Langsung ke konten utama

Cahaya Awan (Part 3)

"Wa, mau bareng sama aku?"
Tanya seorang gadis yang seumuran dengan Najwa, dihari pertamanya bekerja ini dia sudah mendapatkan teman yang sangat baik, meski gadis yang bernama Nilam itu hanya salah satu staff admin disana, namun sikapnya mudah membaur dengan Najwa yang menjadi sekretaris.

"Aku dijemput sama Kak Aqil, Nilam.. Kamu duluan aja ya."
Jawab Najwa sembari masih menelusuri jalanan yang ada didepannya, namun sosok yang dicarinya tidaklah muncul.

"Aku jadi penasaran sama Kak Aqil, gimana orangnya. Bukan saudara, bukan keluarga, bukan pacar, bukan sahabat, tapi baiknya minta ampun sama kamu."
Ucap Nilam menggoda.

Sedangkan Najwa tersenyum lugu, tidak mengerti apa yang dimaksud temannya itu.

"Nilam, plis deh jangan mulai."
Gerutu Najwa, dan Nilam hanya tertawa geli melihat keluguan temannya itu.

"Yaudah, aku pulang duluan ya."
Ucap Nilam akhirnya.

"Iya, hati-hati ya Lam."
Jawab Najwa seiring tangan Nilam melambaikan kesebuah taksi, dan mobil berwarna biru itupun berhenti tepat didepan mereka.

"Assalamualaikum Wa."

"Waalaikumsalam."

Seperginya Nilam, Najwa melihati jam yang ada ditangannya, waktu pun menunjukkan semakin petang, dan senja setelah ini akan muncul dipermukaan, menguarkan warna jingganya yang menenangkan.
Dan Aqil benar-benar melupakan janjinya untuk menjemput, lupa atau memang disengaja. Ah Najwa ingin sekali meneriakkan rasa kesalnya tepat ditelinga laki-laki itu. Namun bagaimana bisa, kalau sejak tadi ponsel Aqil tidak bisa dihubungi, pesan via WA, BBM, Line atau pesan singkatpun tidak ada respon sama sekali.

"Baiklah, gue kesel sekarang."
Dimasukkannya smartphone kedalam tas, dan matanya langsung menelusuri jalan, mencari taksi yang masih tersisa disore ini, jika dia memilih untuk jalan kaki itu tidak mungkin, karena jarak antara kantor dan rumahnya sangat jauh.

"Najwa."
Suara bariton membuatnya terhenyak, dia segera menoleh karena suara itu begitu dia kenal.

"Pak Arbani, bukannya sudah pulang?"
Ya, dialah pemilik suara itu. Hampir setiap saat dia mendengar suara itu, karena setiap saat itu pula namanya dipanggil untuk menghadap.

"Memang sudah pulang."
Ucap Arbani, meski tidak dingin namun rasanya membuat Najwa beku, laki-laki itu tidak suka berbasa-basi, oke, dia bos, dan bos tentu banyak pekerjaan, maka dari itu untuk berbasa-basi sedikit pun tidak ada waktu.
"Tapi Aqil menyuruh saya untuk kembali kesini, dan menjemputmu."

Menjemput? Atasan menjemput anak buahnya?
Ini terbalik Pak.
Najwa merasa tidak enak, baru hari pertama tapi dia sudah merepotkan bosnya sendiri, bahkan membuat laki-laki itu kembali kekantor hanya untuk menjemput Najwa. Ini semua gara-gara Aqil, sebenarnya laki-laki itu kemana? Dihubungi tidak bisa, tapi menyuruh Arbani pulang bareng dengan Najwa.

"Berfikir apa lagi? Ayo pulang."
Ucapnya yang sudah berbalik menuju mobilnya. Najwa sendiri yang sejak tadi tertegun, kini mengikuti langkah laki-laki itu menuju mobil.

Najwa melihat Arbani berjalan dikursi penumpang yang depan, dan membukakan pintu, sekilas Najwa mengernyitkan alisnya tidak mengerti, namun dia sadar ketika laki-laki itu berbicara.

"Masuklah."
Najwa benar-benar merasa tidak enak kali ini, untuk kedua kalinya.

"Maaf Pak, saya dibelakang saja."
Ucap Najwa, bukannya tidak menghargai, tapi ini sudah keterlaluan, seakan bosnya kali ini adalah dia.

"Kamu kira, saya supir kamu?"
Najwa sedikit menilik wajah laki-laki itu, tingginya yang hanya sepundak Arbani, cukup membuatnya susah, namun dia bisa melihat sekilas wajah laki-laki itu, tidak ada senyum, namun sangat meneduhkan.

Najwa akhirnya masuk kekursi penumpang yang ada didepan, dia semakin tidak enak ketika laki-laki itu berbicara seakan-akan menjadi supirnya jika dia duduk dikursi belakang.

Setelah Najwa sudah ada didalam mobil, Arbani pun berputar untuk masuk kekursi pengemudi. Dan tidak lama kemudian, mobil beserta isinya sudah melaju kencang, menyapu jalanan yang penuh debu, menembus udara yang bercampur polusi mobil lain, dan meraih senja yang ada didepannya, yang sudah muncul seiring kepergian kedua orang tersebut.

"Maaf Pak, nanti saya turun diseberang sana ya."
Ucap Najwa, yang sejak tadi didalam mobil itu dipenuhi keheningan.

"Bukannya rumahmu masih jauh?"
Tanya Arbani.

"Iya Pak memang, tapi saya mau cari Kak Aqil mungkin dia ada diseberang sana, biasanya dia kumpul sama organisasinya disana."
Jelas Najwa.

"Percuma, dia tidak ada disana."

"Kok Pak Arbani seyakin itu?"

"Yaa, memang Aqil bilang dia tidak ada disana."

"Lalu kemana Pak?"

"Mana saya tau."

"Bukannya Pak Arbani tadi dikasih tau sama Kak Aqil ya kalo dia nggak ada disana. Pasti Pak Arbani juga tau dia dimana?"

Tidak ada sahutan dari Arbani, sampai Najwa melihat kearahnya menunggu jawaban laki-laki itu.

"Jangan banyak bicara."
Jawabnya. Jauh dari perkiraan Najwa. Dan gadis itu akhirnya diam, dia harus tau diri, siapa yang menjadi lawan bicaranya sekarang, bukan Aqil atau ayahnya, tapi bosnya, seharusnya dia bisa menjaga cara bicaranya.

"Maafkan saya Pak."
Najwa menunduk, tanpa dia sadari, laki-laki disampingnya sekilas meliriknya dan kembali menyetir dengan senyumannya, jenis senyum menahan tawa.

"Yasudah, untuk lebih jelasnya kita mampir keseberang, dan kamu tetap saya antar sampai rumah."
Ucap Arbani.

"Tidak Pak, saya percaya dengan Pak Arbani kok. Kita bisa langsung balik saja."

"Saya tidak mau dianggap mengada-ngada."
Mobil itu pun benar-benar menepi diseberang jalan, tepat didepan sebuah gedung yang sengaja dibangun oleh Aqil untuk tempat berkumpulnya para anggota organisasinya.

"Terimakasih Pak, sebentar saya kedalam dulu."
Ucap Najwa membuka pintu mobil, namun ketika dia sudah ada diluar, Najwa juga melihat Arbani sudah ada diluar.

"Pak Arbani?"

"Sekedar ingin tau, bagaimana keadaan disana."

Najwa mengangguk, ya setidaknya dia bisa menunjukkan pada Arbani, bahwa diorganisasi yang dia sendiri termasuk anggotanya, mempunyai sikap kekeluargaan yang kental.
Terbukti, ketika salah satu anggota yang keluar dan melihat Najwa bersama Arbani ada didepan basecamp mereka.

"Hei Mbak Najwa."
Laki-laki itu usianya masih sekitar 19 tahun, dengan baby facenya dia terlihat banyak yang mengagumi.

"Assalamualaikum, Ali."
Sindir Najwa, karena tau kebiasaan laki-laki itu. Dan benar, remaja itu pun tersenyum malu sembari menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

"Waalaikumsalam Mbak.. Oh ya, dimana Kak Aqil?"
Tanya Ali sembari melihat kearah Arbani. Dia heran, kenapa ada laki-laki lain yang pergi dengan Najwa.

"Jadi benar Kak Aqil nggak ada disini?"
Tanya balik Najwa, jadi yang dikatakan Arbani itu benar.

"Nggak ada Mbak, tumben Mbak Najwa nggak tau, biasanya kan kalian selalu bareng-bareng."
Ucap Ali.

"Aku baru pulang kerja, dia sendiri bilangnya mau jemput aku, eh malah sampai sekarang nggak ada jemput."
Jawab Najwa.
"Oh ya Al, kenalin, dia bos baru aku. Namanya Pak Arbani."
Ucap Najwa yang sadar ada laki-laki lain disampingnya.

"Salam kenal Pak."
Ucap Ali sembari menyodorkan tangannya, namun tidak ada balasan dari laki-laki itu. Sampai akhirnya Ali kembali menurunkan tangannya, dia melirik kearah Najwa dengan perasaan yang aneh, semacam kesal. Sedangkan Najwa mengedipkan matanya, menyarankan Ali untuk bersikap biasa saja, dan sedikit sabar.
"Yaudah, aku duluan ya Mbak."
Ucapnya tanpa melihat kearah Arbani lagi.

Najwa juga merasa kesal, kenapa Arbani tidak membalas jabatan tangan Ali, sekedar bersilaturahmi, dan saling mengenal. Apa itu salah? Atau ini cara orang kaya bergaul? Ah, Najwa merasa dengam cara itu, akan sulit mendapatkan teman. Bagaimana Aqil bisa berteman dengan laki-laki itu?

"Sudah kan?"
Ucap laki-laki itu. Dia kembali masuk kedalam mobilnya.

Najwa masih merasa risih, dia harus cari cara bagaimana merubah sikap bosnya itu, meski itu bukan haknya, dan semua orang pun bebas bersikap bagaimana. Namun dia tidak mau, bosnya tidak mempunyai teman, bukan teman kerja, namun teman untuk sekedar tempatnya mencurahkan keluh kesahnya. Karena pada hakikatnya, semua orang yang ada didunia butuh seorang teman, bahkan Allah pun sudah menciptakan setiap makhluk dalam berbagai sifat dan sikap, hanya untuk agar mereka saling mengetahui dan saling mengerti.

"Pak maaf, saya boleh tanya?"
Ucap Najwa membuka suara, seiring mobil yang kembali melaju.

"Hmm."
Balasnya. Najwa merasa tidak enak. Apa Arbani tersinggung dengan sikap Ali tadi, atau dengan sikapnya yang seenaknya sendiri minta diantarkan ketempat tadi.

"Apa Pak Arbani tersinggung dengan sikap anak laki-laki tadi?"
Tanya Najwa yang membuat Arbani melihatnya, namun hanya sebentar, karena matanya kembali fokus kedepan.

"Tidak."
Jawabnya.

"Saya minta maaf, kalau sikap Ali tadi tidak baik pada Pak Arbani."
Ucap Najwa lagi.

"Dia adik kamu?"

"Bukan Pak."

"Lalu kenapa meminta maaf untuknya?"

"Karena seseorang berhak meminta maafkan sikap orang, jika itu menyinggung perasaan orang lain. Allah memberi berbagai cara untuk orang meminta maaf, termasuk dengan yang saya lakukan. Mungkin Ali tidak punya waktu untuk meminta maaf, jadi melalui saya, kesalahannya bisa termaafkan."

"Tidak perlu meminta maaf, karena dia tidak mempunyai kesalahan apapun."

Najwa ingin bertanya, lalu kenapa laki-laki itu tidak mau membalas jabatan tangan Ali. Namun nyalinya terlalu ciut, dia takut Arbani malah tersinggung.

"Baik kalo gitu Pak."
Ucap Najwa.
"Pak, saya mau tanya lagi boleh?"

"Yaa."

"Bagaimana Pak Arbani dengan Kak Aqil bisa saling kenal?"
Tanya Najwa, dibalik pertanyaan itu, wajah Arbani berubah, diamnya kini membuat dirinya sendiri beku. Dia tidak mungkin menceritakan awal perkenalannya dengan Aqil.

"Kenapa memangnya?"

"Tidak Pak, kalau Pak Arbani tidak mau cerita, tidak apa-apa kok Pak."

Laki-laki itu kembali diam.

"Aqil teman saya sejak kecil. Hanya dia yang tau sifat dan sikap saya. Dan hanya dia satu-satunya teman yang saya punya."
Ucap Arbani.

"Kenapa Pak?"
Najwa heran, bermilyar-milyar orang didunia, namun laki-laki itu hanya memiliki satu teman? Najwa mulai berfikir kalau hidup laki-laki itu lempeng banget.

"Karena saya menganggap teman hanya bisa merebut apa yang saya punya saja."
Najwa hampir terhenyak, dia kaget mendengar penjelasan bosnya itu. Bagaimana fikiran itu bisa muncul dibenak laki-laki yang terlihat baik dan bijaksana itu.

"Bagaimana Pak Arbani bisa menyimpulkan itu dengan mudah? Pak, dalam berteman, tanpa sengaja kita menyukai satu hal yang sama, dan kita pun ingin memilikinya, namun itu tidak mungkin, karena itu hanya satu, dan hanya salah satu orang yang bisa memilikinya. Makan teman yang benar-benar teman, akan merelakan itu untuk temannya, karena menurutnya segalanya tidak berguna selain seorang teman."
Jelas Najwa semampunya.

"Ya, saya pun coba berfikir seperti itu. Namun sebuah kenyataan kembali membuat keyakinan itu hilang."
Jawabnya.

"Saya bisa menjadi teman Pak Arbani, dan saya akan membuktikan bahwa apa yang Bapak fikirkan itu salah."
Ucap Najwa yang membuat Arbani melihatnya cukup lama, sampai membuat Najwa menundukkan kepalanya, jantungnya tiba-tiba berdegup cukup kencang. Ada apa ini?

Sedangkan Arbani masih memikirkan ucapan Najwa tadi, kalimatnya penuh kemantapan sampai Arbani bisa menyimpan langsung dimemorinya.

"Terimakasih."
Balas Arbani. Dia pun tersenyum simpul tanpa diketahui Najwa.

Najwa pun ikut tersenyum mendengar balasan Arbani, meski dia tau hal itu akan sulit dipercaya oleh laki-laki itu, namun dia akan berusaha jika teman dalam kehidupan Arbani itu ada, dan dia akan membuktikannya.

"Kita benar-benar berteman?"
Tanya Arbani lagi.

"Iya Pak."

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...