Langsung ke konten utama

Bermain game online denganmu

Aku lupa, kita sekarang sudah jauh, dan punya sekat yang tidak seharusnya aku elakkan. Maafkan jika aku terlalu excited, ketika bisa satu kegiatan denganmu, dan kita bisa seru-seruan didalamnya, ya meskipun hanya dalam sebuah game online.
Aku tertawa mengingatnya, betapa aku terlihat norak dan grogi mengendalikan game ketika satu tim denganmu. Aku bahkan memposting hasil dari game yang kita mainkan dan mention kamu didalamnya.
Tapi sikapmu tiba-tiba menjadi dingin. Pembicaraan kita sebelumnya memang hanya basa-basi selayaknya teman biasa, saling memuji hasil permainan, dan menertawakan kebodohan, tapi semuanya berubah dengan balasan pesanmu yang singkat.
Aku berpikir keras atas sikapmu ini, kita teman bukan? Tapi kenapa seakan-akan kamu sedang berbincang dengan orang yang tidak dikenal.
Kemudian aku sadar, harusnya aku tidak membawa namamu lagi dikehidupanku, aku tau kamu risih. Aku memutuskan untuk unpublish capture kemenangan kita yang sebelumnya sudah kulakukan beberapa menit yang lalu. Kita hanya teman kan, dan apa salahnya kita main?

Hatiku memberi pengertian, bukan karena teman atau bermain game bersama. Tapi, hubungan kita yang dulu.

Kamu mungkin takut akan banyak mulut orang yang mencibir, berpresepsi yang sebenarnya tidak kita lakukan. Seperti yang kamu katakan dulu, kamu tidak ingin melihat aku dipandang buruk oleh orang lain, dan memilih mundur untuk kebahagiaanku.

Harusnya kamu sudah tau sejak dulu, bahwa bahagiaku selalu denganmu. Tapi seolah kamu menutup telinga, kamu lebih memilih mendengar ucapan orang lain. Aku tak mengapa, semuanya sudah terjadi dan aku tidak bisa menahanmu lagi. Yang kuminta hanya bisa berhubungan denganmu, meski sebagai teman.

Aku menulis sajak, dan semuanya tentangmu. Entah mungkin kamu akan terkejut melihat isinya. Aku masih mengagumimu, sebagai monster senjaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...