sangat baik untuk saya, kalau memang nanti dia berubah menjadi musuh saya, itu artinya kesalahan tertuju pada diri saya, dia tidak akan berubah jika saya tidak menyakiti hatinya."
Jelas Najwa, sebelum benar-benar pergi.
"Saya permisi Pak."

"Najwa, tunggu."
Suara bariton itu kembali terdengar. Dan sekarang terdengar sedang mencegahnya.

"Iya Pak?"

Najwa melihat laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja yang ada dibalik jasnya.
Kemudian tangannya keluar membawa kertas berbentuk foto ukuran 3x4. Melihat itu Najwa baru ingat, kalau foto ayahnya masih ada di Arbani.

"Ini, saya kembalikan."
Dia menyodorkan foto itu, Najwa segera berbalik dan menuju Arbani untuk mengambil foto itu.

"Iya Pak, terimakasih."
Ucap Najwa.

"Saya yang terimakasih,"
Najwa mengernyitkan alisnya lagi, kenapa laki-laki itu tidak mudah dia tebak.
"Karena kamu saya mengerti apa itu teman yang sesungguhnya, yaitu dia yang tidak pernah berniat menyakiti hati temannya sendiri, baik dalam bentuk apapun."

Gadis itu tersenyum. Setidaknya, dia senang mendengar ucapan Arbani, dia fikir laki-laki itu hanya meminta pendapat Najwa, namun dalam bentuk perumpamaan antara dirinya dengan Aqil. Yah, dia mengerti.

Namun dibalik itu, seseorang yang sudah pamit sejak tadi ternyata masih berada tidak jauh dari sana, mendengarkan setiap pembicaraan kedua orang itu dengan jelas.
Aqil tersenyum miris, sejak tadi hatinya sedang khawatir meninggalkan Najwa bersama Arbani. Sampai-sampai dia tidak sampai hati untuk pergi.

"Kamu pun tidak tau Wa, musuh tidak hanya muncul karena kamu pernah menyakiti hatinya."
Ucap Aqil lirih.
"Semoga Allah selalu menjagamu."
Kemudian laki-laki itu berbalik pergi, seiring langkah Najwa yang sudah meninggalkan Arbani.

Sedangkan tanpa Aqil sadari, Arbani sudah tau keberadaannya tadi yang masih memperhatikan Arbani dengan Najwa.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...