Langsung ke konten utama

Cahaya Awan (Part 4)

"Terimakasih Pak, sudah mengantarkanku."

Gadis itu tersenyum dan kemudian membuka pintu mobil yang membawanya bersama Arbani sampai dirumah.

"Ya."
Jawaban yang sangat singkat. Namun Najwa tidak ambil pusing, toh sebagai bos dia berhak atas itu.
"Terimakasih sudah berusaha jadi temanku."
Tambahnya yang berhasil membuat Najwa berhenti ketika pintu mobil sudah terbuka hampir setengah.

Najwa tersenyum dibalik tubuhnya, setidaknya ini titik awal dimana laki-laki itu bisa menerima kenyataan bahwa selalu ada teman sejati didalam hidupnya, yang tanpa memakai kedok untuk berbuat baik untuknya. Pertama, Aqil, dan Najwa harap untuk yang kedua, sahabat laki-laki itu adalah dirinya.

"Assalamualaikum Pak."
Ucap gadis itu saat sudah ada diluar mobil. Dan Arbani tersenyum kearahnya, jenis senyuman tulus yang dibawanya dari syurga, adem rasanya.

"Waalaikumsalam."
Dan laki-laki itupun menutup kaca mobil, kemudian dnegan cepat membawa mobil tersebut menembus jalanan yang licin, mungkin karena tadi sempat hujan disekitar rumah Najwa.

Najwa pun berbalik untuk berjalan kedalam rumah setelah memastikan Arbani sudah benar-benar pergi. Belum sempat dia berbalik, namun matanya menemukan sebuah mobil lain terparkir dipekarangannya.

"Sejak kapan ada mobil Kak Aqil disini?"
Tanyanya sendiri. Kenapa tadi dia tidak melihatnya. Atau karena memang tadi dia sedang sibuk dengan Arbani, sampai dia lupa ada mobil Aqil yang sudah terparkir dipekarangannya.

Dan Najwa pun ingat suatu hal yang berhubungan dengan Aqil. Yah, dia harus melabrak yang katanya kakak tapi tidak tahu diri itu, bukannya menepati janji untuk menjemput malah dia datang kerumah Najwa, dan kini bahkan terdengar sedang tertawa senang bersama Sarah, dan Najma didalam rumah.

"Assalamualaikum."
Salam Najwa, dan matanya tepat dia arahkan satu titik dengan mata Aqil. Bukannya bergidik atau menciut nyalinya karena mendapat tatapan menyeramkan dari Najwa, laki-laki itu malah masih meneruskan godaannya pada Najma. Dan itu membuat Najwa semakin geram.

"Waalaikumsalam."
Jawab ketiga orang tersebut. Mereka pun tak menyinggung kenapa Najwa pulang terlambat.

"Apa tidak ada yang nanya kenapa aku telat pulang?"
Ucap Najwa sembari duduk diantara ketiga orang tadi, tepatnya disamping Najma yang masih digoda oleh Aqil.

"Aqil sudah kasih tau Bunda, kalo kamu pulang diantar oleh Pak Arbani, bos kamu. Kenapa nggak diajak masuk?"
Ucap Sarah. Jadi benar, Aqil yang menyuruh Arbani untuk menjemput dan mengantar Najwa pulang.

"Dia sibuk Bun.. Tapi kan sebenarnya, udah ada yang janji buat jemput, malah nyuruh orang, bosku lagi."
Gerutu Najwa sembari mendelik kearah Aqil. Dan laki-laki itu hanya tersenyum kecut.

"Sudah Najwa, bukan salahnya Aqil kok. Kamu bersih-bersih diri aja dulu, terus sholat maghrib."
Ucap Sarah, bagaimanapun juga, meski Najwa masih kesal dengan Aqil dan masih ingin melabraknya, tapi dia tidak bisa membantah apa yang dikatakan Bundanya.

"Iya nih Kak Najwa, mandi sana, aku gak tahan baunya."
Sahut Najma sembari sok-sokan tutup hidung dan memperhatikan Najwa yang ada disampingnya. Hal itu membuat Najwa mendengus kesal.

"Ish, Najma jangan banyak main sama Kak Aqil, kamu udah mulai ketularan tengilnya."
Saran Najwa. Sepertinya dia begitu kesal dengan laki-laki itu.

Najwa pun berdiri, dan pamit kedalam rumah. Dia mendengar apa yang disuruh oleh Sarah. Namun dia merasa haus, ternyata energinya habis gara-gara rasa kesalnya pada laki-laki bernama Aqil.
Najwa mampir kedapur sebelum masuk kedalam kamarnya, dia mampir untuk sekedar minum menghilangkan dahaga.

Setelah selesai melenggak air dingin didalam gelas. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya, namun tiba-tiba terhenti ketika ada Aqil diambang pintu, ditengah-tengahnya.

"Ngapain lu disitu?"
Tanya Najwa dnegan ketus.

"Masih kesel?"
Tanya Aqil lembut, dia termasuk orang yang bisa menempatkan diri. Dimana dia harus bersikap keras, lembut bahkan humoris.

Najwa diam, namun bibirnya tidak bisa menahan cemberutnya.

"Gue minta maaf. Ada hal yang buat gue nggak bisa jemput lo. Tapi tadi Arbani beneran nganterin lo kan?"
Tanyanya.

"Iya, tapi lo liat-liat juga dong Kak, siapa yang sedang lo suruh buat jemput gue, dia itu bos gue. Mana ada bos jemput anak buahnya."

"Buktinya ada kan sekarang? Lo dan Arbani. Lagian karena hal itu, membuat kalian menjadi teman. Iya kan?"

Najwa mengernyitkan alisnya. Bagaimana bisa Aqil tau kalau mereka berteman, sedangkan saat itu laki-laki itu tidak ada disana bersamanya.

"Kok lo tau Kak?"

"Kadang teman baru bisa membuatmu lupa dengan teman lama ya."

"Kak Aqil, apasih. Nggak ada yang gitu-gituan."

"Buktinya lo aja nggak sadar kalo ada gue saat ngobrol dengan Arbani."

"Kak, lo sendiri pasti udah tau tentang hidupnya kan. Gue cuman pengen ngerubah pandangannya tentang seorang teman. Apa itu salah?"

"Nggak, apa yang lo lakuin nggak salah kok. Semua orang pasti ingin berbuat baik selagi masih mampu, namun kita juga harus tau, ada hal lain yang akan terjadi nantinya."

"Maksud lo Kak? Gue nggak ngerti."

"Yah, ini akibatnya ngomong sama orang yang otaknya cetek."
Ucap Aqil sembari menepuk keningnya. Wajahnya berubah, dari yang serius menjadi mengesalkan dengan tawa gelinya ketika melihat Najwa mendelik.
Bukankah mereka tadi sedang berbicara serius, tapi kenapa sekarang suasananya kembali membuat Najwa kesal.

"Kak, gue serius."

"Iya, gue juga serius, otak lo cetek."
Jawabnya sembari berbalik.
"Udah sana, tadi lo disuruh apa sama Bunda lo."
Tambahnya, seiring suaranya yang terdengar semakin kecil karena langkahnya lebih jauh jauh membawanya pergi.

Dibalik itu, Najwa tersenyum. Setidaknya, Aqil masih memperhatikan dan peduli dengannya. Karena Aqil tidak menepati janji, membuat Najwa merasa takut, karena belakangan ini laki-laki itu seperti tidak ada waktu untuknya, atau mungkin karena hari ini waktu Najwa dihabiskan untuk bekerja, sampai dia sendiri rindu kegiatan yang dia lewati bersama Aqil, sahabatnya. Ah ini masih satu hari.

***

"Najwa, ada yang ingin Bunda bicarakan sama kamu."

Setelah makan malam bersama, yang Aqil masih tetap disana. Sarah membuka suara, dan itu tsrlihat serius.

"Iya Bun? Mengenai apa?"

"Sebenarnya, kamu dan Aqil ada hubungan apa?"
Tanyanya yang membuat Najwa terhenyak, sekilas dia melirik kearah Aqil, dan laki-laki itu masih bersikap biasa saja.

"Maksud Bunda? Bunda tau sendiri kan kalo aku dan Kak Aqil itu sahabatan."
Najwa merasa ada yang aneh.

"Iya, dan Bunda juga tau, Aqil lah yang selalu jaga kamu, dia yang selalu ada buat kamu. Ini alasan kenapa Bunda menyuruh Aqil untuk cepat-cepat pergi kesini, dan menyuruhnya menghubungi bos kamu untuk mengantarmu pulang."
Jadi, Kak Aqil pun disuruh oleh Bunda. Jadi aku sudah salah paham pada laki-laki itu.
Najwa merasa tidak enak karena sudah berburuk sangka.

"Bunda ingin kalian menikah."
Tambah Sarah yang berhasil membuat putrinya kaget. Hanya Najwa, bahkan Aqil yang juga terlibat hanya terlihat biasa seperti sikapnya sejak tadi. Apa dia sudah tau hal ini?

"Bunda,"
Najwa tidak bisa bicara kali ini. Namun perasaannya tidak lagi bersenang, karena memang Najwa menganggap Aqil sebagai sahabatnya, dan dia tidak ingin kehilangan seorang sahabat seperti laki-laki itu.
"Bunda, yakin dengan apa yang dikatakan Bunda?"

Sarah mengangguk. Begitu bulatnya keputusan yang dia ambil. Najwa tidak bergeming, dia tidak tau harus seperti apa. Apa nasibnya harus seperti Alesha dan Rayyan yang berujung pada perjodohan. Sedangkan selama ini Najwa menganggap Aqil sebagai seorang sahabat, rasa sayangnya pun seperti pada seorang sahabat.

"Bunda berharap kalian menyetujuinya."
Sarah masih berucap, dia mengedarkan pandangannya kearah Aqil kemudian Najwa, dan kembali ke Aqil lagi.

"Bunda, beri kita waktu. Ini bukanlah hal yang mudah untuk diputuskan."
Sahut Aqil yang sejak tadi diam. Dia memperhatikan Najwa dengan wajah yang datar. Cukup wajah laki-laki itu saja, yang bisa berubah-ubah ekspresinya.

"Iya, Bunda pun tidak mau memaksakan kehendak sendiri, ini juga tergantung kalian. Namun atas apa yang Bunda liat selama ini, kalian terlihat cocok, itu kenapa Bunda memiliki fikiran untuk menikahkan kalian."
Jelas Sarah.

Aqil masih memperhatikan Najwa, seakan bisa merasakan apa yang dirasakan gadis itu, Aqil mengedipkan matanya, mencoba menenangkan Najwa yang terlihat kaget dan sedih. Ini bukan hal mudah untuk gadis itu, juga untuknya, meski dia sudah tau rencana itu karena Sarah sudah memberitahunya terlebih dahulu, namun perasaannya masih sedikit perih. Bukan karena dirinya dan Najwa yang menganggap hubungan mereka hanya seorang sahabat saja, namun lebih kepada rasa takutnya nanti menyakiti gadis itu, dia tidak ingin rasa sakit gadis itu berlipat-lipat ketika kenyataan bahwa mereka sudah menikah. Dia tidak boleh terjebak akan hal itu.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...