Langsung ke konten utama

Pelukan milikmu menghangatkan tubuhku kala itu

Baca sebelumnya : Aku hanya menunggumu datang untuk menetap

Sore ini hujan turun dengan derasnya, milyaran bulir bening menghujam coklatnya tanah, menguarkan bau khas hujan dan suara rintikan yang perlahan semakin cepat, terhitung menit air sudah menggenang, dan kamu mengajakku melewatinya dengan tawa. Mengenyahkan bahwa rintikan hujan itu terasa sakit saat mengenai kulit.
Pelukan milikmu menghangatkan tubuhku kala itu, mencuri segala rasa nyamanku, dan aku terbuai oleh napas hangatmu yang menyebar ke seluruh wajahku. Ku tak menyangka, kita sedekat ini, tak ada jarak sejengkal yang memisahkan kita. Namun semua itu tak bertahan lama, ketika ponselmu bergetar cukup panjang, artinya ada panggilan masuk. Aku dan kamu pun tau, siapa pelakunya, kamu terlihat berdecak kesal.

"Ada apa lagi?" tanyaku, pasti sebelumnya mereka sudah bertengkar, dan ku tau kekasihmu itu akan terus menghubungimu meski kamu sudah bilang untuk tidak diganggu.

Pertanyaanku tidak kamu jawab juga, aku menilik pesan kalian, dan sekilas aku membaca rencana hari bahagia kalian. Jarakku yang tadinya begitu dekat denganmu, secara refleks mundur teratur dua langkah, hingga tanganmu yang tadi masih melingkar terlepas begitu saja. Pandanganmu yang tadinya fokus ke ponsel langsung beralih ke arahku.

"Sebentar, aku akan jelasin setelah ini." Setelah selesai dengan ponselnya, kamu menatapku dan coba meraih tanganku.

Kenapa aku begini? Bukannya lambat laun ini semua akan terjadi juga. Tidak ada perempuan yang mau digantung lamanya seperti ini, dia pasti butuh kepastian. Dan aku tidak pernah punya hak untuk melarang.
Mataku terasa perih, menahan airmata yang hendak jatuh. ini kabar bahagia bukan? kenapa aku merasa sangat sedih. Sebentar lagi tidak ada tawa receh diantara kita, tidak ada tunggu menunggu di cafe biasanya, tidak ada pertemuan untuk menguar rindu. Tidak akan ada lagi.

Aku tersenyum kearahmu, "Aku ikut senang dengan kabar baiknya." Ucapku. Aku tau semua ini akan berakhir, hubungan sia-sia ini tidak punya penghujung, dan aku harus siap itu. "Aku pulang dulu."

"Kenapa kamu tidak mau dengar penjelasanku dulu?" Ucapmu. Kamu mendekat ketika tangisku tak bisa terbendung, sakit rasanya, dada sangat sesak, terasa dihimpit oleh batu besar dan membuatku kesulitan bernapas.

Kamu memandangku, dimata itu aku bisa membaca bahwa ada kegusaran, tapi kamu enggan mengungkapkannya. Kita saling terdiam hingga beberapa detik. Dan kamu mengecup keningku lama, "Aku mencintaimu, jangan pergi."

Aku luruh dalam luka sekaligus suka. Kamu mencintaiku, dan kamu memintaku untuk tak pergi. Lalu bagaimana dengan isi percakapanmu tadi dengan kekasihmu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...