Langsung ke konten utama

Ketika hatiku sedang dibohongi

Aku baru sadar bahwa kamu datang hanya untuk memberiku pelajaran; bahwa yang terlihat serius, belum tentu tidak meninggalkan. dan bodohnya, aku masih memintamu untuk datang ke rumah, mengemis seolah aku masih sangat membutuhkanmu. Dengar, jika kamu tidak pernah datang kerumah dan bersikap sangat manis pada orangtuaku, aku tidak akan melakukan hal ini.

Kamu telah mengambil hati orang tuaku, memberi persepsi pada mereka bahwa kamu lah yang pantas untukku nantinya. Saat itu aku luluh, melihat orang tuaku sangat menyukaimu, maka ku putuskan untuk menerimamu, meski pada saat itu ada seseorang yang sudah memenuhi hatiku, namun selalu menorehkan luka. Aku berpikir kenapa tidak, ketika seseorang yang sedang ku perjuangkan tidak menghiraukanku, mengapa aku tidak menerima orang lain yang jelas-jelas mau datang kerumah; yaitu kamu. 

Tapi ternyata luka itu jauh lebih menyakitkan ketika kamu yang menorehkannya. Kamu seolah lupa apa yang pernah kamu katakan pada orang tuaku, kamu boleh hiraukan perasaanku yang kini mulai bisa menerimamu, tapi kamu tidak bisa hiraukan perasaan kedua orang yang telah membesarkan dan merawatku begitu saja. 

Aku ingat sekali, ketika kamu pamit untuk pergi makan dengan mantanmu, yang ceritanya setelah putus dengannya kamu mendekatiku. Aku tak apa, pergilah selagi hatimu masih untukku, tapi ada hal yang membuatku tercengang, ketika aku dengan percaya dirinya meminta hatimu bisa dijaga untukku, ternyata kamu menjawabnya dengan "Loh bukannya kita hanya teman?"

Teman? lalu bagaimana dengan kamu saat mengungkapkan perasaan, lalu berniat pergi kerumahku, berbincang dengan kedua orang tuaku dengan manisnya, dan mereka menyukaimu. Lalu kini semua yang pernah kita lalui itu hanya sebagai teman?

Aku ingin mengutuk diriku sendiri yang langsung menjatuhkan hatiku begitu saja ketika orang tuaku menyukaimu, toh yang kuanggap dengan datang kerumah itu sudah serius, ternyata hanya sebatas teman. Baiklah, aku tidak bisa memaksamu untuk menetap, mungkin perempuan yang sedang bersamamu sekarang, lebih bisa membuatmu bahagia dan lupa atas semua yang kamu janjikan padaku, tidak apa.

Aku harap hatiku bisa sembuh sempurna, ketika tau hatiku sedang dibohongi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...