Saat kamu menanyakan bagaimana hatiku sekarang, jawabannya adalah tak baik-baik saja. Sungguh, ada sesuatu yang membuat hati rasanya nyeri. Apa kekecewaanmu masih tak berujung? Ini terlalu lama, dan aku semakin takut. Entah apa mungkin itu benar adanya, karena aku pun tak jelas tau atas hal itu.
Tapi kenapa selucu ini, apa iya aku yang membesar-besarkan kekesalanku ini atas hati yang sedikit nyeri, atau memang kamu yang mulai... Ah entahlah. Hanya saja aku tak pernah mau itu terjadi.
Kenapa setiap orang memilih bersikap acuh saat apa yang mulai diraihnya sudah dekat, kenapa?
Apa salah, aku berfikiran seperti ini?
Apa kah peka, atau tidak peka itu tergantung yang memberi kode?
Kode yang seperti apa? Sedangkan kamu sendiri mulai acuh.
Entahlah, aku hanya berharap apa yang menjadi harapan kita dulu benar adanya, dan tak hanya menjadi bualan semata.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu