baca sebelumnya : ketika hatiku sedang dibohongi
Aku berunding dengan duka, dan aku memutuskan untuk melupakanmu. Untuk apa terus memperjuangkan, sedang sekedar menengok, kamu enggan.
Tadi ibu bertanya tentangmu lagi, aku tidak bisa menyembunyikan ini terus-menerus. Akhirnya dengan berat hati, aku memberikan pengertian bahwa semuanya sudah berakhir, semuanya sudah dihancurkan sebelum aku benar-benar mencintai. Dan diluar ekspektasiku, ibu tersenyum lalu mengelus puncak kepalaku, dibalik senyumnya, sebuah ketenangan mengalir menyelimuti atmosfer, dan dadaku terasa longgar setelah banyak yang menghimpit. Ia berkata bahwa; yang datang akan selalu pergi, dan kita harus selalu siap untuk melepas, karena kepergiaan akan selalu meninggalkan luka. Begitupun yang berjodoh pun akan tetap terpisah.
Aku berunding dengan duka, dan aku memutuskan untuk melupakanmu. Untuk apa terus memperjuangkan, sedang sekedar menengok, kamu enggan.
Tadi ibu bertanya tentangmu lagi, aku tidak bisa menyembunyikan ini terus-menerus. Akhirnya dengan berat hati, aku memberikan pengertian bahwa semuanya sudah berakhir, semuanya sudah dihancurkan sebelum aku benar-benar mencintai. Dan diluar ekspektasiku, ibu tersenyum lalu mengelus puncak kepalaku, dibalik senyumnya, sebuah ketenangan mengalir menyelimuti atmosfer, dan dadaku terasa longgar setelah banyak yang menghimpit. Ia berkata bahwa; yang datang akan selalu pergi, dan kita harus selalu siap untuk melepas, karena kepergiaan akan selalu meninggalkan luka. Begitupun yang berjodoh pun akan tetap terpisah.
Aku lega, melihat reaksi ibu ku. Kisahku tidak sebanding dengannya yang sudah hidup berpuluh tahun sebelumku, yang tentu lebih banyak mengenyam pedih, duka, luka, suka dan bahagia. Aku akan banyak belajar dari ibu.
Sesudah sholat maghrib, seperti aktivitasku setiap hari, aku pergi ke kampus, bertemu mereka yang punya banyak cerita, dan mereka lah salah satu penguatku. Dengan bergurau, aku jadi lupa.
Tapi tiba-tiba ponselku berbunyi, tanda pesan masuk whatsapp, tidak ada nama pengirim; artinya aku tidak menyimpan nomornya dikontakku. Dan foto profilnya pun tidak ada. Aku coba membukanya, dan aku baru sadar ketika pesan itu berisi nama panggilanku yang dulu kamu sematkan untukku.
Kenapa kamu datang lagi? Aku muak, dan aku malas.
Tapi tiba-tiba ponselku berbunyi, tanda pesan masuk whatsapp, tidak ada nama pengirim; artinya aku tidak menyimpan nomornya dikontakku. Dan foto profilnya pun tidak ada. Aku coba membukanya, dan aku baru sadar ketika pesan itu berisi nama panggilanku yang dulu kamu sematkan untukku.
Kenapa kamu datang lagi? Aku muak, dan aku malas.
Kemudian tidak lama temanmu mengabariku bahwa kamu sedang sakit. Aku jadi ingat kamu tinggal sendirian di kota ini, dulu ketika kamu sakit karena kecelakaan, aku lah yang merawatmu, yang seolah jadi ibumu disetiap waktu. apa kamu ingat itu?
Aku memikirkan keadaanmu, meski sebenarnya aku tidak mau lagi ada hubungan dan berinteraksi denganmu. Tapi aku masih punya hati, aku masih punya rasa kasihan, apalagi aku tau sendiri bagaimana kamu di kota ini. aku membalas pesanmu, menanyakan ada perlu apa menghubungiku.
"kamu dimana? aku sakit. kamu nggak mau ngerawat aku?" ucapmu seakan aku ini memang diperlukan untuk merawatmu saja. aku jadi berburuk sangka, mungkin selama ini kamu mendekatiku hanya untuk hal ini, kamu tau aku adalah orang yang suka tidak tega melihat orang kesusahan. kalo memang seperti itu, aku bersedia membantu, tapi tidak dengan cara datang kerumahku dan memintaku.
Lalu apa kabar perempuan yang kemarin? perempuan yang membuatmu meninggalkanku. apa dia tidak sanggup merawatmu?
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu