Baca sebelumnya : Akulah yang masih mengalihkan perhatian dan perasaanmu
Kemarin kita sedang membicarakan tentang teman satu kantor kita yang baru saja menikah dadakan, aku tersenyum sumringah, bukan karena persepsi-persepsi aneh yang diujarkan oleh kebanyakan orang, mengenai alasan menikah dadakannya, tapi aku tersenyum bahagia karena tidak ada alasan lagi yang buatku cemburu. Dulu, kamu itu selalu sengaja jadi kompor meleduk yang buatku panas dan ingin menjitak puncak kepalamu, kamu paling suka melihatku cemberut dan kesal karena hubungan kalian, yang kutau perempuan itu sedikit ada perhatian ke kamu, dan kamu memanfaatkan itu untuk buatku panas.
Kemarin kita sedang membicarakan tentang teman satu kantor kita yang baru saja menikah dadakan, aku tersenyum sumringah, bukan karena persepsi-persepsi aneh yang diujarkan oleh kebanyakan orang, mengenai alasan menikah dadakannya, tapi aku tersenyum bahagia karena tidak ada alasan lagi yang buatku cemburu. Dulu, kamu itu selalu sengaja jadi kompor meleduk yang buatku panas dan ingin menjitak puncak kepalamu, kamu paling suka melihatku cemberut dan kesal karena hubungan kalian, yang kutau perempuan itu sedikit ada perhatian ke kamu, dan kamu memanfaatkan itu untuk buatku panas.
Aku sendiri tertawa mengingatnya, kenapa aku dulu cemburu pada hubungan mereka yang sebenarnya tidak perlu ku khawatirkan. Karena ada kenyataan yang sudah aku takutkan sejak awal berhubungan denganmu. Yaitu ketika kamu benar-benar sudah memilih menikah dengan kekasihmu yang sekarang. Lalu apalah dayaku yang kamu sembunyikan selama ini?
Aku tidak bisa menahanmu terus-terusan, ketika bukan hanya dia yang memintamu untuk pulang, melainkan keluarganya juga. Tempat menetapmu bukan denganku, melainkan dengan dia. Kamu akan mengikrarkan janji untuk selalu bersamanya, dan pada saat itulah aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin nanti, aku akan dihempaskan secara perlahan, aku akan kembali ke tempatku sendirian, dan kehilangan kenyamanan.
Kamu selalu menegurku kalau sudah berbicara hal itu, kamu tidak suka jika aku bersedih, kamu tidak suka melihatku menangis, tapi ini akan terjadi juga. Kecuali kamu membatalkan semuanya dengan kekasihmu.
Aku tertawa miris, kenapa aku punya pikiran buruk seperti itu. Selama ini aku selalu menerima keadaan ini tanpa mau mendoakan yang buruk tentang hubungan kalian. Aku tidak mau kamu menyakiti perasaannya, meski dengan hubungan kita ini sudah pasti menyakitinya. Tapi tidak dengan meninggalkannya.
Aku hanya menunggumu datang untuk menetap, dan tidak pergi lagi.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu