Langsung ke konten utama

Perempuan dalam persembunyianku masih memiliki hati ini seutuhnya

Baca sebelumnya : Karena kamu berbeda dengannya

Silahkan salahkan aku. Karena memang seorang tamu tidak akan masuk jika bukan tuan rumah yang mempersilahkan.
Aku membuka tangan menerimamu, dan menarikmu untuk ikut berjalan yang semakin jauh, akan semakin curam.
Selayaknya mendaki gunung, harapan kita ketika perjalanan yang membuat lelah itu terbayar dengan keindahan pada akhirnya. Tapi siapa yang tau pada hubungan kita ini?
Aku membuatmu semakin dalam mencintaiku, tapi aku tidak menjanjikan apapun, selain hanya juga mencintaimu.  Aku tidak bisa membiarkan mu pergi begitu saja, tapi tidak ada alasan juga untuk membuatmu menetap disini. Karena apa yang dijanjikan oleh lelaki dan menjadi harapan besar bagi perempuan, sudah kuberikan pada perempuan lain. Dan aku tidak bisa begitu saja mencabutnya.
Aku ingin membebaskanmu, mempersilahkan kamu untuk pergi, karena aku tidak bisa mewujudkan harapanmu.

"Maafkan aku, karena aku salah membuatmu seperti ini." Jauh melangkah, dan aku tidak bisa memberimu apa-apa. Rasa bersalah yang ku pendam sejak kutau kamu mulai membalas perasaanku.

Aku jadi ingat, pertama kali kita bertemu, dan aku mulai jatuh hati. Entah kenapa feeling ku berkata akan dekat denganmu, meski awalnya kita benar-benar tidak saling kenal. Skenario Tuhan yang tidak dapat ditebak alurnya, bahkan sekedar tercengang tidak bisa menggambarkan bagaimana kuasa-Nya membuat cerita. Kita bertemu untuk yang kedua kalinya, dan kita langsung kenal. Seperti yang aku rasakan sebelumnya, aku benar-benar nyaman kala itu, sikapmu yang masih malu-malu hingga sekarang urat malunya sudah putus membuatku selalu jatuh cinta.

Lalu skenario Tuhan seperti apa ini? Mengapa kita dipertemukan disaat yang tidak tepat. Hanya itu pertanyaan yang masih menjadi misteri. Suka duka lebih banyak kulalui denganmu. Karena dalam dirimu ada segalanya yang aku cari. Setiap kali melihatmu, aku menyesal kenapa tidak menunggu sebentar, untuk pertemuan ini, dan akhirnya aku bisa menjatuhkan keputusanku padamu.

"Seharusnya aku tidak mengalihkan perasaanmu."
Ya, seperti pertama kali kita bertemu, kamu tidak serta merta langsung membalas perasaan ini. Kamu sudah menjatuhkan hati pada seseorang yang selalu kamu tangisi setiap hari. Dia jauh lebih baik dariku, dan pantas kamu sangat mencintainya. Tapi bodohnya, aku masuk dalam kehidupanmu dan membuat mu lupa padanya, dan beralih padaku.

"Kita tidak pisah, kita tetap menjadi teman seperti biasa."
Ada sakit yang kurasakan saat mengucap ini. Bukan ini yang ku mau, dan bukan ini yang kuharapkan.

Melihatmu yang hanya diam, membuatku tak kuasa melanjutkan ucapan. Riuh sekeliling terasa hening ditelinga, dan dengungan keras menginterupsi ketika diujung mata indah itu sudah menggenang air yang sebentar lagi akan meluncur.

Sakit sungguh melihatmu, sudah beberapa kali aku membulatkan tekad untuk berbicara seperti ini. Aku ingin membebaskanmu, hanya itu. Meskipun nanti aku akan menyembuhkan hati ini sendiri, dan kuyakin akan cukup lama.

Kamu hendak mengangguk, tapi hatiku tiba-tiba memberontak. Jemarimu yang mengepal segera ku genggam untuk menghentikan.

Bukan, bukan anggukan yang aku inginkan.

Aku tidak mau kehilanganmu. Tidak.

Baiklah. Katai aku orang yang plin-plan, aku tidak bisa melakukan ini. Tidak.

Aku masih ingin mempertahankanmu. Airmata itu membuatku luluh lagi.
Dulu aku hancur, dan kamu juga hancur. Tapi ketika kita bersama, lambat laun semuanya berubah, dan apa yang kita takuti didepan, selalu kita tantang tanpa takut menyerah. Hati yang dulunya berantakan, tiba-tiba utuh lagi ketika kita bersama menyatukan ruang.
Ruang yang kita ciptakan, mengalahkan segala ruang lainnya.

Apakah keputusanku untuk berjalan dijalan masing-masing dan sekedar hanya menjadi teman, mampu mempertahankan hati yang sudah sembuh sempurna itu?
Aku tidak yakin.

Teruntuk calonku, maafkan aku. Ternyata aku masih kalah dengan hati ini. Perempuan dalam persembunyianku, masih memiliki hati ini seutuhnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...