"Terimakasih atas waktunya Pak."
"Iya, saya terimakasih juga.. Saya permisi balik duluan. tidak apa-apa kan? Saya masih ada perlu lagi."
"Oh iya Pak, tidak apa-apa, kita bicarakan hal ini lain waktu."
"Baiklah, saya tinggal ya."
"Loh Pak,"
Sebelum perempuan itu melanjutkan ucapannya, Arbani sudah menariknya terlebih dahulu, meninggalkan dua laki-laki yang masih duduk santai sepeninggalnya dengan Arbani.
"Bukannya meeting kita belum selesai Pak?"
Tanya Najwa. Langkahnya pun masih mengikuti laki-laki itu, bagaimana tidak, jika tangannya saja ditarik oleh Arbani.
Setelah sampai diparkiran, Arbani menghentikan langkahnya dan melepas tangan perempuan itu, kemudian memperhatikan Najwa yang sedang bingung dengan tingkah laki-laki itu.
"Katamu, kamu harus cepat-cepat ke panti. Kita akan kesana sekarang."
Ucap Arbani akhirnya.
"Tapi saya kira kita akan menyelesaikan meeting itu sampai tuntas Pak."
"Ini sudah diluar jam kerja bukan? Itu artinya kita sudah menjadi teman, bisa untuk tidak bicara seformal itu?"
Kalimat laki-laki itu membuat Najwa menunduk.
"Aku hanya ingin kita berteman seperti halnya kamu berteman dengan Aqil."
"Tapi, aku masih nggak ngerti sama kamu."
"Iya, karena kamu memang belum mengerti aku."
"Lalu bagaimana cara kita berteman? Kalo aku sendiripun tidak mengerti kamu, atau mungkin tidak akan bisa mengerti kamu."
Ucap Najwa yang membuat laki-laki itu tidak bersuara lagi.
Apa aku menyakiti hatinya tadi, dengan mengatakan kalimat yang tidak seharusnya aku ungkapkan, yang seakan-akan menghakiminya.
Najwa menyalahkan dirinya yang tidak mengontrol diri, bukannya dirinyalah yang mengajak laki-laki itu untuk berteman, dan berjanji untuk merubah sikap dan persepsi Arbani, tapi kenapa sekarang perempuan itu menjadi tidak percaya diri, malah menyalahkan sikap Arbani yang seharusnya dia rubah.
"Maaf, maaf, aku nggak maksud buat ngomong kayak gitu tadi."
"Nggak apa-apa, kamu sekarang tau kan resiko berteman denganku?"
Meski kalimatnya datar dan tak tersentuh, namun ada rasa sakit yang menyiratkan.
"Nggak gitu, aku nggak nyesel berteman denganmu, nggak sama sekali. Mungkin butuh waktu untuk aku bisa ngerti kamu, sikap dan sifat kamu, karena memang kita baru kenal, belum tentu apa yang tidak aku mengerti akan selamanya tidak aku mengerti. Maafkan aku, aku nggak bermaksud seperti itu."
Jelas Najwa, seharusnya dia tidak seegois itu.
"Sudahlah nggak perlu dibahas. Aqil pasti sudah nunggu kamu."
Ucap Arbani sembari melangkah untuk menjangkau mobilnya yang berada tidak jauh.
"Kita,"
Ucap Najwa.
"Kita ditunggu oleh Kak Aqil, bukan hanya aku."
Jelasnya.
Dibalik tubuhnya, Arbani tersenyum, entah kenapa perempuan itu seakan ingin mempertahankan pertemanannya padahal dia sudah tau bagaimana sikap laki-laki itu.
Kruyuk kruyuuk..
Najwa memegang perutnya, dia mengutuk perutnya yang tidak tau diri berbunyi disaat seperti ini.
"Itu tadi suaramu?"
Arbani berbalik, dan wajahnya memerah menahan tawa.
Uh menyebalkan sekali, dia pura-pura bertanya padahal sudah tau.
"Bisa bedain mana suara mulut sama suara..."
"Perut?"
Sahutnya dengan seringaian, tawanya pun tidak bisa terbendung ketika mendapat balasan Najwa yang merengut.
"Yasudah, sebelum ke panti kita bisa mampir makan kerestorant yang tidak jauh dari tempat itu. Gimana?"
"Kayaknya itu ide bagus."
Jawab Najwa dengan senyumnya yang mengembang. Ah laki-laki yang peka. Matanya tiba-tiba berbinar, membayangkan makanan yang akan mengisi perutnya, membuat perutnya tidak lagi kosong.
"Kalo ide bagus, jalan dan masuklah ke mobil. Nggak cuman berdiri dan bayangin makanannya saja."
Ucap Arbani yang membuyarkan khayalan perempuan itu.
***
"Najwa, kamu yakin akan menghabiskan semua ini?"
Tanya Arbani saat pesanan perempuan itu sampai dimeja, dan yang membuatnya bertanya seperti itu, karena pesanan Najwa yang dibatas wajar.
Setelah saling sepakat, mereka berhenti direstoran khas masakan Italia, itu karena Najwa tiba-tiba ingin makan gelato, jenis ice cream asal Italia. Namun laki-laki itu mulai menimbang sesuatu karena makanan yang dipesan perempuan itu lebih dari yang dimintanya.
Kini Arbani berfikir bahwa tubuh perempuan itu terbilang kurus, atau mungkin karena tingginya yang sekitar 162 cm, sehingga makanan sebanyak itu tidak berefek besar pada tubuhnya. Tapi itu tetap aneh, ruang perutnya apa sanggup menyimpan sebanyak makanan yang dipesan Najwa.
Sedangkan dia sendiri hanya memesan shrimp fra diavolo.
"Yakin. Kenapa memangnya?"
Najwa mulai menyantap makanan yang paling depan, spaghetti saus tomat.
"Nanti kalo kamu nggak bisa berdiri gimana?"
Tanya Arbani sangsi.
"Aku bisa berdiri, berjalan, berlari, selama punya kaki."
Jawab Najwa, yang masih fokus dengan makanannya.
"Bukan itu..."
"Sudahlah Arbani, habiskan makananmu, tidak baik berbicara saat makan."
Ucap perempuan itu sembari berhenti melahap makanannya, namun sekejap dia sudah kembali bergulat dengan makanan lezatnya.
"Aku sudah kenyang jika melihatmu makan."
Ucap Arbani, dia pun tidak menyentuh makanannya. Masih tetap memperhatikan perempuan yang ada didepannya.
Detikpun berganti menit, dan hampir satu jam mereka ada direstoran tersebut. Arbani yang melihat semua piring bersih tak tersisa makanan sedikitpun bergidik ngeri, ternyata ada perwujudan hulk dalam bentuk cantik seperti Najwa. Makannya subhanallah, dia pun kalah jika harus tanding makan dengan perempuan itu.
"Kamu mau nambah punyaku?"
Tanya Arbani menawari makanannya yang masih tersisa. Dan perempuan itu menggeleng dengan mantap.
"Itu ada udangnya, aku nggak bisa makan."
"Kenapa? Alergi?"
"Yap, anda benar Pak Arbani. Waah hebat juga anda menebaknya."
Sahut Najwa sembari meraih gelato yang ada didekat Arbani, itu termasuk menu penutup perempuan itu.
"Jadi setelah makan kamu sesemangat ini ya? Sepertinya aku tau cara buat kamu nggak males-malesan kerja."
"Maksudnya?"
"Setiap pagi kita akan kekantin perusahaan dulu untuk sarapan pagi, biar kamu saat kerja nggak males."
"Memangnya aku suka males?"
Tanya Najwa sangsi, ah masak, padahal aku giat kok. Fikirnya.
"Sangat. Jadi, mulai besok pagi, aku tunggu kamu dikantin."
"Yaaah, terserah kamu. Tapi kalo aku jadi susah berdiri, jangan salahin aku ya?"
"Katamu, kamu bisa berdiri, berjalan, bahkan berlari, selama punya kaki?"
Najwa tercekat, ah skakmat akhirnya. Jadi Arbani mulai menyebalkan kali ini? Baiklah, Najwa lebih suka sikap dia seperti ini, daripada harus bersikap dingin dan angkuh.
"Yah, aku kalah."
Dan tawa pun terdengar tulus dari laki-laki didepannya, membuat perempuan itu tidak berkedip sedikitpun, pemandangan yang indah, yang akan sulit diabaikan.
"Oh ya, pantinya dimana dan namanya apa?"
Tanya laki-laki itu disela tawanya yang mulai berhenti.
"Nama pantinya Anisa Kasih, letaknya nggak jauh darisini kok."
"Anisa Kasih?"
Tanya Arbani, sepertinya nama itu tidak asing ditelinga Arbani.
"Iya, panti itu milik teman Ayah dan Bunda, namanya tante Anisa, kamu tau tidak, kalau tante Anisa dulu adalah pasien Ayah, dia dulunya orang yang pesimis dengan penyakit yang dideritanya, namun karena sebuah kejadian membuatnya bisa lebih kuat, bahkan dengan semangat dan kemauannya dia mulai membangun panti asuhan itu."
"Sebuah kejadian?"
"Iya, sebuah kejadian. Itu kata Ayah."
"Kejadian apa?"
Najwa mulai berfikir, kemudian matanya kembali melihat kearah Arbani.
"Aku nggak tau."
Jawabnya sembari cengengesan.
"Ayah nggak pernah ngomong kejadian apa itu."
"Oh gitu."
Jawab Arbani sembari menghembuskan nafasnya lega.
"Kenapa sih? Kamu tau sesuatu?"
Tanya Najwa karena melihat Arbani terlihat cemas.
"Nggak, mana mungkin aku tau. Mmm, nanti aku nggak bisa nganterin kamu sampai dalam panti itu, aku masih ada urusan, kamu tidak apa-apa kan?"
Tanya Arbani.
"Nggak apa-apa kok, lagian ada Kak Aqil disana juga."
"Yaudah kalo gitu, kita bisa jalan sekarang?"
"Oh iya, makanannya udah habis juga."
"Nggak mau nambah?"
"Masih mau sih."
Jawab Najwa sembari malu-malu.
"Nggak usah kalo gitu."
Sahut Arbani, dan membuat Najwa bersungut, dia kira setelah menawari itu, Arbani akan mengijinkannya nambah, tapi malah sebaliknya.
"Kamu kira aku tidak capek menunggumu menghabiskan semua makanan itu?"
"Jadi kamu nggak ikhlas nih?"
"Ikhlas kok. Apapun itu, aku akan ikhlas kalo kamu senang."
Jawabnya sembari berdiri dan melangkah kearah kasir.
Apapun itu, dia akan ikhlas kalo aku senang?
Ah, Najwa mulai memutar memorinya dimana kalimat itu terasa sangat manis.
***
"Makasih ya Bani, sudah repot-repot nganterin aku kepanti ini."
Ucap Najwa setelah turun dan dihampiri oleh Arbani.
"Sudah seharusnya, kan aku yang membuatmu telat kesini."
Jawabnya.
"Baiklah kalo gitu, aku balik dulu."
Tambahnya.
Mata perempuan itu menemukan wanita yang sedang bersama anak kecil.
"Itu Tante Anisa, kamu harus berkenal..."
Belum tuntas melanjutkan ucapannya, Najwa berhenti karena melihat Arbani sudah tidak ada disampingnya lagi.
Terdengar suara kaca yang diturunkan, dan wajah laki-laki itu pun terlihat sudah ada didalam mobil.
"Aku balik dulu ya, Assalamualaikum."
Dan suara mesin mobilpun terdengar. Najwa tersenyum masam sembari menjawab salamnya.
"Waalaikumsalam... Padahal aku ingin mengenalkannya dengan Tante Anisa."
Ucapnya sembari melihat mobil yang sudah melaju menjauh dari hadapannya, secepat dan seburu-buru itu.
"Wa.."
Suara itu sangat familiar.
"Arbani nggak mampir?"
Tanyanya sembari mengikuti pandangan Najwa, dan melihat mobil Arbani melaju kencang.
Najwa menggeleng.
"Sudah aku duga."
Ucap Aqil lirih, namun sepertinya Najwa bisa mendengarnya.
"Maksudnya Kak?"
"Mmm, nggak apa-apa. Yuk, masuk."
Jawabnya sembari berbalik, melangkah kedalam panti. Dan Najwa memperhatikan punggung itu.
Perempuan itu merasa, kenapa seperti ada yang disembunyikan oleh dua laki-laki itu. Padahal sebelum mengenal Arbani, Aqil tidak pernah bersikap seperti ini.
"Najwa."
Panggil Aqil yang melihat Najwa masih berdiri ditempat yang sama.
"Masuk nggak? Kamu nggak mau ambil keputusannya malam ini?"
Tambahnya.
Oh iya, Najwa jadi ingat, dia harus memutuskan keputusan apa yang akan dia dan Aqil ambil.
***
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu