Seperti luka yang kuberi kemarin,
Aku menuangkan peluh kembali untuk kesekian.
Rupanya tak satu atau dua, tapi berulang-ulang.
Dan kamu masih tersenyum kearahku, tanpa berniat untuk mencengkramku dan berteriak "Aku membencimu! Kamu telah banyak melukaiku!" Tidak. Kamu masih mau menerimaku, lagi dan lagi, meski hanya sebagai teman. Tapi luka yang kuberikan, tidak seharusnya menempatkanku diposisi ini. Lebih cocoknya, aku dihempaskan.
Hatimu seperti berlian, dan aku bangga pernah memilikinya, walau hanya sekilas sebelum ruang memberi sekat dan kita tidak bisa melewatinya lagi.
Luka yang kemarin belum sembuh sempurna, mungkin masih banyak tersisa dan aku menambahnya lagi.
Tuan monster senja, ku rindu.
Banyak hal tentangmu yang kutuangkan dalam tulisan.
Tentangmu, yang sangat mencintaiku,
Tentangmu, yang hanya berpikir untuk membahagianku,
Kemudian, tentangmu, yang kusakiti hatinya bertubi-tubi,
Tentangmu, yang memilih pamit untuk pergi,
Dan tentangmu, yang sudah bahagia disana.
Kini tak lebih semuanya tentangku, yang merindukan semua hal tentangmu.
Hatimu memang bisa pergi, tapi kenanganmu mungkin tidak.
Tulisanku buktinya, ada banyak kebahagiaan yang tercipta ketika bersamamu.
Mengingatmu, aku bisa membacanya lagi. Dan tersenyum sendiri, teringat bahwa kita pernah saling membahagiakan.
Ingatkah awal kita bertemu? Saat kuanggap kamu layaknya monster, tapi ternyata kamu meneduhkan layaknya senja. Akh, pasti kamu sudah sangat hapal tentang itu. Aku selalu mengulang cerita itu, dan kamu selalu menjawabnya dengan tawa. Kemudian, kita mengingat saat pertama kali saling menyapa. Ingatkah?
Akh, apa sih aku. Kenapa aku coba mengingatkan lagi hal yang sudah kamu kubur sejak terakhir kita berbincang sebagai dua orang yang sedang berkomitmen. Dan sekarang, kita hanya berbincang sebagai seorang teman, yang isinya hanya gurauan ringan. Perbincangan serius mengenai masa depan, bukanlah bahasan kita lagi.
Lucu ya, aku yang meninggalkanmu, tapi aku yang merasa kehilangan.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu