Saatnya kamu tau,
ada luka-luka yang masih menganga lebar.
Saatnya kamu tau,
ada duka yang masih berkabung.
Miris,
luka dan duka, menghantam karang yang tadinya berdiri kokoh.
tak elak runtuh bersama hempasan ombak laut.
hancur, berkeping-keping.
Cuitan burung terasa lirih meski nyaring,
Deburan ombak terasa hanya nyeri meski melukai,
Gajah terasa belalang yang terbang dan hilang,
semati rasa itu aku.
Sebelum kamu datang,
hati ini seolah masih hilang.
Sebelum kamu datang,
semuanya terasa jalang.
Miris,
Luka dan duka mencerca seluruh hariku,
yang awalnya baik-baik saja, menjadi tak lebih dari ruang hampa.
Sepi, jauh dari hiruk pikuk keramaian.
Berjalan di atas batu bara, layaknya menapak di tumpukan jerami,
Memegang duri, layaknya meraih sebongkah salju,
Menghirup tai, layaknya mencium aromateraphy,
semati rasa itu aku.
Karena kepergianmu, semua menjadi masa bodoh.
ada luka-luka yang masih menganga lebar.
Saatnya kamu tau,
ada duka yang masih berkabung.
Miris,
luka dan duka, menghantam karang yang tadinya berdiri kokoh.
tak elak runtuh bersama hempasan ombak laut.
hancur, berkeping-keping.
Cuitan burung terasa lirih meski nyaring,
Deburan ombak terasa hanya nyeri meski melukai,
Gajah terasa belalang yang terbang dan hilang,
semati rasa itu aku.
Sebelum kamu datang,
hati ini seolah masih hilang.
Sebelum kamu datang,
semuanya terasa jalang.
Miris,
Luka dan duka mencerca seluruh hariku,
yang awalnya baik-baik saja, menjadi tak lebih dari ruang hampa.
Sepi, jauh dari hiruk pikuk keramaian.
Berjalan di atas batu bara, layaknya menapak di tumpukan jerami,
Memegang duri, layaknya meraih sebongkah salju,
Menghirup tai, layaknya mencium aromateraphy,
semati rasa itu aku.
Karena kepergianmu, semua menjadi masa bodoh.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu