Aku lupa, kita sekarang sudah jauh, dan punya sekat yang tidak seharusnya aku elakkan. Maafkan jika aku terlalu excited, ketika bisa satu kegiatan denganmu, dan kita bisa seru-seruan didalamnya, ya meskipun hanya dalam sebuah game online.
Aku tertawa mengingatnya, betapa aku terlihat norak dan grogi mengendalikan game ketika satu tim denganmu. Aku bahkan memposting hasil dari game yang kita mainkan dan mention kamu didalamnya.
Tapi sikapmu tiba-tiba menjadi dingin. Pembicaraan kita sebelumnya memang hanya basa-basi selayaknya teman biasa, saling memuji hasil permainan, dan menertawakan kebodohan, tapi semuanya berubah dengan balasan pesanmu yang singkat.
Aku berpikir keras atas sikapmu ini, kita teman bukan? Tapi kenapa seakan-akan kamu sedang berbincang dengan orang yang tidak dikenal.
Kemudian aku sadar, harusnya aku tidak membawa namamu lagi dikehidupanku, aku tau kamu risih. Aku memutuskan untuk unpublish capture kemenangan kita yang sebelumnya sudah kulakukan beberapa menit yang lalu. Kita hanya teman kan, dan apa salahnya kita main?
Hatiku memberi pengertian, bukan karena teman atau bermain game bersama. Tapi, hubungan kita yang dulu.
Kamu mungkin takut akan banyak mulut orang yang mencibir, berpresepsi yang sebenarnya tidak kita lakukan. Seperti yang kamu katakan dulu, kamu tidak ingin melihat aku dipandang buruk oleh orang lain, dan memilih mundur untuk kebahagiaanku.
Harusnya kamu sudah tau sejak dulu, bahwa bahagiaku selalu denganmu. Tapi seolah kamu menutup telinga, kamu lebih memilih mendengar ucapan orang lain. Aku tak mengapa, semuanya sudah terjadi dan aku tidak bisa menahanmu lagi. Yang kuminta hanya bisa berhubungan denganmu, meski sebagai teman.
Aku menulis sajak, dan semuanya tentangmu. Entah mungkin kamu akan terkejut melihat isinya. Aku masih mengagumimu, sebagai monster senjaku.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu