Langsung ke konten utama

Maaf, Mons

Maaf, jika ini membuatmu bingung,
Jika ini membuatmu muak, jika ini membuatmu kesal, jika ini membuatmu kecewa,
Dan jika semua ini menyakitimu.
Aku sadar, aku bukan permata yang indah, bukan pula bidadari cantik, yang dengan sesuka hati memaksakan kehendak tanpa ada yang mau membantah. Aku hanya perempuan yang tak tau malu, menginginkan hal berlebih tentang apa yang aku anggap baik untuk kita, dan memaksakannya pada kita, membuatmu harus bersedia menurutinya. Meski satu kata bentuk kekecewaan tidak pernah kamu utarakan, namun aku bisa merasakan hal itu, sampai kapan kamu akan menyembunyikannya dariku.
Entah kenapa, aku tiba-tiba ingin meminta maaf padamu, selama ini aku banyak mau, menuntut hal yang sebenarnya memberatkanmu, menjadikan keputusanku sebagai keputusanmu juga, padahal belum tentu kamu menyetujuinya. Aku tau kamu melakukan itu semua karenaku, rasa itu sangat berlebih, aku pun begitu.
Tapi kenapa aku seegois ini, semunafik ini, yang tidak tau bagaimana hatinya yang sebenarnya. Aku minta maaf atas semuanya, atas luka yang tak sengaja aku torehkan tanpa kusadari sudah menyakitimu. Apalagi kejadian yang kurutuki karena kesalahanku, kesalahan yang membawaku sampai saat ini tak tenang.
Selain maaf, aku ingin berterimakasih juga padamu, atas luasnya rasamu, sabarmu, juga hatimu, siapapun yang akan melewati kejadian itu mungkin akan memutuskan pergi sejauh-jauhnya, mengenyahkanku dan menghapus rasanya secepat mungkin tanpa tersisa. Tapi kamu tidak, kamu menetap meski rasa kecewa masih menyelimutimu, kamu meluaskan hati untuk membuka maaf dan tetap mau menerima keputusanku yang mungkin tidak sesuai keinginanmu.

Kamu, terjelma dari monster senja yang kuharapkan mengalir bersama dan berujung ditempat yang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...