4 tahun yang lalu tepatnya, aku mulai mengenalmu, dan aku berani menuangkanmu dalam tulisanku. Sebenarnya aku sudah mengenalmu sejak lama, tapi kita saling bertegur baru pada 4 tahun yang lalu. Dan pada tanggal 27 maret 2016, aku menulis tentangmu, tentang penantian akan dibawa kemanakah hati ini. Aku mengukirmu dalam sebuah doa, mencuri namamu dalam sebuah sujud. Menerka rasamu yang entah pada saat itu sudahkah untukku. Aku hanya takut melangkah pada waktu itu, aku takut semakin mengemban rasa yang berlebih, namun sakit ketika tau kamu tak juga punya rasa itu. Tapi, ternyata sebuah penantianku mendapat titik terang, kamu menyatakan rasamu secara langsung disebuah rumah makan, dan entah kamu tau atau tidak, pipiku memerah, rasanya panas, dadaku terlihat berdetak karena jantung yang sudah tak normal detaknya. Dan aku tau, waktu itu juga kamu sangat canggung. Aku tersenyum mengingatnya. Itu semua sudah berlalu, ketika keadaan menghancurkan semua. Kini yang ada, kita berjalan dijal...
Jadilah senja yang masih terang, meski langit memaksa untuk redup.