Kamu ingat waktu kita makan berdua di rumah makan dan masakannya tidak sesuai dengan ekspektasi kita? Masih ingatkah?
Saat itu aku memilih untuk tidak melanjutkan makan, sedangkan kamu dengan wajah yang menahan rasa mual masih terus coba menghabiskan. Dan alhasil, kamu mampu menghabiskannya tanpa tersisa. Aku melihatnya tidak bisa menahan tawa, sembari cekikikan kudorong semangkok mie pesananku ke depannya.
"Aku punya firasat buruk." Ucapmu waktu itu, karena kamu sudah hapal betul tugas ketika makananku tidak habis. Aku lagi-lagi tertawa, baiklah untuk makanan lain yang rasanya lumayan kamu bisa menghabiskan, tapi untuk kali ini tidak sepertinya.
"Firasatmu selalu buruk." Balasku.
Aku lagi-lagi tertawa mengingat hal itu. Bukan hanya mengingat kenangannya, tapi kenyataan yang terjadi sekarang. Itu semua sudah berlalu ditahun-tahun yang lalu, dimana sekarang tidak tersisa waktu sedikitpun untuk mengulangnya, atau mungkin tidak akan terjadi. Aku yang menghancurkan harapan-harapan itu, dan melukaimu dengan cukup dalam. Dan kamu masih bisa tersenyum padaku, meski dengan ucapan selamat tinggal.
Kamu menyuruhku untuk tidak menyesali semua ini, karena kamu percaya ini semua diluar kuasaku. Benar, aku tidak pernah ingin mengakhiri, tapi keadaan berkata lain.
Monster Senja, sampai kapanpun kamu selalu punya ruang sendiri dihati ini. Aku tidak ingin melupakanmu, karena tidak ada hal yang mengharuskanku untuk lupa. Semua yang ada pada dirimu, selalu kukagumi, dan aku selalu jatuh cinta.
Maafkan aku, karena janjiku dulu untuk melupakan rasa ini tidak pernah bisa kulakukan. Karena ketika aku berusaha, kenangan manis yang pernah kita lalui selalu terbayang, senyum itu yang selalu meruntuhkan pertahananku.
Monster Senja. Kamu masih terus menjadi mimpiku.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu