Langsung ke konten utama

Seandainya aku bisa menunggu sebentar untuk pertemuan kita

Baca sebelumnya : Perempuan dalam persembunyianku masih memiliki hati ini seutuhnya

Hari ini aku datang kerumahnya, dia merengek untuk kutemui, katanya dia merasakan rindu dan aku dikira tidak merasakan hal itu juga. Entah mengapa apa yang dikatakannya itu benar, karena yang buatku bisa merasakan itu adalah kamu.
Aku sendiri tidak tau kenapa, dan sejak kapan, rasa itu benar-benar hilang tergerus oleh posesif dan egoisnya dia. Aku tidak pernah mau membandingkan dia dengan kamu, tapi setiap kali kamu memperlakukanku, secara tidak sengaja aku membandingkan kalian, dan aku selalu kagum terhadapmu yang bisa meluluhkan kerasnya aku.
Seperti kali ini, seperti yang dulu-dulu, aku selalu pamit untuk pergi kerumahnya, mengunjunginya sekali seminggu, dan disana pun aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain game, karena disana rasa nyamanku sudah hilang, dan aku benar-benar risih. Meskipun dia bersikap manis, tapi selalu ada hal yang membuatnya bersikap egois, dan berakhir dengan pertengkaran. Mengapa dia tidak bisa meluluhkan hatiku seperti yang kamu lakukan?
Tadi aku sedikit terlambat balik, karena ibunya menyuruhku mencoba makanan yang baru dibuat, padahal aku janji dengan kamu untuk pulang lebih awal. Akhirnya kamu marah-marah, dan entah kenapa aku malah gemas melihatmu marah dan mendiamkanku, ingin rasanya cepat-cepat bertemu lagi denganmu.
Setelah menjelaskan, akhirnya kamu bisa mengerti dan kembali seperti sebelumnya, kata-katamu sangat manis dan buatku tertawa sendiri. Ini yang buatku selalu membandingkanmu dengannya.
Aku selalu ingat betul, jika pesan whatsappnya tidak dibalas, dan aku terlihat online, kamu marah besar sembari terus menelponku. Aku jengah, selalu jengah, sudah berapa kali ku beri pengertian. Bahwa meski jika benar dia yang akan bersamaku nantinya, tapi harusnya dia juga tau aku perlu berinteraksi dengan orang lain, apalagi dalam hal pekerjaan. Dan semestinya dia mengerti hal itu.

Kamu yang harusnya kumiliki, seandainya aku bisa menunggu sebentar untuk pertemuan kita, mungkin tidak ada penghalang yang menjadi dinding.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...