Langsung ke konten utama

Cahaya Awan (Part 6)

"Hai Najwa."
Suara bariton tiba-tiba saja muncul disamping Najwa, perempuan itu sedikit terhenyak, namun dia begitu tau suara siapa.

"Iya Pak."
Perempuan itupun membalas dengan senyuman. Hari ini laki-laki itu tampak cerah, sangat cerah, sampai untuk memandangnya pun Najwa takut.

"Itu tadi Aqil bukan?"

"Iya Pak, memang Kak Aqil."

"Tumben nggak mampir?"

"Katanya sih ada urusan, dia janji kalo pulang nanti bakal jemput saya.."
Najwa tiba-tiba menunduk, dia ingat kejadian kemarin malam, saat Aqil tidak menepati janjinya, dan menyuruh Arbani untuk menjemput Najwa.
"Oh ya Pak, saya minta maaf atas kejadian kemarin. Karna Kak Aqil, Pak Arbani jadi repot untuk jemput saya, padahal itu tidak seharusnya terjadi, Pak Arbani adalah atasan saya."

"Kenapa?"
Tanya Arbani, pertanyaan ambigu dan Najwa tidak bisa menangkap maksudnya.

"Kenapa maksudnya Pak?"

"Iya kenapa? Bukannya kita sudah menjadi teman, dan seorang teman harus bersikap baik pada teman lainnya bukan? Lagian waktu itu sudah diluar jam kerja, saya bukan lagi atasanmu."
Jelas Arbani, ah benar laki-laki itu moodnya lagi baik, tadi wajahnya terlihat cerah, sekarang bicaranya pun banyak. Najwa jadi suka melihat perubahan sikap laki-laki itu, semoga saja satu jam kedepan tidak berubah.

Najwa tersenyum sembari memperhatikan Arbani, laki-laki itu mencoba membenarkan dasinya, dan menegapkan tubuhnya, Najwa sadar bahwa mereka sudah memasuki ruangan kerja, disana banyak staff admin dan karyawan lainnya yang memulai pekerjaan dipagi ini.

"Pagi Pak."
Sapa salah seorang karyawan yang ada disana pula.

Dan apa? Bagaimana respon laki-laki itu?
Najwa sampai tidak bisa menelan ludahnya, karena apa yang dia lihat beberapa menit lalu, kini tidak bisa dia lihat lagi dari laki-laki itu. Arbani kembali dingin, dan sombong, sapaan karyawan tersebut tak dapat balasan apapun darinya.

Najwa berdecak pelan. Apa maunya Arbani sih?

Perempuan itu pun memperpelan langkahnya, menjadi ada dibelakang Arbani. Baiklah, jika laki-laki itu bersikap seperti tadi pada karyawannya, dan membuat semua karyawan tersebut menunduk hormat dan takut, dia pun harus melakukannya, dia juga karyawan seperti yang lainnya.

Setelah sampai diruangan Najwa yang ada disebelah ruang Arbani, laki-laki itu berhenti.

"Ada apa Pak? Ada yang bisa saya dibantu?"
Tanya Najwa pada Arbani.

Pertanyaan itu membuat Arbani berbalik memperhatikan Najwa yang sejak tadi berjalan dibelakangnya.

"Kenapa tadi kamu berjalan dibelakang saya?"

"Kenapa Pak? Bukannya memang harus seperti itu?"

Terdengar helaan nafas kasar dari laki-laki yang ada dihadapannya. Najwa melihat wajah laki-laki itu dengan seksama, mencoba menerka wajah dingin Arbani. Dan laki-laki itu pun memalingkan wajahnya, kemudian berbalik untuk kembali meneruskan langkahnya.

Seketika tubuh Najwa melemas. Dia menunggu dan berharap agar laki-laki itu bertanya kenapa dia melakukan itu. Tapi ternyata perkiraannya salah, laki-laki itu malah memilih bersikap acuh.

"Pak, kenapa anda seperti ini sih?"
Arbani berhenti. Syukurlah, ucapan Najwa didengarnya, setidaknya laki-laki itu akan menjawab.

"Jangan membicarakan hal selain pekerjaan dalam jam kerja."
Ucap laki-laki itu dibalik tubuhnya.
"Kumpulkan berkas-berkas dari bagian finance, saya mau mengeceknya, dan atur waktu untuk saya meeting dengan Ibu Fitrah."
Tambahnya lagi, dan Arbani sudah masuk keruangannya, meninggalkan rasa kesal dalam hati perempuan itu.

Manusia seperti apa sebenarnya seorang Arbani itu. Kenapa sikap sombong dan tak mau taunya itu sangat menyebalkan, kalau bisa, kalau bukan temannya, bukan juga bosnya, Najwa sudah pasti akan menyambit laki-laki itu dengan sandal, supaya lehernya itu nggak seenaknya sendiri, juga perempuan itu punya inisiatif untuk menjahit bibir Arbani dengan membentuknya seperti senyuman, agar yang melihatnya pun juga ikut bahagia. Atau dia rela naik diatas pundaknya, agar laki-laki itu berjalan tak setegap biasanya, dan rasa sombongnya tidak akan terlihat.
Yaaah, itu semua ide konyol yang tidak mungkin akan terealisasi, apalagi jika dihadapkan dengan Arbani.
Mimpi, jika perempuan itu berharap Arbani akan seperti Aqil.

"Baiklah Wa, lo masih disini untuk mikirin ide konyol itu? Gilaa, otak lo korslet karna apa, bukannya tadi bos lo itu ngasih kerjaan penting."
Gerutu Najwa sembari masuk kedalam ruangannya, dia harus menyiapkan berkas-berkas yang diambilnya dari bagian finance, dan mengatur waktu untuk Arbani meeting dengan Fitrah, siapa orang itu? Fitrah, adalah ibunya Arbani. Ibunya. Diulang lagi, ibunya.
Najwa diberitahu hal itu oleh Nilam, sebelum ada dirinya, perempuan itulah yang menyiapkan dan mengatur waktu meeting dengan Fitrah, meeting itu memang dilaksanakan setiap satu kali dalam sebulan, dan tepat pada hari selasa minggu pertama, yang Najwa tahu ibu Arbani juga memiliki bagian penting dalam perusahaan itu, yaitu Personal and Finance Manager, meski wanita itu pun sudah memiliki perusahaan lain, dan hanya bisa satu kali ngantor.

Yang ada difikiran Najwa sekarang, anaknya saja seperti itu, apalagi ibunya...
Ah, tapi setiap orang pasti memiliki sikap yang berbeda, meski mereka sedarah.
Yah, Najwa hanya bisa berharap semoga wanita itu tak semenyeramkan putranya.

Langkahnya pun sudah membawanya masuk kedalam ruangan berbentuk persegi, melakukan apa yang diperintah oleh bosnya itu. Namun tanpa dia sadari, seseorang yang sedang membuatnya kesal, belum benar-benar masuk, dia masih menunggu Najwa yang terus berdiri sepeninggalnya, kemudian tertawa geli ketika mendengar gerutuan dari perempuan itu.
Lucu, yah, apa mungkin perempuan sebaik dan selugu dirinya akan tersakiti nanti, bahkan bukan karena kesalahannya sendiri.

Dan laki-laki itupun tiba-tiba berhenti tertawa, mood bahagianya saat melihat Najwa yang lucu seketika berubah saat fikiran itu muncul.

***

"Bu Fitrah, kenalkan sekretaris baru saya, namanya Najwa."
Laki-laki itupun memperkenalkan Najwa, setelah meeting perempuan itu baru bisa bertemu dengan wanita yang bernama Fitrah.
Sikap Arbani benar-benar profesional, meski Fitrah adalah ibunya, namun dia bersikap seperti partner kerja. Yah memang harusnya seperti itu. Dan nanti kalau waktunya sudah tepat untuk Najwa kembali, dia akan bersikap seprofesional mungkin terhadap Bundanya, tanpa sedikitpun mengurangi rasa hormatnya.

Najwa pun menjabat tangan Fitrah. Dan wanita itupun tersenyum begitu manis.

"Sepertinya kamu sekretaris yang kriterianya cocok dengan kemauan Arbani."
Suaranya lembut, sama persis dengan Sarah. Membuat Najwa tiba-tiba rindu dengan wanita itu.

"Terimakasih Bu, semoga saya bisa menjadi sekretaris yang bisa diandalkan."

"Aamiin ya,"
Sahut wanita itu.
"Sepertinya pun kalian cocok."
Tambah Fitrah yang berhasil membuat Najwa terhenyak, dia melirik kearah Arbani yang ada disamping wanita itu. Dan apa ekspresinya? Dia bahkan terlihat acuh, ah beda sekali dengan ibunya.

"Hehe, sudah jangan dihirauin yang tadi. Saya masih ada urusan, jadi tidak bisa lama disini."
Ucap wanita itu kemudian.
"Sekarang kalau ada apa-apa dengan Arbani, saya bisa hubungi kamu kan, Najwa? Kamu pasti sudah tau sifatnya seperti apa."

Najwa pun mengangguk, bukan mengiyakan bagaimana sikap laki-laki itu, tapi dia mengiyakan kalau sewaktu-waktu Fitrah menghubunginya karena Arbani.

"Baik Bu."

"Ya sudah, saya pamit. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam warrahmatullah."

Langkah Fitrah pun sudah membawanya keluar, dan diikuti oleh Najwa. Namun suara Arbani, mencegahnya untuk melangkah.

"Najwa."

"Iya Pak?"
Najwa berbalik, dan memperhatikan laki-laki itu yang sudah duduk dikursinya.

"Duduklah sebentar, saya ingin bicara denganmu."

Perempuan itu pun nurut dengan yang diperintahkan oleh atasannya itu.

"Sebelumnya saya minta maaf atas perkataan Bu Fitrah. Tidak seharusnya dia berbicara hal itu dalam pekerjaan ini."

Yah, Najwa mengerti, pasti laki-laki itu merasa tidak enak dengannya.

"Tidak masalah Pak. Saya bisa mengerti."

"Jangan berharap lebih juga."
Ucap laki-laki itu, yang berhasil membuat Najwa terhenyak. Apa? Berharap lebih? Haash, apa ini namanya teman? Baiklah, ini posisi masih dalam jam kerja, tapi setidaknya laki-laki itu bisa bersikap baik, diluar jam kerja saja dia bisa, kenapa disaat ssperti ini dia enggan melakukannya. Apa lagi-lagi karena gengsi? Harus mulai darimana agar Najwa bisa merubah sikap laki-laki itu, tidak mudah, yah dia tau itu, buktinya hari ini saja dia dibuat kesal oleh Arbani karena sikap dingin dan sombongnya.

"Saya tidak sama sekali ada harapan seperti itu Pak. Kalau memang kali ini hanya untuk membicarakan hal itu saja, lebih baik saya kembali keruangan saya, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan Pak, bukannya Pak Arbani juga yang menyuruh untuk cepat-cepat menyelesaikan?"

Arbani mengangkat alisnya. Yah, dia berfikir ini cukup baik, setidaknya perempuan itu tak memiliki harapan apapun padanya, tidak seperti yang dikatakan ibunya. Karena ini bukan hal mudah jika tentang cinta.

"Baiklah, kembali dan cepat selesaikan.. Saya juga ingin kamu menyiapkan berkas-berkas seperti sales report dan data penjualan, yang kamu dapatkan dari bagian admin purchassing dan lainnya. Karena nanti jam setengah 5 kita ada meeting diluar dengan client saya dari Jakarta. Cek dengan benar hasil laporan sebelum kamu berikan pada saya."

"Jam setengah 5 Pak?"

"Iya, kenapa?"

Padahal pukul 4 untuk jam kerja sudah selesai. Tapi kenapa dia harus masih bekerja?

"Bukannya jam pulang itu jam 4 ya Pak?"

"Lalu? Kamu mau membiarkan saya menyiapkannya semua sendiri, kemudian meeting pula sendiri, lalu apa gunanya seorang sekretaris, jiak semuanya saya kerjakan sendiri?"

Najwa menunduk, nada suara laki-laki itu meninggi. Yah, dia fikir memang benar, dia sekretaris disini, kerjaannya pun menyiapkan segala sesuatu untuk atasannya, apalagi saat meeting. Lalu kenapa sekarang dia ingin membantah.
Tapi Najwa pun tidak lupa, jika setiap hari selasa dia harus pergi ke panti untuk bertemu teman Bundanya, dan sekedar bersilaturahmi dengan penghuni panti tersebut. Dia tidak akan pernah melewatkan hal itu, karena itu sudah menjadi rutinitasnya apalagi ketika masih ada Ayahnya.

"Baik Pak, baik. Saya hanya bertanya.. Ya sudah, saya balik keruangan saya dan menyiapkan semuanya."
Ucap Najwa.

"Iya, terimakasih."
Balas Arbani.

***

"Halo, Assalamualaikum.. Kak Aqil?"

---

"Kak, maaf ya, gue nggak bisa pulang sekarang, lima menit lagi gue berangkat kerestorant dengan Pak Arbani untuk ketemu sama client."

---

"Iya, gue tau.. Hari ini waktunya kita ke panti. Tapi gimana lagi Kak, Pak Arbani juga butuh gue. Nggak mungkin gue ninggalin dia gitu aja."

---

"Iya Kak Aqil iya, gue juga tau, Tante Anisa pun bakal kecewa kalo gue nggak dateng.. Gini aja, lo tunggu aja disana, biar gue naik taksi atau angkot nyusul lo kesana. Gimana?"

---

"Terus gimana dong Kak? Terus lo maunya apa? Jemput gue? Gue nggak mau ngerepotin lo. Lagian gue yang batalin janji buat pulang bareng kan."

---

"Kaaa...."

Sebuah tangan menarik ponsel dari telinga perempuan itu, dan membuatnya kaget. Dia melihat Arbani sudah ada disampingnya.

"Biar saya yang bicara dengannya nanti."
Ucap laki-laki itu sembari menekan tombol merah dilayar smartphone Najwa, kemudian mengembalikannya pada perempuan itu.
"Kita sudah terlambat."
Dan laki-laki itu pun sudah melangkah menuju mobil mewah yang terparkir didepannya.

Serius. Menyebalkan. Sekali.

TBC

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...