Langsung ke konten utama

Membabi buta relungmu, dan menghunus ingatanmu

Sudah kemarin loh kita seluruh rakyat Indonesia menyalurkan hak suara, 
berbondong-bondong duduk di kursi yang sediakan, menunggu giliran nama dipanggil, dan masuk ke dalam bilik, mencoblos dia yang dipilih dan diyakini bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik lagi.
Sudah kemarin loh, dan kamu sekarang masih bergelut dengan para sebagian orang yang taat akan tugas negaranya. Sudah kewajibanmu, dan aku tau kamu sangat menyukai kegiatan yang berhubungan dengan negara tercinta kita ini.
Kita pernah duduk berseberangan, saling menatap dan bertukar pikiran, sesekali kamu melempar candaan dan memberiku wejangan.
Dan saat itu aku tau kamu ingin masuk ke dunia politik, katamu banyak tantangan disana, banyak yang menurutmu perlu di benahi, tikus-tikus yang kamu benci, bergemerutuk jika kamu mengingatnya.
Mungkin ini sebuah batu loncatan untukmu semakin maju, dan menjadi apa yang diharapkan olehmu dulu. Semoga. Semangat!
Redupmu akan diganti pagi yang cerah,
Lelahmu akan diganti suara yang lantang,
dan keringatmu akan diganti embun basah yang dingin dan menyegarkan.

Seperti yang kamu bilang, akan banyak tantangan, dan aku takut kamu menyerah dan kesakitan, aku hanya takut kamu kelelahan dan lupa haluan. Karena aku sudah tak bersamamu, aku sudah bukan sandaranmu, aku hanya teman tawamu sebentar, dan tak mungkin bisa saling mengejar.
Bersabarlah, sejatinya aku ada disana bersamamu, meski segelintir. Namun akan terasa menghangatkan hatimu jika mengingatku. Membabi buta relungmu, dan menghunus ingatanmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...