Kemarin kita berbicara, seolah hari itu sudah habis untuk kata.
Kemarin kamu membiarkan ku menatapmu puas, tanpa menggangguku yang tidak waras.
Hmm rindu. Rasanya bullshit. Saat kita sudah bertemu.
Apa yang dirindukan? Dari cecenguk yang tiap kali kuajak bicara selalu tidak nyambung. Menyebalkan.
Apa yang dirindukan? Dari suara cempreng yang selalu buat aku butuh untuk ganti gendang telinga. Resek.
Apa yang dirindukan? Dari gurauanmu yang bikin selera humorku kampungan. Gila.
Ya gila. Ternyata semua itu kurindukan, ketika baru kemarin kita bertemu.
Seolah sehari serasa seabad.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu