Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Kita yang ada dijalan berbeda

4 tahun yang lalu tepatnya, aku mulai mengenalmu, dan aku berani menuangkanmu dalam tulisanku. Sebenarnya aku sudah mengenalmu sejak lama, tapi kita saling bertegur baru pada 4 tahun yang lalu. Dan pada tanggal 27 maret 2016, aku menulis tentangmu, tentang penantian akan dibawa kemanakah hati ini. Aku mengukirmu dalam sebuah doa, mencuri namamu dalam sebuah sujud. Menerka rasamu yang entah pada saat itu sudahkah untukku. Aku hanya takut melangkah pada waktu itu, aku takut semakin mengemban rasa yang berlebih, namun sakit ketika tau kamu tak juga punya rasa itu. Tapi, ternyata sebuah penantianku mendapat titik terang, kamu menyatakan rasamu secara langsung disebuah rumah makan, dan entah kamu tau atau tidak, pipiku memerah, rasanya panas, dadaku terlihat berdetak karena jantung yang sudah tak normal detaknya. Dan aku tau, waktu itu juga kamu sangat canggung. Aku tersenyum mengingatnya. Itu semua sudah berlalu, ketika keadaan menghancurkan semua. Kini yang ada, kita berjalan dijal...

Aku hanya bisa mendengar derap langkahmu yang semakin lirih

Serupa langkahmu yang berderap ketika melatih paskibra, begitupun langkahmu yang semakin jauh. Suara hentakan nya lambat laun melirih, dan akhirnya tak terdengar sama sekali. Apa kabar kamu? Percayalah, aku masih mengingat setiap kenangan yang pernah kita ukir. Tak ada kesedihan, pertengkaran, ataupun gerutuan. Yang ada hanya kata-kata gurauan, perdebatan yang menggemaskan, dan tatapan. Tatapan itu meremuh denyut nadiku, menghantamkan sesuatu pada perasaanku, dan merengkuh seluruh kenyamananku. Kamu yang berlari menjauh tanpa menoleh ke belakang, sedang ada aku disini yang memintamu untuk kembali. Tapi kenyataan telah membuatmu enggan untuk datang, ketika dengan pergi membenarkan semua keadaan. Kenapa tak kamu genggam saja tanganku, dan membawaku lari? Kenapa kamu berlari sendiri, dan menghancurkan hati. Seperti diujung pantai waktu itu, Kamu menutup kepalaku dengan jaketmu, melindungiku dari teriknya matahari siang itu. Kenapa kamu tak melakukannya sekarang? Kenapa kamu m...

Seandainya aku bisa menunggu sebentar untuk pertemuan kita

Baca sebelumnya : Perempuan dalam persembunyianku masih memiliki hati ini seutuhnya Hari ini aku datang kerumahnya, dia merengek untuk kutemui, katanya dia merasakan rindu dan aku dikira tidak merasakan hal itu juga. Entah mengapa apa yang dikatakannya itu benar, karena yang buatku bisa merasakan itu adalah kamu. Aku sendiri tidak tau kenapa, dan sejak kapan, rasa itu benar-benar hilang tergerus oleh posesif dan egoisnya dia. Aku tidak pernah mau membandingkan dia dengan kamu, tapi setiap kali kamu memperlakukanku, secara tidak sengaja aku membandingkan kalian, dan aku selalu kagum terhadapmu yang bisa meluluhkan kerasnya aku. Seperti kali ini, seperti yang dulu-dulu, aku selalu pamit untuk pergi kerumahnya, mengunjunginya sekali seminggu, dan disana pun aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain game, karena disana rasa nyamanku sudah hilang, dan aku benar-benar risih. Meskipun dia bersikap manis, tapi selalu ada hal yang membuatnya bersikap egois, dan berakhir dengan pert...

Lalu siapa yang sedang membuatmu jatuh cinta

Dari kemarin aku mencari waktu untuk bertemu denganmu, menguarkan cerita hari-hari yang lalu. Dan biasanya kamu bersedia untuk mendengarnya, tapi sekarang kamu beralasan bahwa sedang ada acara, tapi tidak sekali dua kali, berkali-kali dan aku tidak tau apa yang sedang kamu lakukan disana. Kamu laki-laki ku yang ku anggap dapat menjaga percayaku, namun rasa khawatir masih tidak bisa kuelakkan. aku takut ada perempuan lain yang mengalihkan perhatianmu, hingga akhir-akhir ini membuatmu sedikit jauh dariku. Dan kali ini, aku berusaha menghubungimu dengan telpon whatsapp, karena pesanku tidak kamu hiraukan sedikitpun. Kamu selalu marah jika aku memprotes pesanku tidak kamu baca, tapi terlihat online. Ah ayolah, apa aku salah ingin diprioritaskan? aku adalah kekasihmu, dan sebentar lagi kita akan menikah, kenapa tidak ada waktu yang kamu luangkan sedikit untukku? Aku ingin menemuimu, kamu tidak tau bagaimana rasanya menahan rindu, dan kamu mungkin tidak pernah merasakan hal tersebut pada...

Aku hanya menunggumu datang untuk menetap

Baca sebelumnya : Akulah yang masih mengalihkan perhatian dan perasaanmu Kemarin kita sedang membicarakan tentang teman satu kantor kita yang baru saja menikah dadakan, aku tersenyum sumringah, bukan karena persepsi-persepsi aneh yang diujarkan oleh kebanyakan orang, mengenai alasan menikah dadakannya, tapi aku tersenyum bahagia karena tidak ada alasan lagi yang buatku cemburu. Dulu, kamu itu selalu sengaja jadi kompor meleduk yang buatku panas dan ingin menjitak puncak kepalamu, kamu paling suka melihatku cemberut dan kesal karena hubungan kalian, yang kutau perempuan itu sedikit ada perhatian ke kamu, dan kamu memanfaatkan itu untuk buatku panas. Aku sendiri tertawa mengingatnya, kenapa aku dulu cemburu pada hubungan mereka yang sebenarnya tidak perlu ku khawatirkan. Karena ada kenyataan yang sudah aku takutkan sejak awal berhubungan denganmu. Yaitu ketika kamu benar-benar sudah memilih menikah dengan kekasihmu yang sekarang. Lalu apalah dayaku yang kamu sembunyikan selama ini? ...

Lalu apa kabar perempuan yang kemarin

baca sebelumnya : ketika hatiku sedang dibohongi Aku berunding dengan duka, dan aku memutuskan untuk melupakanmu. Untuk apa terus memperjuangkan, sedang sekedar menengok, kamu enggan. Tadi ibu bertanya tentangmu lagi, aku tidak bisa menyembunyikan ini terus-menerus. Akhirnya dengan berat hati, aku memberikan pengertian bahwa semuanya sudah berakhir, semuanya sudah dihancurkan sebelum aku benar-benar mencintai. Dan diluar ekspektasiku, ibu tersenyum lalu mengelus puncak kepalaku, dibalik senyumnya, sebuah ketenangan mengalir menyelimuti atmosfer, dan dadaku terasa longgar setelah banyak yang menghimpit. Ia berkata bahwa; yang datang akan selalu pergi, dan kita harus selalu siap untuk melepas, karena kepergiaan akan selalu meninggalkan luka. Begitupun yang berjodoh pun akan tetap terpisah. Aku lega, melihat reaksi ibu ku. Kisahku tidak sebanding dengannya yang sudah hidup berpuluh tahun sebelumku, yang tentu lebih banyak mengenyam pedih, duka, luka, suka dan bahagia. Aku akan banya...

Bermain game online denganmu

Aku lupa, kita sekarang sudah jauh, dan punya sekat yang tidak seharusnya aku elakkan. Maafkan jika aku terlalu excited, ketika bisa satu kegiatan denganmu, dan kita bisa seru-seruan didalamnya, ya meskipun hanya dalam sebuah game online. Aku tertawa mengingatnya, betapa aku terlihat norak dan grogi mengendalikan game ketika satu tim denganmu. Aku bahkan memposting hasil dari game yang kita mainkan dan mention kamu didalamnya. Tapi sikapmu tiba-tiba menjadi dingin. Pembicaraan kita sebelumnya memang hanya basa-basi selayaknya teman biasa, saling memuji hasil permainan, dan menertawakan kebodohan, tapi semuanya berubah dengan balasan pesanmu yang singkat. Aku berpikir keras atas sikapmu ini, kita teman bukan? Tapi kenapa seakan-akan kamu sedang berbincang dengan orang yang tidak dikenal. Kemudian aku sadar, harusnya aku tidak membawa namamu lagi dikehidupanku, aku tau kamu risih. Aku memutuskan untuk unpublish capture kemenangan kita yang sebelumnya sudah kulakukan beberapa menit ya...

Ketika hatiku sedang dibohongi

Aku baru sadar bahwa kamu datang hanya untuk memberiku pelajaran; bahwa yang terlihat serius, belum tentu tidak meninggalkan. dan bodohnya, aku masih memintamu untuk datang ke rumah, mengemis seolah aku masih sangat membutuhkanmu. Dengar, jika kamu tidak pernah datang kerumah dan bersikap sangat manis pada orangtuaku, aku tidak akan melakukan hal ini. Kamu telah mengambil hati orang tuaku, memberi persepsi pada mereka bahwa kamu lah yang pantas untukku nantinya. Saat itu aku luluh, melihat orang tuaku sangat menyukaimu, maka ku putuskan untuk menerimamu, meski pada saat itu ada seseorang yang sudah memenuhi hatiku, namun selalu menorehkan luka. Aku berpikir kenapa tidak, ketika seseorang yang sedang ku perjuangkan tidak menghiraukanku, mengapa aku tidak menerima orang lain yang jelas-jelas mau datang kerumah; yaitu kamu.  Tapi ternyata luka itu jauh lebih menyakitkan ketika kamu yang menorehkannya. Kamu seolah lupa apa yang pernah kamu katakan pada orang tuaku, kamu boleh hi...

Mengenyah ragu, menilik rindu

Pada sang senja, aku bahagia meski harus dengan banyak cara, karena kutau bahagiaku hanya saat bersamamu. Mengenyah ragu, menilik rindu, dan melawan waktu, Aku mampu melakukannya, cuma untuk bersua. Pada sang senja, memikirkanmu telah banyak menguras tenagaku, sehingga ku bertekad untuk mendekatimu. Bukan hal mudah, tapi tak membuatku resah, sebab hatiku masih terarah, Aku mampu melakukannya, cuma untuk bersua. Pada sang senja, bolehkah aku mencurimu pada saat mengurai, sebab aku ingin memilikimu tanpa batas. batas yang berjarak, luka yang berserak, kucoba untuk mengelak, Aku mampu melakukannya, cuma untuk bersua.

Pada sang senja, bawa aku saja

Kita ingin pergi keruang, Tapi yang kita temui adalah jurang. Kita tak ingin saling membuang, Tapi keadaan yang menghentikan kita untuk berjuang. Pada sang senja, Bawa aku saja. Aku mau bersamamu, Karena aku tak bisa tanpamu. Rindu ini telah menghancurkanku, Dan bagaimana denganmu? Kita dulu pernah satu jalan, Tapi nyatanya kita ditahan, Kita dipisahkan, Oleh keadaan. Juang tak tentu menuju ruang, Dan satu jalan, belum tentu kita tak ditahan. Kini, yang terisa hanya rindu, Dan kita tak dapat beradu, Karena semua itu sudah berlalu, Dan hanya menyisakan pilu. Pada sang senja, Bawa aku saja. Aku lelah mengarungi waktu, Yang tak dapat membuat kita bersatu.

Kamu yang masih bisa tersenyum ketika mengucapkan selamat tinggal

Kamu ingat waktu kita makan berdua di rumah makan dan masakannya tidak sesuai dengan ekspektasi kita? Masih ingatkah? Saat itu aku memilih untuk tidak melanjutkan makan, sedangkan kamu dengan wajah yang menahan rasa mual masih terus coba menghabiskan. Dan alhasil, kamu mampu menghabiskannya tanpa tersisa. Aku melihatnya tidak bisa menahan tawa, sembari cekikikan kudorong semangkok mie pesananku ke depannya. "Aku punya firasat buruk." Ucapmu waktu itu, karena kamu sudah hapal betul tugas ketika makananku tidak habis. Aku lagi-lagi tertawa, baiklah untuk makanan lain yang rasanya lumayan kamu bisa menghabiskan, tapi untuk kali ini tidak sepertinya. "Firasatmu selalu buruk." Balasku. Aku lagi-lagi tertawa mengingat hal itu. Bukan hanya mengingat kenangannya, tapi kenyataan yang terjadi sekarang. Itu semua sudah berlalu ditahun-tahun yang lalu, dimana sekarang tidak tersisa waktu sedikitpun untuk mengulangnya, atau mungkin tidak akan terjadi. Aku yang menghancurkan ...

Aku yang meninggalkanmu, dan aku yang merasa kehilangan

Seperti luka yang kuberi kemarin, Aku menuangkan peluh kembali untuk kesekian. Rupanya tak satu atau dua, tapi berulang-ulang. Dan kamu masih tersenyum kearahku, tanpa berniat untuk mencengkramku dan berteriak "Aku membencimu! Kamu telah banyak melukaiku!" Tidak. Kamu masih mau menerimaku, lagi dan lagi, meski hanya sebagai teman. Tapi luka yang kuberikan, tidak seharusnya menempatkanku diposisi ini. Lebih cocoknya, aku dihempaskan. Hatimu seperti berlian, dan aku bangga pernah memilikinya, walau hanya sekilas sebelum ruang memberi sekat dan kita tidak bisa melewatinya lagi. Luka yang kemarin belum sembuh sempurna, mungkin masih banyak tersisa dan aku menambahnya lagi. Tuan monster senja, ku rindu. Banyak hal tentangmu yang kutuangkan dalam tulisan. Tentangmu, yang sangat mencintaiku, Tentangmu, yang hanya berpikir untuk membahagianku, Kemudian, tentangmu, yang kusakiti hatinya bertubi-tubi, Tentangmu, yang memilih pamit untuk pergi, Dan tentangmu, yang sudah baha...

Perempuan dalam persembunyianku masih memiliki hati ini seutuhnya

Baca sebelumnya : Karena kamu berbeda dengannya Silahkan salahkan aku. Karena memang seorang tamu tidak akan masuk jika bukan tuan rumah yang mempersilahkan. Aku membuka tangan menerimamu, dan menarikmu untuk ikut berjalan yang semakin jauh, akan semakin curam. Selayaknya mendaki gunung, harapan kita ketika perjalanan yang membuat lelah itu terbayar dengan keindahan pada akhirnya. Tapi siapa yang tau pada hubungan kita ini? Aku membuatmu semakin dalam mencintaiku, tapi aku tidak menjanjikan apapun, selain hanya juga mencintaimu.  Aku tidak bisa membiarkan mu pergi begitu saja, tapi tidak ada alasan juga untuk membuatmu menetap disini. Karena apa yang dijanjikan oleh lelaki dan menjadi harapan besar bagi perempuan, sudah kuberikan pada perempuan lain. Dan aku tidak bisa begitu saja mencabutnya. Aku ingin membebaskanmu, mempersilahkan kamu untuk pergi, karena aku tidak bisa mewujudkan harapanmu. "Maafkan aku, karena aku salah membuatmu seperti ini." Jauh melangkah, dan ak...