Langsung ke konten utama

Cahaya Awan (Part 5)

"Gue tau ini bukan hal mudah buat lo, termasuk gue."
Najwa memperhatikan laki-laki disampingnya. Mereka sekarang berada didalam mobil untuk mengantar perempuan itu berangkat kerja. Setelah acara makan malam dan keputusan yang diambil sepihak oleh Sarah, Najwa pergi kekamarnya, bukan bermaksud marah atau kesal, namun gadis itu ingin menenangkan diri. Kenyataan bahwa Bundanya memiliki persepsi lain tentang dirinya dan Aqil, dia memandang bahwa mereka cocok untuk menikah.

"Gue pun sadar hal itu,"
Aqil melirik sebentar kearah Najwa dan kembali fokus menyetir.
"Bunda sudah gue anggap sebagai ibu sendiri, dengan kehilangan kasih sayang seorang ibu selama 15 tahun, membuat gue merasakan perhatian Bunda lo seperti bentuk kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Tapi gue gak nyangka, kalo yang difikirkan Bunda lo berbeda, gue tau maksudnya baik, semua orangtua pun pasti memiliki maksud baik untuk anaknya. Mungkin dia merasa dengan kita menikah, kita akan mudah saling mengerti, karena kedekatan kita selama ini, dia anggap akan mudah disatukan dalam ikatan yang disebut pernikahan."

"Tapi Kak..."

"Gue tau Wa, setiap hati berhak memilih, begitupun hati lo. Kita tidak perlu takut, toh Bunda juga menyerahkannya pada kita kan."

"Gue masih bingung Kak."

"Gue terserah lo aja Wa, yang terbaik buat lo, pasti terbaik buat gue juga. Pastikan hati lo dulu, kalo emang hati lo udah mantep dengan keputusan yang lo ambil, lo bisa kabari gue. Biar gue yang ngatur gimana bicaranya sama Bunda."
Aqil tersenyum. Didalam hatinya dia berharap agar Najwa tidak menyetujui rencana pernikahan itu. Meskipun dia sendiri sadar, sejak awal dia sudah mulai memiliki rasa pada Najwa, namun keadaan tak mungkin membuatnya bisa bersatu dengan perempuan itu.

"Makasih ya Kak, lo adalah orang yang paling ngerti gue.. Tapi ini bukan perkara yang bisa diputuskan sendiri Kak, gue nggak bisa mutusin ini semua sendiri, lo juga terlibat, dan lo berhak pula untuk mengutarakan keputusan lo. Gue nggak mau bersikap egois dan hanya mentingin diri gue sendiri Kak."
Ucap Najwa, perempuan itu pun tau bahwa Aqil juga berhak mengambil keputusan.

"Udah gue bilang kan, apapun keputusan lo itu pun pasti yang terbaik buat gue juga."

"Apa lo nggak ada perasaan apapun gitu Kak?"
Pertanyaan Najwa membuat siapapun yang mendengar akan beralibi bahwa perempuan itu berharap Aqil memiliki perasaan lebih padanya.
Melihat mimik wajah Aqil yang tiba-tiba berubah membuat Najwa menyadari kalau pertanyaannya itu salah, dan Aqil akan salah paham.
"Maksud gue, biar kita mutusin bareng-bareng gitu."

Aqil menghela nafasnya, melirik kearah Najwa dan tersenyum sekilas.

"Sebentar lagi sampek kantor, kita omongin nanti setelah pulang aja."

"Masih jauh kali Kak."

"10 menit kita sudah sampek Wa."

"10 menit cukup untuk kita ambil keputusan itu Kak."

"Lo kira keputusan itu seperti ngambil keputusan dimana kita akan cari tempat makan atau nongkrong? Nggak semudah itu Wa, ini masalah masa depan kita.. Maksud gue, masa depan gue dan lo, kita perlu waktu dan suasana yang tepat untuk memutuskannya. Mengerti?"
Ucapan itu seakan memperingati perempuan itu. Ini yang selalu dibanggakan Najwa sebagai sahabat Aqil, laki-laki itu bisa bersikap bijaksana, persis seperti Ayahnya.

"Baiklah, kita bicarakan ini setelah pulang aja.. Tapi aku harap, nggak ada alasan lagi untuk Kak Aqil ingkar janji."

"Nggaklah, gue nggak akan ingkar janji, lagian ini hari selasa, waktunya lo ke panti bukan?"

"Iyaa, gue sampek lupa."
Ucap Najwa menepuk keningnya, dia baru ingat kalau hari ini hari selasa, dan sudah dua hari ini pula Najwa bekerja.

"Makanya, jangan kerjaan mulu yang dipikirin."

"Apasih Kak, kerjaan juga belum berat-berat amat."

"Iyalah, awas aja kalo Arbani ngasih kerjaan berat sama lo, misal ngangkat beras dari lantai bawah sampek atas, terus turun lagi bawa minyak sejerigen. Sampek ujung dunia pun bakal gue kejar dia, udah nyiksa lo kayak gitu."
Jelas Aqil yang membuat Najwa tertawa geli. Alibi yang menggelikan, mana mungkin seorang sekretaris melakukan pekerjaan kuli.

"Nggak seberat itu juga kali Kak."

"Ya mungkin aja, dia kan manusia super tega, persis orangtuanya."

Najwa tiba-tiba menoleh kearah Aqil yang masih sedang cekikikan.

"Yang bener Kak?"

"Eeh, mmm, bercanda lah. Meski keliatannya dingin, cuek dan datar. Tapi Arbani sebenarnya teman yang baik, bahkan dia sering kumpul bareng-bareng terus bayarin semuanya. Hahah, ketimbang gue, sebenarnya Arbani lebih supel. Cuman ada banyak hal yang bikin dia suka nunjukin sikap dinginnya."

Najwa kembali terhenyak. Teman yang baik? Kumpul bareng? Dan lebih supel?
Apa maksudnya? Bukannya kemarin malam Arbani bilang kalau dia tidak mempunyai teman, bahkan dia tidak percaya seorang teman, namun kenapa sekarang Aqil berkata sebaliknya.

"Apa lo yakin Kak? Mmm, kemarin Pak Arbani bilang kalo dia tidak punya teman selain Kak Aqil, bahkan dia tidak percaya adanya teman, hanya saja Kak Aqil adalah sahabatnya sejak kecil, dan selalu mendukungnya, makanya dia anggap Kakak satu-satunya teman... Tapi kenapa sekarang Kak Aqil malah bilang sebaliknya?"

Aqil diam. Jadi apa yang dikatakannya dan yang dikatakan Arbani berbeda. Laki-laki itu menyalahkan dirinya sendiri, kenapa bisa dia asal njeplak.

"Kak, ada apasih sebenernya? Kalian nggak lagi nyembunyiin sesuatu kan dari gue?"

"Ha? Nyembunyiin? Nggak lah, mana mungkin gue nyembunyiin sesuatu."

"Yang bener?"

"Iya."

"Terus bisa jelasin kenapa yang Kak Aqil katakan berbeda dengan yang dikatakan Pak Arbani."

"Oh ya, yang gue bilang tadi waktu kita masih kecil. Dia emang teman yang baik, baik banget.. Tapi memang ada hal yang membuatnya berubah."

"Hal apa?"

"Udah nyampek. Turun gih Wa, keburu telat, dan bos lo nyariin."
Ucap Aqil tiba-tiba dengan mobil yang sudah terparkir didepan kantor.
"Gue ada urusan, nanti kalo pulang, gue tunggu ditempat ini lagi."

"Tapi Kak, lo belum..."
Pandangan Najwa tiba-tiba teralih kesebuah mobil mewah yang terparkir didepan mobil Aqil, dia tahu betul siapa pemiliknya.
"Yaudah, gue kedalem dulu ya. Pak Arbani udah dateng nih."
Dan perempuan itu pun bergegas keluar mobil.

"Good luck ya, semoga apa yang gue takutin tidak pernah terjadi, semoga Allah selalu melindungimu."
Ucap Aqil lirih seiring langkah Najwa yang sudah berada jauh didalam perusahaan tersebut.
"Maafkan aku Wa, waktu akan menunjukkan segala. Dan aku harus siap kehilangan semuanya."

Mata laki-laki itu tiba-tiba terasa pedih, ketika melihat sosok Arbani menghampiri Najwa yang sudah berada jauh darinya.

Mungkin aku ditakdirkan hanya untuk memperhatikanmu dari kejauhan, tanpa bisa mensejajarkan langkahku denganmu. Dengan cukup membuatmu tertawa lepas, membuat semua bebanku ikut terangkat kepermukaan.
Tuhan, jika memang nanti gadis itu membenciku, aku siap. Karena memang aku yang telah memulai menggoreskan luka perlahan dihidupnya.

Tbc

---

Komentar

Posting Komentar

Tinggalkan komentar kamu

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...