Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

Karena kepergianmu

Saatnya kamu tau, ada luka-luka yang masih menganga lebar. Saatnya kamu tau, ada duka yang masih berkabung. Miris, luka dan duka, menghantam karang yang tadinya berdiri kokoh. tak elak runtuh bersama hempasan ombak laut. hancur, berkeping-keping. Cuitan burung terasa lirih meski nyaring, Deburan ombak terasa hanya nyeri meski melukai, Gajah terasa belalang yang terbang dan hilang, semati rasa itu aku. Sebelum kamu datang, hati ini seolah masih hilang. Sebelum kamu datang, semuanya terasa jalang. Miris, Luka dan duka mencerca seluruh hariku, yang awalnya baik-baik saja, menjadi tak lebih dari ruang hampa. Sepi, jauh dari hiruk pikuk keramaian. Berjalan di atas batu bara, layaknya menapak di tumpukan jerami, Memegang duri, layaknya meraih sebongkah salju, Menghirup tai, layaknya mencium aromateraphy, semati rasa itu aku. Karena kepergianmu, semua menjadi masa bodoh.

banyak hal yang pernah kita lalui dulu, berfase-fase

Sabar hati, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan orang yang rindukan. seperti sudah tersinkron, hati dan bibirku jadi sejalan kali ini. Aku tersenyum dikala ingatanku mengingat, "besok kita akan bertemu". Ternyata ada tahap-tahap sebelum melakukan project yang sedang kita rencakan, dan hal itu semakin membuat banyak waktuku untuk bertemu denganmu. Kukira hanya sekali kita bertemu; tepatnya pada saat project itu dikerjakan. tapi ternyata kita perlu meeting dulu, membicarakan tema, rancangan, dan sebagainya yang diperlukan pada hari H. Aku merasa sedang menjadi perempuan yang baru jatuh cinta, sedangkan ku sudah punya cinta ini jauh sebelum aku terjatuh. Banyak hal yang pernah kita lalui, dulu, berfase-fase. Dari saat paling awal, ketika kita pertama kali mengenal, berbincang ringan mengenai pekerjaan, pendidikan, dan basa-basi yang membuatku sering menjadi tidak waras. Kemudian ketika kamu mengungkapkan perasaan, setelah banyak tulisan tentang keraguanku mengenai pe...

Seolah sehari serasa seabad

Kemarin kita berbicara, seolah hari itu sudah habis untuk kata. Kemarin kamu membiarkan ku menatapmu puas, tanpa menggangguku yang tidak waras. Hmm rindu. Rasanya bullshit. Saat kita sudah bertemu. Apa yang dirindukan? Dari cecenguk yang tiap kali kuajak bicara selalu tidak nyambung. Menyebalkan. Apa yang dirindukan? Dari suara cempreng yang selalu buat aku butuh untuk ganti gendang telinga. Resek. Apa yang dirindukan? Dari gurauanmu yang bikin selera humorku kampungan. Gila. Ya gila. Ternyata semua itu kurindukan, ketika baru kemarin kita bertemu. Seolah sehari serasa seabad.

Secuil hati yang ingin pergi

Riuh khalayak menyeruak seolah aku ada diantara mereka, Namun nyatanya aku tetap sendiri menikmati secuil hati yang ingin pergi. Terkadang, memang raga sedang berjalan, Tapi hati masih terdiam dan meredam. Secuil hati yang ingin pergi, Tak mampu berkutik karena hierarki ego, Mengapa tak dihancurkan saja? Mengapa tak dipatahkan saja? Jika nyatanya bersumpah tetap tak dipercaya. Siapa yang mau datang hanya untuk pergi? Tak ada. Tapi, merenung membuat seruan hati terdengar sangat gamblang. "Aku ingin pergi, aku ingin pergi. Aku lelah bergelut sendiri." Maka, sang raha hanya bisa diam. Ketika melihat hati yang meronta hendak pergi. Terperangkap dalam sunyi, karena seonggok hati yang tak tau diri. "Hei hati, mengapa kau tak mengalah?" Seolah lelah juga, raga ingin meredam hati. Berhenti. Mungkin bisa membuatnya baik-baik saja. Tapi tiba-tiba hati menangis sesenggukan, menatap raga yang kebingungan. "Apa yang kulakukan selama ini jika tidak berhen...

Ternyata kepergiaanmu masih menjadi mimpi burukku selama ini

Mengulang sendu, Ketika rindu, sedang bertemu. Malam itu sangat syahdu, Kamu menatapku penuh arti, dan ku mati kutu. Mengapa kamu selalu membuatku jatuh untuk kesekian kalinya, Mencuri rindu hanya untuk mengunciku dalam kesunyian. Setiap kuberbaring dan menatap langit-langit atap, Ada matamu yang mengedip dan mengisyaratkan bahwa nanti kamu akan kembali. Tapi, Jarak mengataiku bodoh. Mengapa aku masih berseloroh, Sedang kenyataannya aku kalah oleh yang mengataiku bodoh. Kamu sudah pergi, Sekedar menuai rindu dini hari, Seperti yang kita lakukan setiap hari, Menjadi duka tiap ku berangkat tidur. Terkadang aku terisak, Dan tiba-tiba terbangun. Ternyata kepergianmu masih menjadi mimpi burukku selama ini.

Selamat beristirahat, jangan lupa nanti kita bertemu

Beristirahatlah, Kemarin kamu sudah banyak bergulat dengan kotak-kotak berwarna putih, hanya mengkonsumsi air putih, dan nafsu makan untuk jatah nasi kotak pun tak kamu sentuh. Akh, semoga kamu tidak kurusan ya. Kamu terlihat sangat menggemaskan kalau pipi bakpao dan lengan bak paha ayam itu kulihat difoto. Sekarang saatnya kamu beristirahat, menidurkan punggungmu, memejamkan matamu, dan menikmati tidurmu. Aku janji tidak akan mengganggu kenikmatan yang baru kamu dapat setelah 2 hari ini. Pasti matamu sudah sangat sayu kali ini, meski aku tidak bisa melihatnya secara langsung. Biarkan aku mengandai-andai. Foto yang kamu kirimkan, yang masih bergulat dengan seluruh anggota-yang sama nasibnya denganmu, membuktikan bahwa kamu sedang lelah-lelahnya. Jaga kesehatanmu, nanti saban hari kita akan bertemu. Ada kegiatan yang akan kita lakukan bersama temanku juga, mungkin seyogyanya itu alasan paling logis agar aku bisa memandangmu secara langsung, setelah selama ini kita enggan saling a...

Membabi buta relungmu, dan menghunus ingatanmu

Sudah kemarin loh kita seluruh rakyat Indonesia menyalurkan hak suara,  berbondong-bondong duduk di kursi yang sediakan, menunggu giliran nama dipanggil, dan masuk ke dalam bilik, mencoblos dia yang dipilih dan diyakini bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik lagi. Sudah kemarin loh, dan kamu sekarang masih bergelut dengan para sebagian orang yang taat akan tugas negaranya. Sudah kewajibanmu, dan aku tau kamu sangat menyukai kegiatan yang berhubungan dengan negara tercinta kita ini. Kita pernah duduk berseberangan, saling menatap dan bertukar pikiran, sesekali kamu melempar candaan dan memberiku wejangan. Dan saat itu aku tau kamu ingin masuk ke dunia politik, katamu banyak tantangan disana, banyak yang menurutmu perlu di benahi, tikus-tikus yang kamu benci, bergemerutuk jika kamu mengingatnya. Mungkin ini sebuah batu loncatan untukmu semakin maju, dan menjadi apa yang diharapkan olehmu dulu. Semoga. Semangat! Redupmu akan diganti pagi yang cerah, Lelahmu akan digant...

Kamu pergi menyeret duka, dan kembali dengan senyum suka cita

Ketika kamu bertanya, Masihkah hatiku sama? Perlu kamu tilik dahulu manik mataku, Karena dia yang akan menjawab seluruh pertanyaanmu. Sejak dirimu berlari, Aku terdiam menatap punggungmu yang menjauh, Karena ku tau kamu akan kembali, Kamu akan paham bahwa aku tak butuh ragamu, tapi hatimu. Kamu pergi menyeret duka, Dan kembali dengan senyum suka cita. Aku tak mengapa, Ketika kamu kembali tanpa kata maaf. Lihat, betapa aku kuat, Menunggumu hingga berdarah-darah. Dengar, betapa aku sangar, Menantimu hingga tak tau waktu. Aku hanya ingin kamu tau, Aku pernah berpikir untuk jatuh, Tapi kuingat lagi jejakku sudah sejauh ini, Dan aku tidak mungkin mengakhiri dengan tangis kekalahan. Tidak. Aku masih menunggumu, mengertilah.

Aku bercerita tentangku yang tanpamu

Pada Oktober 2017, aku masih ingat kita mengobrol lewat telpon ketika aku dalam perjalanan pulang, aku meminta waktumu sebentar untuk berbincang, karena memang kebiasaan kita waktu itu saling berkabar lewat telpon, dan sekedar bergurau. Kemudian aku membahas "kita", dan tiba-tiba suaramu berubah, tak lagi sehumble sebelumnya, kamu memilih mengakhiri percakapan setelah saling diam dalam keheningan. Hanya 24 menit, yang kuanggap sangat mengesankan, aku bisa mendengar suaramu, hingga kusadar hari itu adalah terakhir kita berkabar lewat suara, karena setelah itu kita sudah tak punya cara untuk menyapa, sekedar "hai" pun kamu berpikir berulang kali melakukannya. Hingga hari ini aku tidak bisa menyembunyikan bahagiaku, ketika suara yang sudah lama tak kudengar itu bisa menyimpulkan senyumku. Suara itu, sungguh aku hampir lupa, tapi candamu masih sama recehnya seperti dulu, dan aku selalu tertawa mendengarnya. Kita tak secara terang-terangan bertanya kabar, tapi kita sal...

Pelukan milikmu menghangatkan tubuhku kala itu

Baca sebelumnya : Aku hanya menunggumu datang untuk menetap Sore ini hujan turun dengan derasnya, milyaran bulir bening menghujam coklatnya tanah, menguarkan bau khas hujan dan suara rintikan yang perlahan semakin cepat, terhitung menit air sudah menggenang, dan kamu mengajakku melewatinya dengan tawa. Mengenyahkan bahwa rintikan hujan itu terasa sakit saat mengenai kulit. Pelukan milikmu menghangatkan tubuhku kala itu, mencuri segala rasa nyamanku, dan aku terbuai oleh napas hangatmu yang menyebar ke seluruh wajahku. Ku tak menyangka, kita sedekat ini, tak ada jarak sejengkal yang memisahkan kita. Namun semua itu tak bertahan lama, ketika ponselmu bergetar cukup panjang, artinya ada panggilan masuk. Aku dan kamu pun tau, siapa pelakunya, kamu terlihat berdecak kesal. "Ada apa lagi?" tanyaku, pasti sebelumnya mereka sudah bertengkar, dan ku tau kekasihmu itu akan terus menghubungimu meski kamu sudah bilang untuk tidak diganggu. Pertanyaanku tidak kamu jawab juga, aku m...

Seandainya kamu mau datang

Sejak kemarin aku rasa kamu sedang berdamai dengan keadaan. Kita berbincang tentang yang lalu, dan kamu tertawa mengingatnya, kamu tidak menghindar seperti biasanya ketika ku mulai membuka cerita masa lalu. Aku berusaha membuatmu semakin ingat, kenangan-kenangan yang ada kutunjukkan dan; ini lah aku yang masih menyimpan rapat tentangmu, yang tak bisa lupa begitu saja. Tanpa kuduga, kamu masih mengingatnya, kamu menimpali apa yang ku ceritakan. Seperti yang kuingat beberapa hari lalu, perihal kita pergi ke rumah makan, dan masakannya yang kurang cocok di lidah, kamu diam-diam memotretku, dan ternyata aku masih menyimpan hasil jepretan itu. Masih tersimpan rapi bersama kenangannya yang entah dapat terulang kembali, atau tidak sama sekali. Seolah menyerah dengan rasa, kita berbincang cukup lama sampai saat ini, kita bergurau dan berujar ringan. Ingin rasanya bertanya bagaimana perasaanmu sekarang padaku? Masih sama seperti yang kupunya, atau sudah habis oleh hati lain yang mengalihkanmu ...