Langsung ke konten utama

Cahaya Awan (Part 1)

"Bunda, Najwa berangkat dulu, doakan semoga hari ini lancar ya."
Pagi-pagi sekali gadis itu sudah rapi lengkap dengan map berisi CV juga beberapa berkas yang diperlukan untuk interview. Dengan hijab berwarna peach, wajah gadis itu terlihat bersinar dan ceria.

"Iya sayang, Bunda selalu mendoakan apa yang terbaik buat kamu. Semoga nanti kamu mendapat ilmu yang lebih luas lagi."
Ucap Sarah sembari mengambil sebuah kotak makan diatas meja.
"Ini, kamu bawa, jangan sampai apa yang sedang kamu raih menghalangi kebutuhanmu."
Tambah wanita itu.

Najwa tersenyum, kemudian mengambil kotak makan tersebut dari tangan Bundanya.

"Terimakasih Bunda, tapi hari ini Najwa hanya sedang interview, belum tentu Najwa diterima kan?"

"Diterima atau tidak, kamu harus makan bekal ini.. Kalo bisa, Aqil juga diajak makan, Bunda sudah melebihi makanannya kok."
Ucap wanita itu sembari melirik keambang pintu, disana sudah ada laki-laki yang berjalan memasuki rumah besar itu.

"Assalamualaikum."
Salam laki-laki itu, senyumnya mengembang ketika melihat Najwa menoleh kearahnya mengikuti pandangan Bundanya.

"Waalaikumsalam."
Jawab kedua perempuan itu.

"Sepertinya tadi namaku ada yang menyebut."
Celetuk Aqil, dan Sarah tertawa geli. Laki-laki itu hadir diantara keluarga yang pernah terpuruk, dengan keramahan dan terkadang kekonyolannya membuat keluarga itu membuka tangan menerima kedatangannya.

Semua itu berawal dari Najwa yang masih SMA, gadis itu sudah sejak lama mengikuti kegiatan-kegiatan sosial bersama Ayahnya, Najwa pun sebenarnya sudah mengenal laki-laki itu, meski hanya dari namanya saja. Laki-laki itu ketua dari pelaksana kegiatan sosial terbesar dikota Surabaya, entah bagaimana bisa kenal dan sedekat sekarang, karena laki-laki itu super sibuk, juga terlihat tak santai. Siapapun yang melihat wajahnya pertama kali, pasti kesannya laki-laki itu dingin dan kaku, tapi coba kalau dia didekati, satu kalimatnya saja pasti sudah membuat orang tersenyum geli dan menahan tawa.
Dan meski dibalik kesibukannya itu, Aqil selalu menyempatkan waktunya untuk sekedar menghubungi Zufar atau Najwa, apalagi sepeninggal Zufar, hari-hari Najwa selalu ada Aqil, laki-laki itu sudah seperti penghibur dan penyemangat kehidupan Najwa setelah keluarganya. Sarah pun ikut akrab dengan Aqil, karena dia satu-satunya teman laki-laki Najwa yang datang kerumahnya setiap hari, dan sikapnya yang sopan juga menyenangkan adalah poin tersendiri yang dianggap Sarah ada dalam diri Aqil.

"Bunda yang nyebut, katanya makanan ini sudah dilebihin sama Bunda karena nanti ada kamu Kak."
Goda Najwa.

"Jadi menurut Bunda, aku makannya banyak?"

"Bukan Bunda yang bilang, kamu sendiri loh Aqil ya.."
Ucap Sarah sembari senyum-senyum melihat ekspresi Aqil yang cemberut.

"Apa salahku Bunda? Sampai-sampai Bunda punya alibi seperti itu?"
Tanya laki-laki itu bak seperti aktor dalam sinetron.

"Aiissh, sudah Kak jangan mulai. Berangkat aja yuk."
Sahut Najwa, gadis itu tau pasti Aqil akan bertindak konyol lagi.
"Bunda kita berangkat ya, Assalamualaikum."

Sedangkan laki-laki yang tadinya mau bersiap-siap bertingkah dramatis seperti disinetron-sinetron, kini harus mengurungkan niatnya karena melihat gadis itu sudah berlalu berjalan keluar rumah. Sarah yang melihat kegagalan Aqil kembali tertawa geli.

"Yasudah, kita berangkat dulu Bun."
Pamitnya.

"Iya, Bunda minta tolong sama kamu, jaga Najwa ya.. Meski Bunda tau, kamu sendiri punya kesibukan sendiri, tapi cuman kamu yang Bunda percaya bisa menjaganya."
Ucap wanita itu. Aqil mendengar kalimat itu seperti sayatan untuk hatinya, menjaga? Apa benar dia bisa menjaga Najwa? Meski selama ini dia sudah berusaha untuk melakukan itu, tapi dia tidak yakin bisa melakukannya lagi nanti.
"Kenapa Qil?"
Tanya Sarah saat melihat Aqil malah terdiam dan melamun.

"Mmm, tidak Bun. Aku pasti akan menjaga Najwa."
Jawabnya, yang sudah sadar dari lamunannya.

"Kak Aqil ayoo, aku jamuran nunggu ini."
Teriak Najwa dari depan rumah.

"Aqil harus cepat-cepat kedepan Bun, putri sulung Bunda itu sudah mulai makan toa."
Ucap Aqil.
"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

***

Najwa duduk dikursi belakang, sedangkan Aqil sibuk menyetir dengan headset ditelinganya.
Keheningan lah yang ada, terdengar suara musik, namun hanya Aqil yang bisa mendengarnya.

Najwa mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah foto kecil berukuran 3x4, bukan foto ktp atau ijazah, namun fotonya bersama Zufar, Ayahnya. Dia membuat foto itu agar bisa dibawa kemana-mana, agar setiap senyum Ayahnya bisa dengan mudah dia lihat, dan selalu menyemangati dirinya, apalagi disaat seperti ini ketika dia untuk pertama kalinya menjalani interview.

"Sudah sampek."
Ucap Aqil tiba-tiba dan membuat Najwa terhenyak, sampai dengan spontan dia meletakkan foto tersebut tidak pada tempatnya semula. Kenapa terasa perjalanan begitu cepat? Apa karena rasa gugupnya yang membuat semua itu terasa singkat.

Najwa turun dan diikuti Aqil.

"Kenapa wajah lo?"
Tanya Aqil yang sudah ada dismaping Najwa, laki-laki itu ikut kedalam perusahaan, dia juga ingin berbicara dengan pemilik perusahaan itu, sebagai seorang teman.

"Kenapa Kak? Apa ada yang cemong?"
Tanya Najwa khawatir.

"Nggak, terlihat tegang aja."
Ucap Aqil.

"Iish kirain apa... Gue baru pertama kali interview Kak, gue nggak berani."

"Nggak berani? Lo kira perusahaan ini rumah berhantu?"

"Kak Aqil, gue serius."

"Iya iya, yaudah kita masuk aja dulu. Pokoknya nanti apapun pertanyaannya jawab dengan mantap tanpa ragu-ragu."
Najwa mengangguk. Dan Aqil tersenyum.

Mereka berdua kemudian berjalan memasuki perusahaan yang tak kalah besar dengan perusahaan Sarah.

"Maaf, kalau mau interview bisa menemui siapa ya?"
Tanya Aqil pada staff karyawan yang lewat.

"Najwa Aliman ya?"
Tanya perempuan dengan setelan rok pendek dan rambutnya yang digelung kebelakang. Dia melirik kesamping Aqil.

"Iya Bu."
Jawab Najwa.

"Anda sudah ditunggu diruangan direktur utama, mari saya antar."
Ucap perempuan itu.

"Iya baik, terimakasih.."
Najwa melihat kearah Aqil dengan pandangan yang aneh. Dia fikir yang menginterview dirinya adalah HRD, atau memang perusahaan itu tidak punya HRD? Ah tidak mungkin perusahaan sebesar itu tidak punya.

Langkah Najwa pun masih diikuti Aqil, laki-laki itu harus memastikan jika Najwa benar-benar menjalani proses interview sampai selesai. Meski dia tahu, gadis itu tidak akan apa-apa jika dengan Arbani, temannya.

"Udah, masuk gih."
Ucap Aqil yang melihat Najwa berdiri didepan pintu ruangan direktur utama, gadis itu tidak cepat-cepat membuka pintu dan masuk kedalamnya.

"Gue masih gugup kaa, keringet dingin ini."
Jawab Najwa.

"Yaelah, didalem itu Arbani, dia bukan kategori bos yang jahat. Tapi kalo anak buahnya kayak lo yang penakut gini, bisa-bisa lo diseret terus-terusan."
Ucap Aqil seenaknya.

"Apa diseret?"
Wajah Najwa berubah semakin gugup.
Mengetahui perubahan ekspresi atas ucapannya tadi, Aqil segera meralat, bagaimana bisa, bukannya menyemangati tapi malah menakut-nakuti.

"Nggak, nggak.. Udah deh, pokoknya lo didalem apapun pertanyaannya jawab aja tanpa ragu, mau itu salah atau bener, serahin semuanya sama Allah, bukankah segala yang diridhai-Nya akan dilimpahkan pada kita? Kalau memang pekerjaan ini baik buat lo, pasti Allah memberi jalan untuk lo bisa diterima."
Jelas Aqil, kalimatnya menyiratkan sebuah semangat tersendiri untuk Najwa. Gadis itu mengerti, semua memang atas kehendak Allah, seharusnya semua itu dia serahkan pada-Nya. Masalah interview, yang dia hadapi hanya manusia, sama sepertinya, punya segala yang dia punya pula. Lalu apa yang dia takuti?

"Makasih Kak.."
Ucap Najwa.

"Iya, masuk gih. Semoga lancar."
Sahut laki-laki itu. Meski dia sendiri merasakan takut, bukan takut yang dirasakan Najwa, namun ketakutan tersendiri kehilangan Najwa.

"Oke Kak, doakan ya."
Aqil tersenyum sembari mengangguk.

***

"Permisi Pak."
Suara Najwa memecah keheningan dalam ruangan itu, didalam sana tidak terdengar kebisingan dari luar sama sekali. Hanya rasa tenang, apalagi ruangan itu bercat-kan warna biru muda, warna kesukaan Najwa sejak kecil, warna cat yang sama persis dengan warna cat ruangan kerja Bundanya. Dia sedikit terpukau dnegan ruangan itu, sampai akhirnya suara bariton membuyarkannya.

"Silahkan duduk."

"Baik, terimakasih Pak."
Najwa sedikit tegang, meski dia mencoba menenangkannya.

Najwa tertunduk.

"Perkenalkan diri kamu, dan apa kemampuan kamu.. Sebelumnya boleh saya minta berkas yang saya minta kemarin?"
Ucap Arbani khas seorang direktur utama.

Najwa menyodorkan map berisi berkas yang diminta Arbani.

"Nama saya Najwa Aliman, saya lulusan S1 bisnis, kemampuan saya..."

"Ini siapa?"
Potong Arbani yang masih memperhatikan berkas dimap tersebut.

Najwa mengernyitkan alisnya, dia memicingkan mata, mencoba mencerna pertanyaan Arbani, tapi bagaimanapun juga pertanyaan itu tidak nyambung. Sedangkan untuk memperkenalkan diri saja Najwa belum menyelesaikannya sampai tuntas.

Gadis itu menilik sedikit objek yang jadi pertanyaan Arbani. Dan matanya menemukan foto berukuran 3x4 yang seharusnya dia simpan didompet seperti tempatnya semula, bukan didalam map itu. Ini pasti karena kecerobohannya tadi, dia kaget saat Aqil berbicara dan asal menaruh foto itu sembarangan.

"Dokter Zufar?"
Tanya lagi Arbani.
"Kamu anak dari Zufar Aliman? Dokter disalah satu rumah sakit terbesar di Surabaya?"
Tanyanya lagi, tapi kini dengan memperhatikan Najwa. Gadis itu terhenyak karena pandangan laki-laki itu tiba-tiba saja beralih kearahnya.

"Benar Pak."
Jawab Najwa.

"Berarti kamu juga anak dari Sarah? Pemilik perusahaan Azhar Chemical?"
Tanya Arbani lagi, sepertinya laki-laki itu begitu penasaran dengan Najwa setelah melihat foto tadi.

"Benar juga Pak."

"Lalu kenapa kamu melamar pekerjaan disini? Bukankah Ibumu juga punya perusahaan yang bisa kamu tempati untuk bekerja."
Sepertinya laki-laki itu benar-benar penasaran.

"Maaf Pak, tapi terkadang apa yang kita miliki bisa membuat kita berbuat seenaknya, saya hanya ingin bekerja dengan kemampuan yang saya punya, bukan kekuasaan. Saya juga ingin tau seberapa ilmu yang sudah saya dapat selama ini, dengan bekerja diperusahaan lain, dan dengan peraturan lain."
Jawab Najwa dengan mantap.

"Dan seandainya pengalamanmu diperusahaan ini sudah cukup, apa kamu punya rencana untuk mengundurkan diri dan kembali keperusahaan Ibumu?"

"Kalau memang diperusahaan ini saya masih dibutuhkan, saya akan tetap disini Pak."
Jawab gadis itu dengan mantap.

"Oke, baik. Selamat datang di Tsaniy Media. Semoga kita bisa bekerjasama lebih baik lagi."
Tanpa basa-basi laki-laki itu menyodorkan tangannya. Najwa masih tidak menyambut uluran tangan Arbani, dia masih tidak percaya, semudah itu? Bahkan pertanyaan tadi tidak sama sekali menjurus pada pekerjaan.
"Najwa?"
Tambah Arbani, saat uluran tangannya tidak juga disambut Najwa.

"Mmm iya Pak, terimakasih sekali Pak..."
Dia kembali dalam kesadarannya. Namun bukan membalas jabatan tangan Arbani, gadis itu menelangkupkan dua telapak tangannya didepan dada.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu perusahaan ini lebih berkembang."
Arbani menarik tangannya, dia tahu maksud dari gadis itu.

"Saya juga berterimakasih, kamu bisa mulai bekerja hari ini. Menjadi sekretaris saya."
Ucap Arbani masih dengan sikap khas direktur utama.
"Nanti akan ada Velia, dia salah satu staff admin disini yang akan menunjukkan dimana ruangan kamu, dan kamu bisa meminta apapun padanya."

"Baik Pak, terimakasih. Saya akan menemui Bu Velia dulu.. Permisi."
Najwa berdiri, dan meninggalkan bos besarnya. Tak terlalu menakutkan, namun sikapnya yang dingin dan tegas membuat Najwa bosan. Haftz.

Najwa ingat sesuatu, dia mengurungkan niat untuk melangkah, dan menoleh kembali kearah Arbani.

"Maaf Pak, saya bisa meminta kembali foto tadi?"
Tanya Najwa pelan. Dia tadi sudah pamit.

"Mmm, nanti akan saya kembalikan diruangan kamu."

"Baik kalau begitu Pak, permisi."
Najwa berfikir untuk apa Arbani terus-terusan memperhatikan foto Ayahnya.

***

"Kak, gue mau tanya."
Najwa mengetuk-ngetuk meja yang sekarang ada didepannya, sembari melihat Aqil dengan lahap menghabiskan bekal gadis itu.

"Hmmm."
Jawab laki-laki itu sembari masih memakan makanan sisa gadis itu, bukan sisa, karena makanan itu terbilang masih banyak.

"Apa sebelumnya Pak Arbani pernah kenal dengan Ayah atau Bunda ya Kak?"
Tanya Najwa yang seketika membuat Aqil tersedak.

"Ke-kenapa nanya gitu?"
Tanya balik Aqil.

"Nggak apa-apa sih Kak, kan lo kenal deket sama Pak Arbani, mungkin aja lo pernah liat dia deket juga sama Ayah atau Bunda gitu?"
Tebaknya.

"Mmm, kayaknya gue nggak pernah liat."
Jawab laki-laki itu gugup, tidak seperti biasanya.

"Oh gitu, tapi kenapa pas gue nanya, lo keselek gitu sih Kak? Kayak kaget gitu, kenapa?"

"Emang gue keliatan kaget ya?"

"Iya, ada yang lo sembunyiin ya?"
Tebak lagi Najwa, dan laki-laki itu seakan tersudut dan tidak bisa memberi alasan.

"Aqil."
Suara bariton berhasil membuat rasa penasaran Najwa buyar, meski baru, tapi gadis itu sudah sangat mengenal siapa pemilik suara tersebut.

Dari balik tubuh Najwa, Arbani menghampiri kedua orang yang sedang ada dikantin perusahaan itu.

"Hei Bro."
Aqil melirik sedikit kearah Najwa sampai akhirnya dengan sepenuhnya dia melihat kearah Arbani.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...