Serupa langkahmu yang berderap ketika melatih paskibra, begitupun langkahmu yang semakin jauh.
Suara hentakan nya lambat laun melirih, dan akhirnya tak terdengar sama sekali.
Apa kabar kamu?
Percayalah, aku masih mengingat setiap kenangan yang pernah kita ukir.
Tak ada kesedihan, pertengkaran, ataupun gerutuan. Yang ada hanya kata-kata gurauan, perdebatan yang menggemaskan, dan tatapan.
Tatapan itu meremuh denyut nadiku, menghantamkan sesuatu pada perasaanku, dan merengkuh seluruh kenyamananku.
Kamu yang berlari menjauh tanpa menoleh ke belakang, sedang ada aku disini yang memintamu untuk kembali.
Tapi kenyataan telah membuatmu enggan untuk datang, ketika dengan pergi membenarkan semua keadaan.
Kenapa tak kamu genggam saja tanganku, dan membawaku lari?
Kenapa kamu berlari sendiri, dan menghancurkan hati.
Seperti diujung pantai waktu itu,
Kamu menutup kepalaku dengan jaketmu, melindungiku dari teriknya matahari siang itu.
Kenapa kamu tak melakukannya sekarang?
Kenapa kamu memilih berlari dan menghancurkan hati.
Mengapa sekejap semuanya berubah, dan aku hanya bisa mendengar derap langkahmu yang semakin lirih.
Teruntuk monster senjaku, yang selalu menjadi bahan tulisanku. Kamu layak dimiliki oleh orang yang baik, dan orang itu pasti beruntung memiliki laki-laki sepertimu.
Teruntuk yang sedang bersamamu, dia harus baca tulisanku, betapa monster senjaku sangat mengagumkan.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu